
Axel menatap tajam ke arah Kyara, dia tidak menyangka wanita itu akan berkata seperti itu, menurutnya wanita itu benar-benar gila.
"Kau jangan macam-macam, ya!" ancam Axel geram.
"Memang kenyataannya begitu, Pa. Apakah papa akan tetap menikahkanku dengan Alvaro sedangkan pria ini sudah merenggut kep*r*w*nanku," ujar Kyara.
Axel semakin frustasi dengan ucapan Kyara. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Mar, urus semua ini. Aku tidak sanggup lagi mengurus wanita gila ini," ujar Axel cuek.
Axel bersiap untuk pergi dari tempat itu, Axel hendak melangkah keluar apartemennya tanpa diduga papa dan mama Axel juga datang ke apartemen itu.
"Axel," lirih Gita.
Gita heran melihat banyak orang di apartemen sang putra.
"Mama, ada apa mama datang ke sini?" tanya Axel heran.
Tak biasanya mama dan papanya datang ke apartemen di saat dia sedang ingin menyendiri.
"Mama dan papa mau memberitahumu, kalau kami akan berangkat ke Bandung," jawab Gita.
"Kapan, Ma? Mengapa mama dan papa ke Bandung?" tanya Axel.
"Pamanmu yang di Bandung akan mengadakan acara pernikahan putrinya, jadi mama dan papa akan menghadiri acara itu," jawab Gita.
"Oh," lirih Axel.
Axel hendak membawa kedua orng tuanya keluar dari apartemennya, tapi Gita masih penasaran dengan keberadaan banyak orang di dalam apartemen putranya itu.
"Axel," lirih Gita.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Gita enggan untuk pergi.
Sama dengan Gita, Rasyid juga penasaran dengan apa yang tengah terjadi di sana.
Dia melihat Antonio tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Bukankah itu Tuan Antonio Gultom?" gumam Rasyid.
Rasyid dan Gita yang tadi hanya berdiri di ambang pintu masuk kini melangkah masuk ke dalam apartemen.
Gita juga ikut masuk mengikuti langkah sang suami.
Axel tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa menghela napas panjang.
Axel pun duduk di sebuah kursi yang ada di dekat pintu.
"Hei, Anton. Apa gerangan yang membuatmu datang ke apartemen putraku?" tanya Rasyid menyapa Antonio.
__ADS_1
"Apa? Pria itu putra dari Rasyid?" gumam Antonio di dalma hati.
Dia merasa senang mengetahui Axel putra dari salah satu rekan bisnisnya.
Rasyid ikut duduk di sofa ruang tamu setelah berjabat tangan dengan rekan bisnisnya, begitu juga dengan Gita.
"Apakah Axel putramu?" tanya Antonio memastikan.
"Ya, Axel adalah putra semata wayangku," jawab Rasyid.
"Wah kebetulan sekali," ujar Antonio sumringah.
Axel memperhatikan ekspresi pria paruh baya yang sejak tadi memaksa dirinya menikah dengan putri gilanya.
"Begini, Syid,-" Antonio menceritakan apa yang diceritakan Kyara padanya.
Dia sama sekali tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh Damar, dia berharap Rasyid akan memaksa putranya menikahi sang putri.
"Apa?" Rasyid tak percaya dengan cerita Antonio.
Dia menatap ke arah sang putra yang kini terlihat menggelengkan kepalanya. Axel berharap papa dan mamanya tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Antonio.
Rasyid menoleh ke arah seorang gadis yang kini juga duduk di sofa ruang tamu, Rasyid terpukau dengan kecantikan dan kepolosan gadis.
Wajah Kyara memang cantik, umurnya yang masih muda membuat gais itu terllihat sangat imut.
"Mungkin lebih baik aku memanfaatkan situasi ini untuk memaksa Axel menikah," gumam Rasyid di dalam hati.
Gita mengernyitkan dahinya, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Maksud papa, kita jodohkan Axel dengan putrinya Anton?" tanya Gita balik.
"Iya," bisik Rasyid.
"Mhm, baiklah, Anton. Saya dan istri akan mendiskusikan masalah ini, satu Minggu lagi kita bertemu kembali untuk membahas hal ini," ujar Rasyid.
"Om, walau bagaimanapun putra om harus bertanggung jawab untuk menikahiku," ujar Kyara nekat.
Axel semakin geram mendengar ucapan Kyara.
"Baiklah, om akan berusaha menyelesaikan masalah ini dengan Axel," ujar Rasyid berjanji pada Kyara.
"Baiklah, kalau begitu kutunggu kabar darimu secepatnya," ujar Antonio.
Rasyid menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Antonio dan semua rombongannya pun pamit meninggalkan apartemen itu.
Kini tinggallah Axel dan kedua orang tuanya serta Damar yang kini hanya bisa mematung. Dia yakin setelah kedua orang tua Axel pergi, dia bisa mati dibunuh oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
Jika saja kemarin malam, dia tidak membiarkan Kyara menginap di apartemen sahabatnya itu, maka hal ini tidak akan terjadi.
"Axel," lirih Rasyid berusaha berbicara dengan kepala dingin.
Hampir satu bulan ini Axel dan Rasyid bertengkar hanya karena Rasyid memaksa putranya untuk menikah kembali dan melupakan Adeeva.
Axel hanya menatap sang papa tanpa menjawab panggilannya. Dia berdiri dan melangkah menuju sofa dia ikut bergabung dengan kedua orang tuanya di sana.
"Bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Rasyid meminta penjelasan dari sang putra.
Axel langsung menoleh ke arah sahabatnya yang kini duduk tepat di sampingnya.
"Mar, ceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi di sini," perintah Axel pada Damar.
Akhirnya Damar pun kembali menceritakan apa yang telah terjadi tadi malam.
"Niat kami hanya ingin menolong gadis itu dari perjokian paksa yang direncanakan oleh papanya, tapi aku juga tidak menyangka gadis itu bisa berbohong dan memaksa Axel menikah dengannya," jelas Damar panjang lebar.
Damar berharap papa Axel tidak memaksa Axel menikah dengan gadis aneh itu.
Rasyid dan Gita mengangguk paham mendengar cerita dari Damar.
"Tapi, menurut ayah gadis itu terlihat baik, dia pasti memiliki alasan tertentu berbohong," ujar Rasyid mengeluarkan pendapatnya.
"Apa maksud papa?" tanya Axel pada sang papa.
Axel yakin papanya berencana untuk menyuruh dirinya menikahi wanita aneh itu.
"Mungkin tidak ada salahnya kamu menikah dengan gadis itu," ujar Rasyid.
"Tidak, Pa. Aku tidak mencintai wanita itu," ujar Axel membantah ucapan sang papa.
"Axel," lirih Gita.
Gita yang tadinya duduk di samping sang suami, kini berpindah ke samping putra tersayangnya.
Dia membelai bahu Axel dengan lembut.
"Sayang, tidak ada salahnya kamu membuka hati untuk wanita lain, sudah berbulan-bulan Adeeva pergi, hingga sekarang dia juga tidak pernah muncul dalam kehidupan kita," ujar Gita menasehati putra kesayangannya.
Axel terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Mama dan papa hanya ingin kamu move on, lupakanlah masa lalumu, dan mulailah membina rumah tangga yang bahagia, mana tahu kamu dan gadis itu berjodoh," bujuk Gita pada putranya.
Axel masih saja diam, dia tak menggubris apa yang dikatakan oleh wanita yang telah melahirkannya itu.
"Axel, papa dan mama harus pergi sekarang, kami ingin saat kami telah sampai di sini kamu sudah mengambil keputusan tentang hal ini," ujar Rasyid berpesan.
Rasyid pun berdiri, lalu mengajak sang istri keluar dari apartemen milik putranya itu.
__ADS_1
Bersambung...