
Frans mengantarkan Ainun pulang ke apartemennya, selama di Bali, Ainun tinggal di sebuah apartemen. Meskipun dia hanya seorang karyawan dia tidak mau tinggal di rumah kontrakan atau kost-kostan agar lebih hemat, dia lebih memilih untuk tinggal di sebuah apartemen supaya dia dapat hidup senang.
Ainun bosan hidup susah, selagi dia memiliki pekerjaan dia akan hidup seperti wanita kaya lainnya.
"Terima kasih," ucap Ainun saat dia turun dari mobil milik Frans.
"Sama-sama, jangan lupa, jika kamu butuh pekerjaan datanglah ke kafe milikku," ujar Frans pada Ainun.
"Ya, aku akan menghubungimu," ujar Ainun dengan senang hati.
Kegalauan yang dirasakannya tadi kini hilang begitu saja, Ainun merasa mendapat angin segar dengan tawaran yang diberikan oleh Frans.
Dengan semangat keesokan harinya, pukul 15.00 Ainun bersiap untuk pergi ke kafe milik Frans.
Menurut cerita Frans, kafe miliknya buka di atas pukul 16.00 hingga larut malam.
Biasanya karyawan akan datang bekerja sebelum pukul 16.00.
Awalnya Ainun merasa heran dengan jam buka kafe itu, tapi Frans mengatakan bahwa kafe miliknya rame setelah maghrib sehingga dia memutuskan untuk membuka kafe itu sejak pukul 16.00.
Ainun percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Frans.
Sebelum pukul 16.00, Ainun telah sampai di kafe yang dimaksud oleh Frans.
Kafe itu berada di sebuah gedung bertingkat.
Ainun pun masuk ke dalam kafe tersebut.
Ainun merasa ada yang berbeda dengan kafe itu, dia memang melihat beberapa bangku dan meja kafe di sana, tapi ada sesuatu membuatnya merasa aneh.
Ainun mengabaikan perasaannya yang merasa kafe itu berbeda dengan kafe-kafe lain pada umumnya.
"Permisi, Kak," sapa Ainun saat berada di dalam kafe.
Dia mendapati seorang wanita duduk di belakang meja yang terlihat seperti kasir.
"Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu," balas wanita yang mengenakan baju kurang bahan dan terlihat sangat s*ksi itu.
"Saya mau bertemu dengan pria yang bernama Frans," ujar Ainun langsung.
"Oh, anda mau bertemu dengan Tuan Frans?" tanya wanita itu.
"Iya, Tuan Frans," lirih Ainun memperbaiki ucapannya.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan Tuan Frans?" tanya si wanita.
"Ya, kemarin saya disuruh datang ke sini oleh Tuan Frans," ujar Ainun.
"Baiklah, tunggu sebentar, ya," ujar si wanita.
Wanita itu mengambil ponselnya lalu menghubungi Frans, dia memberitahu kedatangan Ainun.
Tak berapa lama Ainun menunggu, seorang wanita berpakaian minim sama dengan wanita yang ditemui Ainun sebelumnya datang menjemput Ainun.
"Kakak yang mau bertemu dengan Tuan Frans?" tanya si wanita itu.
__ADS_1
"Iya," sahut Ainun.
"Mari ikut saya," ajak si wanita itu.
Ainun merasa ada yang berbeda dengan penampilan 2 wanita yang berpenampilan s*ksi itu.
Namun, Ainun mengabaikan perasaannya yang curiga dengan tempat itu.
Akhirnya Ainun mengikuti langkah si wanita.
Mereka masuk ke sebuah ruangan, di sana Ainun mulai sadar bahwa kafe yang dimaksud oleh Frans berupa sebuah diskotik.
Ainun mulai mengerti kafe yang terlihat dari luar hanya sebuah rekayasa untuk menutupi diskotik yang ada di sana.
Setelah melewati ruangan itu, mereka pun menaiki anak tangga menuju lantai selanjutnya.
Di sana Ainun melihat beberapa tempat yang disekat agar tidak terlihat kegiatan orang di dalamnya.
Ainun menautkan kedua alisnya, dia mulai bertanya-tanya tempat apa sebenarnya yang kini dikunjunginya.
Seketika Ainun terdiam di tempatnya.
Jantungnya mulai berdetak kencang.
"Tempat apa ini sebenarnya?" gumam Ainun di dalam hati.
"Kak," panggil si wanita membuyarkan lamunan Ainun.
"Eh," lirih Ainun tersadar.
Mereka pun masih menaiki anak tangga menuju lantai 5.
Di lantai 5 itu, Ainun melihat beberapa kamar, sekilas dia melihat kamar-kamar yang berjejer di sana seperti sebuah penginapan.
"Mari, Kak." Si wanita mengajak Ainun masuk ke sebuah ruangan.
Ainun ikut masuk ke ruangan itu, di sana dia melihat Frans tengah duduk di sebuah sofa.
Wanita itu mengajak Ainun untuk ikut duduk di sofa itu.
"Silakan duduk, Ainun," ujar Frans mempersilakan Ainun untuk duduk.
Dengan bimbang Ainun pun duduk di sofa yang ada di hadapan Frans.
"Selamat datang, Ainun," ujar Frans menyambut kedatangan Ainun.
Ainun berusaha mengangkat bibirnya, dia terpaksa untuk tersenyum.
Saat ini dia merasa tempat yang dikunjunginya saat ini bukanlah tempat biasa.
"Aku kira kamu tidak akan datang," ujar Frans.
"Aku memang sedang butuh pekerjaan," ujar Ainun lagi.
"Bagus, kalau begitu kamu bisa bekerja hari ini juga," ujar Frans pada Ainun.
__ADS_1
"Tapi, kemarin kamu bilang pekerjaan itu di sebuah kafe," ujar Ainun mempertanyakan tempat itu.
"Inilah kafe yang aku maksud," ujar Frans.
"Sebua diskotik?" tanya Ainun memastikan.
"Ya, begitulah. Kalau kamu mau bekerja di sini, maka kamu akan mendapatkan uang, tapi jika tidak mau kamu bisa tinggalkan tempat ini," ujar Frans memberi tawaran kepada Ainun.
Ainun pun terdiam sejenak, dia mulai berpikir. Saat ini dia memang sangat membutuhkan pekerjaan itu. Tapi, dia juga takut dijadikan wanita malam bekerja di sana.
"Bagaimana, Ainun? Apakah kamu mau tetap bekerja di sini?" tanya Frans memastikan.
"Mhm." Ainun masih terlihat berpikir.
Wanita yang tadi membawa Ainun memberi isyarat pada Ainun untuk menerima tawaran dari Frans.
Melihat hal itu, Ainun pun terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Shiren." Frans memanggil wanita s*ksi yang berada di belakang Frans.
"Berikan dia baju seragam di sini," ujar Frans memberi perintah pada si wanita.
Akhirnya wanita yang bernama Shiren itu mengajak Ainun masuk ke sebuah ruangan kecil yang ada di ruangan itu.
Di sana sudah tersedia beberapa pakaian s*ksi yang akan dikenakan oleh Ainun.
Shiren memilih sebuah gaun, lalu menyodorkannya pada Ainun.
"Pakailah," ujar Shiren.
"Gaun ini?" tanya Ainun enggan untuk mengenakannya.
"Iya, untung saja kamu mau bekerja di sini, kalau tidak keluar dari sini kamu bisa lenyap dan beralih ke alam lain," ujar Shiren.
Ainun terdiam mendengar ucapan Shiren.
"Maksud kamu?" tanya Ainun.
"Jika kamu sudah masuk ke sini, jangan harap kamu bisa keluar dari sini dengan perasaan tenang," jawab Shiren.
Ainun merasa merinding mendengar ucapan Shiren.
"Lalu apa pekerjaan yang harus aku lakukan di sini?" tanya Ainun mulai was-was.
"Mhm, paling tidak sebagai pelayan. Tapi, kalau ada pelanggan yang menginginkanmu, maka kamu harus melayani pelanggan itu sesuai keinginannya," ujar Shiren menjelaskan.
"Apa? Apakah termasuk melayani mereka di ranjang?" tanya Ainun semakin merinding mendengarkan cerita Shiren.
"Ya, begitulah," jawab Shiren.
Ainun menggelengkan kepalanya tak percaya.
Bersambung...
Ainun menatap pakaian yang di
__ADS_1