
"Apa yang terjadi?" tanya Alex pada salah satu pelayan di rumah itu.
Mereka melihat sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumah Dion, 2 orang petugas rumah sakit tengah menurunkan jenazah dari dalam mobil itu.
"Tuan Dion meninggal dunia," jawab si pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Apa?" Daffa dan Alex tak bisa percaya dengan apa yang telah terjadi.
Mereka mempercepat langkah mereka dan masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah terlihat istri dan anak Dion tengah menangisi jenazah yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Daffa dan Alex langsung menghampiri jenazah tersebut, beberapa orang di dalam rumah itu ada yang mengenali Daffa dan Alex.
Mereka membiarkan Daffa yang kini telah duduk di samping jenazah.
Alex menyingkap kain kafan yang menutupi wajah Dion.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," lirih Daffa dan Alex.
Mereka merasa kasihan pada keluarga yang ditinggalkan, jenazah Dion terbakar wajahnya tak lagi dapat dikenali.
"Sepertinya ini bukan kecelakaan biasa, kemungkinan besar memang ada yang membunuh Dion, agar masalah yang tengah kita selidiki tidak terungkap dalangnya," bisik Alex pada Daffa.
Daffa mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Alex, dia juga berpendapat sama dengan asisten pribadinya itu.
"Apakah kecelakaan ini sudah diselidiki?" tanya Alex pada keluarga Dion.
"Sudah, Tuan. Polisi mengatakan bahwa kecelakaan ini terjadi karena mas Dion mengantuk saat mengemudikan mobilnya, sehingga dia dan mobilnya masuk ke dalam jurang," jawab istri Dion.
Daffa dan Alex saling melempar pandangan, mereka menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh istri Dion.
Sejenak mereka ikut duduk bersama pelayat yang mulai berdatangan ke kediaman Dion.
Mereka pun berpamitan pada ahli musibah setelah penyelenggaraan jenazah Dion selesai.
Daffa dan Alex langsung masuk ke dalam mobil setelah para pelayat mengantarkan jenazah Dion ke TPU terdekat dari rumahnya.
"Aku yakin, ini sudah direncanakan oleh dalang penjebakan yang aku alami," ujar Daffa pada Alex saat mereka tengah berada di dalam perjalanan.
"Benar, Tuan." Alex setuju dengan pendapat Daffa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Daffa merasa buntu dalam menyelesaikan masalah ini.
"Untuk sementara waktu, kita pura-pura tidak mencari pelaku dibalik semua ini, sehingga orang itu kembali menunjukkan taringnya," ujar Alex.
"Maksud kamu?" tanya Daffa.
"Kita harus menunjukkan kepada pelaku, bahwa kita percaya pelaku di balik semua ini adalah Dion, dan kita beraktivitas seperti biasa seolah-olah melupakan peristiwa ini," jelas Alex.
__ADS_1
"Lalu, jika dia kembali mengedarkan video itu?" tanya Daffa cemas. s
"Tuan tenang saja, saya sudah hapus semua rekaman video itu di setiap perangkat lunak yang ada dengan bantuan hacker terbaik," ujar Alex.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut bagaimana rencanamu saja," ujar Daffa setuju.
Daffa sampai di rumah pada waktu makan malam tiba, Adeeva kini duduk di depan meja makan bersama Rossa.
Dia terlihat tak bersemangat sama sekali untuk menikmati menu makan malam yang telah terhidang di hadapannya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Rossa pada Adeeva.
Meskipun dia baru saja kenal dengan Adeeva, Rossa sangat sayang pada wanita yang diketahuinya menantunya.
Apalagi Daffa juga mengatakan saat ini Adeeva tengah mengandung anak Daffa. Hal ini membuat Rossa semakin sayang pada Adeeva.
Rossa bukanlah tipe orang yang membedakan seseorang dengan harta ataupun tahta, dia selalu menyamakan siapa pun. Di matanya membedakan seseorang itu bukan dari harta atau kastanya melainkan dari hatinya.
"Mhm, a-aku enggak nafsu makan, Mi." Dia merasa tak bersemangat karena dia memikirkan Daffa.
Entah mengapa dia merasa aman dan tenang jika Daffa ada di sampingnya.
"Malam, Mi." Daffa baru saja sampai di rumah.
Dia langsung masuk ke ruang makan karena pelayan mengatakan mami dan Adeeva tengah berada di sana.
Dia sendiri tidak tahu apa istimewanya pria yang telah. menolongnya itu, rasanya ada sesuatu yang membuat dirinya bahagia jika bersama Daffa.
"Kamu sudah makan?" tanya Daffa pada Adeeva.
"Dari tadi dia tidak mau makan, coba deh kamu suapin dulu, kasihan anak kalian," ujar Rossa.
Adeeva memegangi perutnya yang masih rata.
Hatinya bergetar mendengar ucapan Rossa. Jantung seketika berdetak dengan cepat.
"Benarkah apa yang dikatakan mami?" tanya Daffa pada Adeeva.
"Mhm." Adeeva hanya bergumam.
"Ya udah, tunggu sebentar. Aku cuci tangan dulu," ujar Daffa.
Hati Daffa tergerak untuk menyuapi Adeeva, dia sendiri heran pada dirinya sendiri yang tiba-tiba melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
Daffa melangkah menuju wastafel cuci piring, lalu dia mencuci tangannya.
Setelah itu dia duduk di samping, Adeeva.
Dia mengambil piring yang ada di hadapan Adeeva, lalu dia mulai menyuapi wanita yang beberapa hari ini selalu membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
__ADS_1
Rossa tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh putranya, dia merasa wanita yang dia tahu saat ini menantunya itu sangat cocok dengan putranya, bahkan dia merasa Sangat banyak berubah karena Adeeva meskipun baru beberapa hari bertemu.
"Mami duluan ke kamar, ya. Kalian lanjut saja makannya," ujar Rossa setelah dia menyelesaikan makan malamnya.
"Iya, Mi." Daffa masih fokus menyuapi Adeeva.
Dengan malu, Adeeva menerima suap demi suapan dari Daffa, hatinya merasa menghangat begitu saja.
Dia merasa ada kasih sayang yang tulus mengalir pada janin yang kini ada di dalam kandungannya.
"Kamu harus banyak makan makanan yang sehat, supaya bayi yang ada di dalam kandunganmu sehat," ujar Daffa pada Adeeva.
Adeeva menatap dalam pria tampan yang ada di hadapannya, ketampanan Daffa tak beda jauh dengan ketampanan Axel, tapi Adeeva tidak dapat merasakan rasa yang dirasakannya saat bersama Daffa jika bersama Axel.
Adeeva memang merasa ada yang berbeda pada diri Daffa.
Sesaat Adeeva mengingat masa-masa Axel menyuapinya saat berada di restoran waktu itu, saat itu Adeeva merasa biasa saja.
"Syukurlah, makanannya habis, apakah kamu masih mau makan?" tanya Daffa.
Adeeva menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Daffa.
"Kalau begitu, kamu tunggu aku, ya." Daffa pun mengisi nasi ke dalam piring bekas Adeeva tadi, lalu dia pun mulai menyantap menu makan malam dengan piring bekas Adeeva, hal yang tidak pernah dilakukannya.
Adeeva menatap heran dengan apa yang dilakukan oleh Daffa.
"Kenapa dia tidak menggunakan piring yang baru?" gumam Adeeva di dalam hati.
Adeeva terus memandangi wajah tampan Daffa sepanjang pria tampan itu menikmati menu makan malamnya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Daffa pada Adeeva setelah Daffa menghabiskan makanannya.
"Mhm, ti-tidak a-ada," jawab Adeeva gugup.
"Jangan liatin aku seperti itu, nanti kamu bisa naksir aku," ujar Daffa bercanda.
Usai makan malam, mereka pun berpindah ke kamar.
Adeeva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah dia selesai menunaikan ibadah shalat isya.
Tanpa disadarinya Daffa juga ikut berbaring di sana, tak menunggu lama Daffa pun terlelap karena lelah menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya.
Saat tengah malam, Daffa terbangun dari tidurnya, dia meraba tempat tidur di sampingnya. Dia menyadari Adeeva tak berada di atas tempat tidur.
Dia terbangun.
"Di mana dia?" gumam Daffa.
Bersambung...
__ADS_1