Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 113


__ADS_3

Axel tersadar, lalu dia menghentikan apa yang baru saja dilakukannya.


Axel hendak berdiri dan meninggalkan Kyara, tapi Kyara langsung memegang tangan Axel.


"Bang," lirih Kyara.


Axel menoleh ke arah istri keduanya itu.


"Biarkanlah kak Adeeva bahagia, aku yakin kamu juga akan mendapatkan kebahagiaanmu jika kamu ikhlas melepaskannya," ujar Kyara.


Axel terdiam sejenak. Lalu dia pun mengusap kepala Kyara.


"Terima kasih," ucap Axel.


Setelah itu Axel pun pergi.


Kyara tersenyum.


"Semoga kita juga bisa bahagia, Bang," lirih Kyara yang masih sempat didengar oleh Axel yang berada di pintu kamar.


Axel hanya diam, dia sendiri kini mulai ragu dengan hatinya.


****


Daffa kini telah berada di depan rumah Adeeva.


Dia turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah sederhana itu.


Tok tok tok.


Daffa mengetuk pintu rumah Adeeva.


Adeeva yang baru saja menidurkan baby Ghaffar langsung berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu rumahnya.


"Daffa," lirih Adeeva.


"Aku boleh masuk?" tanya Daffa.


Adeeva pun menganggukkan kepalanya.


Daffa masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi ruang tamu.


Adeeva juga ikut duduk bersama Daffa, dia menatap Daffa menunggu pria itu menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.


Sebenarnya Adeeva sudah tidak sabar ingin mengerti keputusan Axel.


"Axel masih belum percaya kalau akulah ayah baby Ghaffar, jadi hari ini aku ingin mengajakmu dan Baby Ghaffar ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA," ujar Daffa menyampaikan keputusan dari suami Adeeva.


"Sekarang?" tanya Adeeva.


"Iya, sekarang. Memangnya kapan lagi," ujar Daffa.


"Baiklah, aku siap-siap dulu," ujar Adeeva.


Daffa mengangguk.


"Baby Ghaffar mana?" tanya Daffa sebelum membiarkan Adeeva masuk ke dalam kamarnya.


"Dia sedang tidur," jawab Adeeva.


"Oh," lirih Daffa.

__ADS_1


"Ya udah, sana siap-siap," ujar Daffa.


Tadinya Daffa ingin bermain dengan bayinya, tapi mendengar sang bayi tengah tidur, dia pun mengurungkan niatnya.


Tak berapa lama, Adeeva pun sudah siap, dia mengambil Bayinya lalu menggendong bayinya dan membawa Adeeva dan Ghaffar ke rumah sakit.


Daffa membantu Adeeva mengunci pintu rumah.


Mereka terlihat bagaikan keluarga kecil yang sangat harmonis.


Daffa membukakan pintu mobil untuk Adeeva, seperti yang biasa dilakukannya.


Adeeva menatap dalam ke arah pria yang kini tengah memperjuangkan dirinya.


"Terima kasih," lirih Adeeva setelah dia masuk ke dalam mobil.


Daffa mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Adeeva dan baby Ghaffar duduk dengan nyaman di dalam mobil.


Sesampai di rumah sakit, Daffa langsung menanyakan bagian resepsionis tentang prosedur melakukan tes DNA.


Bagian resepsionis itu memberi petunjuk apa saja yang harus dilakukan oleh Daffa.


Daffa membawa Adeeva ke laboratorium yang telah ditunjukkan oleh bagian resepsionis tadi.


Mereka pun melakukan segala prosedur tes DNA tersebut.


"Hasilnya bisa kita berikan hari Senin," ujar dokter.


"Baiklah, Dok." Daffa pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu dia pun membawa Adeeva dan bayinya refreshing.


"Kamu mau main ke mana?" tanya Daffa pada Adeeva.


"Aku enggak tahu," lirih Adeeva.


Daffa mengernyitkan dahinya.


"Kamu ini aneh," ujar Daffa.


"Aneh?" lirih Adeeva.


"Sayang, kita sekarang berada di Padang. Ini adalah kotamu, kalau di Bali aku yang tahu lokasi bersenang-senang," ujar Daffa.


Wajah Adeeva berubah merah mendengar ucapan Daffa, dia merasa tersipu mendengar pria yang dicintainya itu memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.


"Kenapa?" tanya Daffa heran melihat reaksi Adeeva.


Adeeva hanya menggelengkan kepalanya.


"Mulai hari ini, kamu tidak boleh memanggilku dengan sebutan nama, kamu harus panggil aku dengan kata Mas atau Abang," ujar Daffa yang mengerti alasan wajah Adeeva yang berubah tersipu malu.


"Apakah harus begitu?" lirih Adeeva malu.


"Iya, kamu kan calon istriku, sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya," ujar Daffa.


Adeeva semakin malu mendengar ucapan Daffa, seketika mereka pun mengingat malam panas yang pernah mereka lakukan, lalu mereka menoleh ke arah baby Ghaffar.


"Walaupun malam itu kita melakukannya dalam kondisi tak sadarkan diri, tapi aku bersyukur dengan kejadian malam itu kita bisa memiliki baby Ghaffar yang sangat tampan," ujar Daffa.


"Ish, kamu,-" Adeeva tak dapat lagi menahan rasa malunya.

__ADS_1


Wajahnya semakin memerah.


Daffa pun membawa Adeeva dan baby Ghaffar ke pantai air manis, dia ingin menghabiskan hari ini bersama Adeeva dan bayinya.


****


Di tempat lain, Alex dan Ainun tengah berada dalam perjalanan menuju rumahnya.


Sebelum mereka ke rumah Ainun, Alex mengantarkan Dion terlebih dahulu ke rumahnya karena ternyata Dion tidak membawa kendaraan.


Sepanjang perjalanan Alex tak banyak bicara, begitu juga dengan Ainun.


Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka pun sampai di depan sebuah gubuk yang reot.


Alex memandangi rumah kecil itu.


"Apa benar di sini ayah dan adikmu tinggal?" tanya Alex tak percaya.


Dia tak menyangka, kehidupan Ainun yang terlihat senang di Bali jauh berbeda dengan kehidupan keluarganya yang ada di Padang.


"Iya, di sinilah aku tinggal sejak ibu pergi meninggalkan kami, lalu ayah sakit-sakitan," jawab Ainun jujur.


"Jadi, ibumu masih hidup?" tanya Alex tak percaya.


"Iya, tapi aku tidak tahu dia ada di mana saat ini. Dia tidak pernah datang untuk menemui kami," tutur Ainun dengan suara yang mulai serak.


Dia selalu sedih jika mengingat kelakuan ibunya yang tega meninggalkan mereka dalam keadaan sulit.


Alex menatap iba pada Ainun, dia merasa kasihan dengan perjalanan hidup Ainun.


Wajar saja Ainun rela melakukan apa pun demi bisa hidup senang.


Mereka kini telah turun dari mobil, Ainun melangkah menuju rumah kecil tempat ayah dan adik Ainun tinggal.


Tok tok tok.


Ainun mengetuk pintu rumahnya.


"Dek," panggil Ainun.


"Aini," panggil Ainun lagi.


Berkali-kali Ainun mengetuk pintu dan memanggil orang yang ada di rumah itu, tapi tak seorang pun yang membukakan pintu.


"Ainun!" seru salah satu tetangga saat melihat Ainun tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


Ainun dan Alex menoleh ke arah wanita paruh baya yang memanggil dirinya.


"Eh, Buk Ratna," lirih Ainun.


"Kamu dari mana saja, Ai?" tanya si ibu paruh baya itu.


"Mhm, aku bekerja di Luar kota, Bu. Baru ini bisa pulang," jawab Ainun.


"Oh ya, Bu. Apakah ibu tahu di mana ayahku dan Aini, adikku,?" tanya Ainun.


"Mhm, nah itu, kemarin ayah kamu tak sadarkan diri, Aini membawanya keluar dari rumah menggunakan gerobak. Tapi sejak itu, mereka belum kembali sama sekali," ujar si ibu paruh baya memberi kabar pada Ainun.


"Apa? Mereka ke rumah sakit, Bu?" tanya Ainun.


"Kami juga kurang tahu, kemarin ada yang menawarkan untuk mengantarkan ayahmu ke rumah sakit, tapi Aini menolaknya, katanya dia tidak punya uang untuk mengobati ayahmu," cerita si ibu itu.

__ADS_1


"Apa? Lalu ke mana aku harus mencari mereka?" Ainun pun mulai panik.


Bersambung...


__ADS_2