
"Saya tidak tahu, Nona. Hanya itu yang saya tahu, selebihnya saya tidak tahu apa-apa," jawab Damar.
"Ternyata benar, Axel pernah bilang kalau dia memiliki istri yang sangat dicintainya. Aku yang bodoh masih tetap memintanya untuk menikah denganku," gumam Kyara di dalam hati.
Penyesalan selalu datang di akhir, penyesalan kemudian tidak ada gunanya.
Kyara terus merutuki kebodohannya, saat ini dirinyalah yang salah. Bertindak tanpa menyelidiki siapa Axel.
Kini Kyara dan Damar masih terdiam di gelapnya malam.
Deburan ombak menemani malam mereka di pinggir pantai itu.
Damar yang kini berada di samping Kyara tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Dia hanya bisa diam, hingga saat malam makin larut, Kyara berdiri lalu dia melangkah gontai menuju hotel tempat mereka menginap.
Damar mengikuti langkah istri dari bos-nya itu.
Damar mengikuti Kyara hingga wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
Damar pun meminta 2 orang bodyguard untuk berjaga di pintu kamar itu, sekadar berjaga-jaga agar Kyara tak kabur.
Setelah itu Damar pun kembali dan memilih beristirahat.
Saat Kyara berada di dalam kamarnya, dia tak mendapati Axel berada di kamar itu.
Dia yakin suaminya kini tengah melepas rindu dengan istri pertamanya.
Kyara langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mulai memejamkan matanya.
Dia lelah memikirkan kebodohan- kebodohan yang telah dilakukannya.
Akhirnya dia pun memejamkan matanya, hingga dia tertidur.
Sementara itu Damar di dalam kamarnya, kini membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Pikiran Damar tertuju pada nasib Kyara. Dia tak menyangka Axel akan berjumpa dengan Adeeva di sini dan tepat dalam perjalanan Axel tengah berbulan madu dengan istri keduanya.
"Bagaimana nasib Nona Kyara setelah ini? Apakah Axel akan menceraikannya? Kasihan juga dia jika bercerai," gumam Damar.
Entah mengapa saat ini Damar mengkhawatirkan keadaan Kyara.
Sembari memikirkan Kyara, Damar pun terlelap karena lelah menemani Kyara berkeliling mall seharian penuh.
****
Tiga hari sudah Daffa tak kembali ke rumah, dia tidak bisa mengendalikan dirinya jika bertemu dengan Ainun.
"Tuan," lirih Alex hendak memulai pembicaraan dengan majikannya.
"Ya," sahut Daffa.
Mereka kini tengah duduk di sebuah kafe pada sore hari sambil menunggu waktu petang datang.
"Jika tuan sama sekali tidak pulang, bagaimana cara kita mencari tahu dalang di balik semua ini," ujar Alex meminta Daffa untuk pulang ke rumah.
"Lex, aku takut tidak bisa menyembunyikan emosiku di hadapannya," bantah Daffa.
__ADS_1
Alex hanya bisa menghela napas.
Tiba-tiba ponsel Alex berdering pertanda panggilan masuk.
Alex langsung mengangkat panggilan itu.
"Katakan," ujar Alex setelah menekan tombol hijau.
"Nona Ainun keluar rumah, Tuan," ujar seseorang di seberang sana.
"Apa? Ikuti dia dan kirimkan lokasinya padaku," ujar Alex memberi perintah.
"Siap, Tuan," sahut orang itu.
Alex memutuskan panggilannya.
"Kita harus pergi sekarang, Tuan," ujar Alex.
Alex pun berdiri, diikuti oleh Daffa.
"Apa yang terjadi?" tanya Daffa pada Alex saat mereka telah berada di dalam mobil.
"Ainun keluar dari rumah, dia pergi ke suatu tempat," jawab Alex.
"Apa?" Daffa tak percaya apa yang dikatakan Alex.
Daffa tak percaya Alex telah memata-matai Ainun tanpa perintah darinya.
Inilah yang disukai Daffa pada Alex yang selalu berpikir terdepan dari pada dirinya.
"Mungkin dia bosan di rumah karena tuan tidak ada di rumah, makanya dia keluar rumah, mana tahu dia menemui dalang di balik semua yang telah terjadi," ujar Alex menyampaikan analisisnya.
Selang beberapa menit, Alex dan Daffa telah berada di depan sebuah kafe.
Dia melihat Ainun masuk ke dalam kafe itu.
Orang suruhan Alex pun juga sudah berada di kafe itu, pria itu mengikuti langkah Ainun yang mencari tempat duduk di bagian pojok.
Di sana seorang pria telah menunggu Ainun.
"Kau menyebalkan," gerutu Ainun langsung saat bertemu dengan pria yang telah menunggunya sejak tadi.
"Cup cup, Baby. Jangan cemberut seperti itu," ujar si pria pada Ainun.
"Daffa tak kunjung pulang," ujar Ainun melaporkan apa yang telah terjadi.
Setelah pernikahan siri yang dilakukan Daffa, dia sama sekali tak mengacuhkan keberadaan istri sirinya itu.
"Sabar, Sayang. Mungkin banyak pekerjaan," ujar si pria terlihat santai.
"Kau tidak merasakan kebosanan yang kurasakan setiap hari," gerutu Ainun merengek pada si pria.
Pria itu pun berpindah duduk di samping Ainun.
Sang pria pun mulai melingkarkan tangannya di pinggang Ainun.
"Lalu apa yang tidak membosankan bagimu," bisik si pria di telinga Ainun.
__ADS_1
Si pria itu juga iseng menj*l*ti telinga Ainun sehingga wanita itu merasa geli.
"Kau nakal," lirih Ainun dengan manja.
"Apa kita perlu ke hotel?" tanya Si pria menggoda Ainun.
"Jika kamu merindukanku, ayo," balas. Ainun bersemangat.
3 hari berdiam diri di rumah Daffa membuat Ainun ingin mencari sensasi di luar rumah.
"Baiklah, aku habiskan kopi ini terlebih dahulu," ujar si pria.
Pria itu pun menyeruput sisa kopi yang ada di cangkirnya, lalu mereka pun berdiri dan melangkah keluar.
Ainun pun masuk ke dalam mobil si pria yang bersamanya itu, dia membiarkan mobil yang dibawanya tadi tinggal di kafe itu.
Orang suruhan Alex terus mengikuti si pria dan Ainun yang kini terlihat mengarah ke sebuah hotel.
Alex dan Daffa pun juga mengikuti mereka.
Ainun dan pria itu masuk ke sebuah hotel, orang suruhan Alex terus mengikuti mereka, si pria juga tak lupa mendokumentasikan setiap apa yang dilakukan Ainun dan pria itu.
Ainun dan si pria masuk ke sebuah kamar, orang suruhan Alex hanya bisa berdiri di depan kamar yang mereka masuki itu.
"Bagaimana, apa yang telah terjadi?" tanya Daffa tak sabar ingin mengetahui apa yang telah terjadi.
Baru saja Daffa bertanya, sebuah pesan masuk ke ponsel Alex.
Bergegas Alex membukanya, pesan itu beberapa video yang dilakukan oleh Ainun bersama pria itu.
Alex membuka video itu satu per satu.
"Ada apa?" tanya Daffa semakin penasaran.
Alex pun memberikan ponselnya pada Daffa, dia memperlihatkan rekaman video yang terjadi di kafe itu.
"Siapa pria ini?" tanya Daffa semakin emosi.
"Saya juga tidak tahu, Tuan." Alex hanya bisa mengangkat bahunya.
"Lalu apa yang mereka lakukan di hotel ini?" tanya. Daffa pada Alex.
"Sabar, Tuan. Kita bisa langsung mengetahui apa yang dilakukan Ainun dan pria itu sekarang juga," ujar Alex.
Setelah itu Alex dan Daffa turun dari mobil, mereka melangkah masuk ke dalam hotel.
Sebelum Alex dan Daffa masuk ke dalam kamar yang mereka tempati, Alex meminta sebuah kunci akses yang dimiliki pihak hotel.
Dengan mudah Alex mendapatkan kunci tersebut karena Daffa memiliki 40 persen saham di hotel tersebut sehingga pihak hotel dengan mudah memberikan kunci akses pada Alex.
Mereka pun langsung melangkah menuju kamar yang ditunjukkan oleh mata-mata yang diperintah Alex tadi.
Sesampai di depan kamar itu, Alex dan Daffa langsung membuka pintu kamar tersebut.
"Ainun!" bentak Daffa saat melihat Ainun sedang berada di dalam kamar itu bersama si pria.
Mereka tengah asyik menikmati pergulatan panas di antara mereka.
__ADS_1
Daffa membulatkan matanya tak percaya melihat pria yang kini bersama Ainun.
Bersambung...