Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 84


__ADS_3

"Iya, kemarin Adeeva pulang dari kafe bersama seorang pria, lalu dia pun pamit untuk pergi. Katanya dia akan kembali dengan suaminya," cerita Santi.


Andrew menoleh ke arah Daffa, dia menatap Daffa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kini Andrew mempertanyakan ucapan Daffa yang tadi mengaku sebagai suami Adeeva.


"Aku bisa jelaskan nanti," ujar Daffa mengerti makna dari tatapan Andrew terhadap dirinya.


"Baiklah, San. Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Andrew berpamitan pada Santi.


Dia tidak sabar ingin menanyai maksud Daffa yang tadi mengaku sebagai suaminya.


"Oh, begitu," lirih Santi bingung dnegan sikap Andrew.


Santi hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Andrew berdiri, diikuti oleh Daffa dari belakang.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Andrew kesal.


"Ayo, naik ke dalam mobil. Aku akan ceritakan nanti di mobil," ujar Daffa pada Andrew.


Akhirnya Andrew pun masuk ke dalam mobil Daffa.


Daffa pun melajukan mobilnya meninggalkan warung kaki lima milik Santi menuju kafe milik Andrew.


Di sepanjang jalan Daffa pun mengakui siapa dia sebenarnya, dia juga menceritakan hubungannya dengan Adeeva.


Andrew hanya bisa mengangguk dan mempercayai apa yang dikatakan Daffa.


"Terima kasih, sudah mau menemaniku mencari Adeeva," ujar Daffa setelah dia menghentikan mobilnya di depan kafe milik Andrew.


"Sama-sama, sering-seringlah mampir di kafe kecil milikku," ujar Andrew sebelum dia turun dari mobil Daffa.


"Yups, kapan-kapan aku main ke sini bawa teman-teman, biar kafenya rame," ujar Daffa.


Andrew pun turun dari mobil Daffa, setelah itu Dafa pun melajukan mobilnya meninggalkan kafe Andrew.


Daffa terus melajukan mobilnya tanpa tujuan sama sekali, saat ini dia sama sekali tidak ingin kembali ke kantor.


Berkeliling di kota Bali, hingga akhirnya dia pun menghentikan mobilnya di pinggir pantai tak jauh dari hotel Cakrawala.


Dia turun dari mobil lalu melangkah menyusuri pinggiran pantai, menikmati angin laut sembari terus memikirkan keadaan Adeeva.


"Deev, saat ini kamu telah kembali kepada suamimu, apakah aku masih ada kesempatan untuk mendapatkanmu?" gumam Daffa di dalam hati.


Saat ini pikiran Daffa terus tertuju pada Adeeva, dia sama sekali tak lagi memikirkan nasib wanita yang telah direnggutnya keper*w*n*nnya.


Yang ada di hatinya hanya Adeeva, wanita hami yang sudah memiliki suami, karena Daffa merasa sesuatu yang berbeda saat melihat perut buncit Adeeva.


"Apakah aku harus melupakanmu dan berdo'a agar kamu bahagia bersama suaminya," gumam Daffa lagi.

__ADS_1


Daffa terus melangkah tanpa arah dengan pikiran yang dipenuhi oleh sosok Adeeva.


Sementara itu, Adeeva dan Axel masih berkurung di dalam hotel.


Axel enggan untuk ke mana-mana, dia takut Adeeva akan kabur lagi darinya.


Tapi, Axel juga tengah bingung memikirkan cara berbicara dengan Kyara yang kini berada di kamar sebelah kamar yang ditempatinya bersama Adeeva.


Dia juga bingung bagaimana cara menyampaikan pada Adeeva bahwa saat ini dia telah menikah dengan Kyara.


Axel menoleh ke arah Adeeva yang kini tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil memegang ponsel miliknya.


"Deev," lirih Axel memanggil Adeeva.


Adeeva menghentikan tangannya yang sedang asyik memainkan ponselnya.


Lalu dia pun menoleh ke arah Axel.


"Mhm," gumam Adeeva menanggapi panggilan Axel.


"Mhm, aku keluar sebentar, ya. Kamu tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Axel baik-baik agar Adeeva tidak curiga pada dirinya.


"Mhm, pergilah." Adeeva memberi izin sang suami keluar dari kamar itu.


"Tapi, kamu harus janji tidak akan pergi ke mana-mana," ujar Axel memastikan Adeeva tidak akan kabur lagi.


"Iya, aku tidak akan ke mana-mana," lirih Adeeva.


"Baiklah, aku pergi sebentar." Axel pun turun dari ranjang lalu dia melangkah menuju kamar yang ada di sebelahnya.


Dia meminta Damar berjaga di depan pintu kamar yang disewanya untuk memastikan Adeeva tak pergi.


Axel melangkah masuk kamar tempat Kyara berada.


Saat dia berada di kamar itu, Axel mendapati Kyara tengah duduk di balkon kamar menatap pemandangan laut yang indah.


Hanya dengan itu, dia dapat menenangkan hatinya yang kacau.


Axel menghampiri Kyara yang kini berdiri di pagar balkon.


Axel juga berdiri di pagar balkon tepat di samping Kyara.


"Kyara," lirih Axel.


Kyara hanya diam, dia tahu saat ini Axel telah berada di sampingnya.


Dia masih tetap memandangi lautan lepas itu.


"Sebelum kau memaksaku menikah denganmu, aku sudah pernah mengatakan bahwa aku sudah memiliki istri, wanita itu adalah istriku," lirih Axel menjelaskan siapa wanita yang bersamanya kemarin.


Kyara tak bergeming, dia masih saja diam.

__ADS_1


"Jika kamu sangat mencintai istrimu, kenapa kamu mau menikah denganku?" gumam Kyara di dalam hati.


Meskipun Kyara berusaha menyalahkan Axel dalam situasi yang mereka hadapi saat ini, tapi Kyara tetap tidak bisa menyalahkan Axel sepenuhnya.


Yang disesalkan Kyara adalah hubungan int*m yang telah terjadi di antara mereka.


Axel telah merenggut harta yang paling berharga di dirinya sehingga Kyara tidak bisa melepaskan Axel begitu saja.


"Jika kamu tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, kita bisa mengakhirinya kapan pun kamu mau," ujar Axel.


Kyara menoleh ke arah Axel, dia menatap tajam pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Apa kamu bilang?"lirih Kyara.


Mata Kyara mulai berkaca-kaca, dia tak dapat lagi menahan air matanya.


Axel tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, dia tak menyangka Kyara akan menangis.


"Kau ingin meninggalkan diriku setelah kau puas mengambil harta berharga bagiku?" bentak Kyara dengan lantang.


Kyara sengaja memperjelas bahwa Axel telah menyentuh dirinya dan merenggut keper*w*n*nya.


Dia ingin Axel juga menganggap dirinya ada setelah apa yang dilakukannya terhadap dirinya.


Axel terdiam mendengar ucapan Kyara.


"Mana mungkin aku meninggalkannya begitu saja sementara itu,--" gumam Axel di dalam hatinya.


Axel semakin bimbang. Kini mereka pun terdiam, tak seseorang pun yang berbicara.


"Kau mau ikut denganku?" tanya Axel pada Kyara setelah beberapa menit mereka terdiam.


"Pergilah, aku tak ingin ke mana-mana," lirih Kyara.


Akhirnya Axel pun keluar dari kamar itu membiarkan Kyara untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Setelah itu, Axel mengajak Adeeva keluar dari kamar sekadar bermain di pantai.


Axel ingin menghirup udara segar, agar dia bisa menghilangkan stress yang ada di otaknya.


Saat itu Adeeva hanya menuruti apa yang dikatakan oleh Axel.


Akhirnya keduanya keluar dari kamar dan berjalan menyusuri pantai yang indah.


Di sepanjang langkah yang mereka ayunkan tak seorang pun yang berbicara karena Adeeva sendiri tak tahu harus bicara apa.


Setelah lelah berjalan, Axel dan Adeeva duduk di pinggir pantai.


Axel melihat sebuah warung kecil, dia pun meninggalkan Adeeva sebentar.


Saat itu, Daffa juga melangkah tak jauh dari posisi mereka.

__ADS_1


"Daffa," lirih Adeeva tak sengaja melihat Daffa.


Bersambung...


__ADS_2