Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 58


__ADS_3

Adeeva tak lagi bisa melawan ucapan Ainun. Akhirnya dia memilih untuk diam.


Adeeva pun berdiri, dia berniat hendak meninggalkan Ainun.


Tiba-tiba, Ainun mencekal lengan Adeeva.


"Deev, kamu harus ingat dengan ancaman dariku. Jika kamu masih tidak mendengarkan apa yang aku katakan, aku tidak akan main-main, aku akan beritahu Axel bahwa kamu ada di sini," ujar Ainun.


Ainun tidak mau Adeeva menghalangi rencana liciknya.


Kehidupannya yang selama ini sulit, membuat Ainun gelap mata, dia ingin hidup bahagia dengan cara instan.


Adeeva menatap Ainun dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu dia pun menghempaskan tangan Ainun yang memegangi lengannya.


Adeeva melangkah meninggalkan Ainun.


"Deev, aku tahu kamu akan mundur dan meninggalkan Daffa, aku sangat mengerti bagaimana dirimu," gumam Ainun tersenyum licik.


****


Pagi-pagi sekali Axel sudah siap untuk berangkat ke kantor, hari ini dia akan berkunjung ke seluruh swalayan miliknya yang ada di kota Padang.


Awalnya Ririn dan Damar akan ikut dengannya, tapi karena beberapa hal terpaksa Axel berangkat sendiri.


Dia ingin melakukan inspeksi di setiap swalayan miliknya.


Setelah sarapan pagi, Axel melangkah keluar rumah lalu masuknke dalam mobilnya yang sudah tersedia di depan rumah.


Dia masuk ke dalam mobil lalu melajukannya meninggalkan kediamannya.


Sebelum menuju swalayan, Axel terlebih dahulu singgah di apartemennya. Ada berkas penting yang ketinggalan di sana.


Dia meninggalkan berkas itu satu minggu yang lalu saat bertengkar dengan papanya.


Dia memilih beristirahat di apartemen miliknya sendiri untuk menenangkan diri.


Axel memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen, dia keluar dari mobilnya.


Saat dia hampir masuk ke dalam gedung apartemen dia teringat belum mengunci mobilnya.


Dia pun menekan tombol kunci dari posisinya langsung. Setelah itu dia masuk ke dalam lift dan naik menuju apartemennya.


"Ini dia," lirih Axel setelah mendapatkan sebuah map berwarna coklat.


Berkas itu berisi surat kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan temannya.


Axel ingin mengembangkan sayapnya ke luar daerah, dan kali ini dia tak hanya berkecimpung di bidang swalayan, dia ingin bekerja sama dengan teman lamanya di bidang perhotelan.


Axel pun langsung keluar dari apartemen setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya.


Dia juga langsung masuk ke dalam mobil saat tiba di parkiran.


Tanpa menunggu lama, dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan parkir.

__ADS_1


Baru saja Axel melajukan mobilnya beberapa kilometer dari apartemen dia merasa ada sesuatu yang aneh di mobilnya, dia melirik ke arah spion belakang.


"Astaga! Siapa kau?" tanya Axel saat mendapati seorang wanita berbaring di bangku belakang mobilnya.


Axel pun menepikan mobilnya, dia menghentikan mobilnya sejenak.


"Hei," teriak Axel sambil menoleh ke belakang


Wanita yang berbaring bersembunyi itu bangkit lalu duduk.


Wanita itu kini tengah mengenakan gaun putih, rambutnya sudah rapi dan dipolesi make up.


Dia terlihat sangat cantik, wanita itu terlihat seperti seorang calon pengantin wanita.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Axel.


Axel mencoba memperhatikan sosok wanita yang ada di mobilnya itu. Dia merasa pernah bertemu dengan gadis itu, tapi dia lupa di mana bertemu dengan gadis itu.


"Ya ampun, kenapa gue harus ketemu pria ini lagi," gumam si gadis di dalam hati.


Dia takut pria itu mengenali dirinya, lalu menurunkan dirinya di pinggir jalan.


"Bang, tolong aku." Si gadis memasang wajah iba.


Dia harus bersandiwara agar Axel percaya padanya, dan mau membantunya.


Mendengar si gadis yang memohon minta tolong, Axel pun teringat kejadian satu Minggu lalu yang berjumpa dengan gadis menyebalkan itu.


"Mampus gue, dia sudah ingat siapa gue, apa yang harus gue lakukan?" gumam si gadis di dalam hati.


Gadis itu mulai berpikir lalu mengedarkan pandangannya. Tak sengaja, dia melihat sebuah pisau lipat menyelip di saku jok bangku mobil tempat Daffa duduk.


Gadis itu mengambil pisau tersebut, lalu dia mengacungkan pisau itu, dia mengarahkan pisau tersebut ke pergelangan tangannya.


"Aku akan bunuh diri kalau kamu tidak mau menolongku," ancam si gadis bersiap melukai pergelangan tangannya.


Axel tak peduli dengan ancaman si gadis, dia masih teringat fitnah yang dilontarkan gadis itu saat malam itu.


Setelah ditolong, dia justru menuduh Axel berniat jahat padanya.


"Aku tidak main-main dengan ancaman ini, lebih baik aku mati dari pada menikah dengan pria sakau itu," ancam Si gadis lagi.


"Oh, jadi gadis ini kabur dari acara pernikahannya. Jika aku membantunya, maka aku akan dituduh keluarganya sudah menculiknya, lebih baik aku turunkan saja di sini," gumam Axel di dalam hati.


"Apa peduliku padamu, mau mati pun kamu bukan urusanku," ujar Axel santai.


"Ayo, turun!" bentak Axel pada si gadis.


"Busyet, kenapa dia tidak mempan dengan ancaman gue," gumam Si gadis.


"Baiklah, gue harus nekat, nih," gumam si gadis.


"Gue enggak mau turun di sini, kalau gue bunuh diri di mobil lu, maka lu akan menjadi tersangka yang telah membunuh gue," ujar si gadis.

__ADS_1


Gadis itu mulai menempelkan pisau di kulit tangannya, dia juga sudah bersiap untuk menarik pisau tersebut agar tangannya terluka.


"Ah, benar juga, ya. Apa yang bisa aku lakuin?" gumam Axel di dalam hati.


Axel menghela napas panjang.


"Sebenarnya apa yang kamu mau?" tanya Axel mulai berbaik hati.


Bukan dia takut dengan ancaman si gadis, tapi dia tidak ingin si gadis itu nekat lalu dia juga akan repot mengurusi nya.


Apalagi hari ini Axel memiliki banyak pekerjaan, dia tidak mau pekerjaannya terganggu gara-gara gadis gila itu.


"Carikan aku tempat bersembunyi, aku harus kabur dari keluargaku," jawab si gadis.


Axel berpikir sejenak.


Dia pun teringat satu tempat yang bisa dijadikan tempat bersembunyi, akhirnya Axel pun kembali melajukan mobilnya.


Axel membawa gadis itu ke sebuah rumah temannya yang terdapat di pinggiran kota Padang, tepatnya di daerah Lubuk Minturun.


Kebetulan salah satu swalayan Axel ada di dekat sana, jadi dia memilih mengunjungi swalayan itu terlebih dahulu.


Axel menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah minimalis sederhana.


"Turunlah," ujar Axel pada si gadis.


Gadis itu pun turun dari mobil yang ditumpanginya.


"Di mana kita sekarang?" tanya si gadis.


"Kau jangan banyak tanya, di sini kau aman untuk sementara waktu," ujar Axel.


Axel sendiri tidak tahu kenapa dia bisa memiliki ide untuk menyembunyikan sang gadis di rumah temannya.


Mereka pun turun dari dalam mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.


Axel melangkah di depan si gadis, Saat Axel telah berada di depan pintu, si gadis sibuk mengurusi gaun pengantin yang dikenakannya, yang mana gaun itu mengganggu setiap langkahnya.


Tok tok tok.


Axel mengetuk pintu rumah itu, tak berapa lama seorang wanita membuka pintu rumah itu.


"Axel, ayo masuk," aja si wanita itu


Dia melihat si gadis masih sibuk dengan gaunnya.


"Ayo," panggil Axel.


Di gadis pun berdiri lalu hendak melangkah masuk.


"Kyara?" Teman Axel kaget melihat sosok gadis yang bersama Axel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2