
Daffa kaget melihat wanita yang sudah melahirkan berada di rumah megah miliknya.
Setahu Daffa, maminya tengah berada di Australia bersama dengan kakak Daffa yang tinggal di sana.
"Mami," lirih Daffa.
"Ya ampun Daffa, ini menantu mami?" ujar Mami Rossa.
Wanita paruh baya yang terlihat masih sangat anggun itu menatap bahagia ke arah wanita yang berdiri di samping Daffa.
"Hah? Bukan, Mi," jawab Daffa langsung.
"Ya ampun, kamu cantik banget, Sayang. Kamu memang wanita yang sangat sempurna, Mami suka, Daffa," ujar Rossa mengabaikan jawaban penolakan dari Daffa tadi.
"Apa?" lirih Daffa mulai panik.
"Kamu tidak usah sembunyikan lagi, mami sangat suka dengan gadis ini, nama kamu siapa, Sayang?" tanya Rossa pada Adeeva.
Adeeva hanya dia mendengar ocehan wanita paruh baya yang sama sekali tidak dikenalnya.
Dia menoleh ke arah Daffa yang kini terlihat panik mendengar ocehan maminya.
"Mi, dengarkan aku dulu," ujar Daffa hendak menjelaskan siapa sebenarnya Adeeva.
"Mami tidak mau dengar apa pun, walau bagaimanapun, Mami sudah terlanjur suka dengan wanita ini, dan mami ingin dia menjadi menantu mami," ujar Rossa mengabaikan setiap bantahan dari mulut putranya.
Dia sama sekali tidak ingin lagi mendengar bantahan dari sang putra, dia sengaja berkata seperti itu karena Rossa sudah bosan dan lelah menyuruh Daffa untuk mencari pendamping hidup putranya.
"Mami, dia bukan,--"
"Mami tidak mau tahu, mami sudah sangat menyukai wanita ini, jadi kamu tidak punya alasan apa pun lagi selain menikahi wanita ini," ujar Rossa tegas.
"Sini, Sayang. Ikut mami," ujar Rossa.
Rossa mengajak Adeeva masuk ke dalam rumah megah itu, wanita paruh baya itu membawa Adeeva duduk di sofa ruang keluarga.
"Sejak kapan kamu mengenali Daffa?" tanya Rossa pada Adeeva setelah mereka berada di ruang keluarga.
"Mhm." Adeeva bingung harus menjawab apa.
"Mami!" panggil Daffa.
Daffa langsung menarik tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Daffa mengajak maminya masuk ke ruang kerjanya, dia meninggalkan Adeeva yang masih dalam kebingungan.
"Mami, tidak bisa seperti itu. Dia bukan kekasihku," ujar Daffa pada maminya.
"Lalu siapa?" tanya Rossa.
__ADS_1
Daffa terdiam, dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada maminya.
"Mami tidak mau tahu, pokoknya tahun ini kamu harus menikah, kalau bukan wanita itu kamu harus mencari wanita untuk pendamping hidupmu," ujar Rossa tegas.
Kali ini Daffa tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun harus mengikuti kehendak maminya.
Sudah bertahun-tahun wanita yang disayanginya itu terus meminta dirinya untuk menikah, kali ini Daffa tidak lagi bisa menolak.
Dia akan menuruti keinginan maminya dengan suatu rencana yang ada di benaknya saat ini.
Rossa pun tersenyum senang, dia sangat memimpikan pernikahan putranya.
Daffa menyuruh maminya untuk masuk ke dalam kamar. Sementara itu dia akan berbicara dengan wanita yang telah ditolongnya itu.
"Mami kamu?" tanya Adeeva saat Daffa sudah berada di ruang keluarga.
"Iya," sahut Daffa.
"Bi Sari!" teriak Daffa.
Daffa memanggil kepala pelayan yang ada di rumah megahnya itu.
Tak berapa lama seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan datang menghampiri mereka di ruang keluarga.
"Iya, Tuan muda," ujar wanita paruh baya yang di panggil Bi Sari.
"Bi, tolong bawa wanita ini ke kamar tamu," perintah Daffa pada kepala pelayan itu.
"Kamu ikuti Bi Sari dulu, istirahatlah terlebih dahulu, aku masih ada urusan," ujar Daffa pada Adeeva.
Adeeva hanya mengangguk, setelah itu dia berdiri dan melangkah mengikuti langkah Bi Sari menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari ruang keluarga.
"Silakan, Nona," ujar Bi Sari.
"Terima kasih, Bi," ujar Adeeva pada Bi. Sari.
"Sama-sama, Nona. Ini sudah tugas saya," ujar Bi Sari.
"Kalau nona butuh apa-apa bisa panggil saya dengan menekan tombol ini," ujar Bi Sari sambil menunjuk sebuah tombol yang ada di bawah saklar lampu.
"Iya, Bi." Adeeva tersenyum pada wanita paruh baya itu.
Tak berapa lama setelah itu, Bi Sari meninggalkan Adeeva di kamar tamu itu.
Adeeva mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar itu, sebuah kamar yang sangat luas.
Kamar yang hampir sama luas dengan kamarnya dan Axel, di dalam kamar itu juga terdapat sebuah kamar mandi mewah. Di tengah-tengah kamar terdapat sebuah tempat tidur berukuran besar, yang mana di atas kepala tempat tidur terdapat sebuah lukisan pemandangan yang sangat asri.
"Pria ini lebih kaya dari Axel, walau bagaimanapun Axel tetap pria yang baik bagiku," lirih Adeeva.
__ADS_1
Lagi-lagi dia teringat akan suaminya yang kini entah sedang mencarinya atau mengabaikan dirinya.
"Axel, maafkan aku. Mungkin kita tidak berjodoh, aku masih ingin mencari ayah kandung dari anakku ini," gumam Adeeva sembari mengelus lembut perutnya yang masih datar.
Salah satu niat Adeeva memilih Bali sebagai tempat pelarian adalah mencari ayah dari anak yang di kandungnya. Adeeva berharap pria yang telah menanamkan benih di rahimnya itu akan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya.
"Nak, kita akan berjuang mencari ayah kandungmu, semoga Allah memberi petunjuk bagi kita untuk menemukan ayah kandungmu," lirih Adeeva mengelus lembut perutnya.
Dia mulai mengajak bicara janin yang ada di dalam rahimnya.
Adeeva melangkah menuju tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak berapa lama dia pun terlelap hingga waktu ashar masuk.
Saat azan ashar berkumandang, Adeeva pun bangkit dan turun dari tempat tidur. Dia langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat ashar.
Tok tok tok.
Usai shalat ashar, seseorang mengetuk pintu kamar tamu, Adeeva bergegas membuka mukenanya, lalu melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu.
"Selamat sore, Nona," sapa Bi Sari yang kini telah berdiri di depan pintu kamar.
Adeeva tersenyum.
"Nona, tuan muda minta saya untuk memanggil Nona," ujar Bi Sari.
"Oh, iya, Bi. Saya akan datang," ujar Adeeva.
"Mari saya antar, Tuan muda sudah menunggu di ruang kerjanya," ujar Bi Sari lagi.
Adeeva mengangguk, dia mengikat asal rambut panjangnya yang sama sekali belum disisirnya usai mandi tadi.
Mereka pun melangkah menuju ruang kerja Daffa yang terletak tak jauh dari ruang keluarga.
Tok tok tok.
"Selamat sore, Tuan," ujar Bi Sari setelah mengetuk pintu.
"Suruh dia masuk, Bi," teriak Daffa dari dalam ruang kerjanya.
"Nona, tuan muda meminta anda langsung masuk," ujar Bi Sari.
"Oh, iya, Bi." Adeeva membuka pintu ruang kerja itu.
Dia mendapati Daffa telah duduk di kursi kebesarannya.
"Lihatlah map itu, kamu akan tahu pekerjaanmu di sini," ujar Daffa sambil menunjuk pada map yang ada di atas meja.
Adeeva mengambil map itu lalu membaca kertas yang ada di dalam map itu.
Adeeva membesarkan matanya, tak percaya dengan isi map itu.
__ADS_1
Bersambung...