
Wanita yang dipanggil Kyara itu pun juga kaget melihat teman Axel.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Winda pada Kyara.
Setahu Winda, hari ini merupakan hari pernikahan Kyara. Saat ini dia sedang siap siap untuk berangkat ke lokasi pernikahan Kyara.
Winda memperhatikan penampilan Kyara yang tadinya sudah sangat cantik dan anggun, kini mulai berantakan.
“Kak Winda, a aku aku tidak mau nikah sama pria sakau itu,” isak Kyara langsung bersimpuh di kaki kakak sepupunya.
“Apa maksud kamu, Kya? Pernikahan kamu sudah di depan mata, kamu malah berada di sini,” ujar Winda.
Axel terlihat bingung mendengar percakapan dua wanita bersamanya.
“Win, apa sebenarnya yang telah tejadi?” tanya Axel bingung.
“Seharusnya aku yang nanya sama kamu, kenapa kamu bisa bertemu dengan Kyara?” Winda balik bertanya pada Axel.
“Itu, tadi.” Akhirnya Axel pun menceritakan apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Kyara.
Winda menatap tajam ke arah Kyara yang kini masih bersimpuh di kaki kakak sepupunya itu.
“Kak, tolong selamatkan aku dari pria sakau itu. Kakak tidak tahu bagaimana dia, dia itu suka mabuk dan main wanita. Aku tidak mau terjebak dengan pria itu,” pinta Kyara terus memohon pada kakak sepupunya.
Winda tampak berpikir sejenak, dia tidak tahu harus melakukan apa, tapi dia juga tidak tega jika memang apa yang dikatakan Kyara adalah kenyataan, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika tidak membantu Kyara saat ini.
“Ya sudah, kau masuk dulu, kita bahas ini di dalam,” ajak Winda.
Winda tidak mau banyak tetangga melihat apa yang terjadi di rumahnya.
“Kamu tahu dari mana bahwa calon suamimu hobi mabuk dan main perempuan?” tanya Winda setelah mereka duduk di kursi ruang tamu.
Kyara pun mengambil ponselnya, lalu dia memberikan beberapa foto dan video yang berisikan calon suami Kyara yang sedang mabuk bersama wanita di sebuah club malam.
Winda menggelengkan kepalanya tak percaya, dia tak menyangka pamannya akan menikahkan Kyara dnegan seorang pria yang tidak benar.
“Astaghfirullah, papa kamu kenal pria ini dari mana?” tanya Winda tak percaya.
“Enggak tahu, Kak.” Kyara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Lalu apa rencanamu saat ini?” tanya Winda pada Axel.
“Aku tidak tahu,” jawab Kyara.
Sebenarnya Axel merasa bersyukur karena, dia mempertemukan Kyara dengan sepupunya atau keluarga gadis itu. Dia tidak akan terlibat lagi dengan wanita aneh dan tak bertanggung jawab itu.
“Winda,” lirih Axel sebelum Winda dan Kyara menyelesaikan masalah Kyara yang kabur.
Winda menoleh ke arah Axel.
“Ada apa, Xel?” tanya Axel.
“Begini, Win. Berhubung ini masalah keluarga, mungkin sebaiknya aku pergi dari sini, karena aku masih memiliki urusan yang harus aku selesaikan,” ujar Axel berpamitan dengan temannya.
“Oh, baiklah, Xel. Terima kasih sudah membantu Kyara,” ujar Winda.
“Sama sama,” sahut Axel.
Setelah itu Axel pun keluar dari rumah Winda lalu meninggalkan gadis aneh itu di rumah sepupu sang gadis.
****
Seperti biasa Adeeva bangun dari tidurnya, kali ini dia merasa berbeda. Biasanya saat bangun tidur Adeeva mendapati Axel masih tertidur pulas di sapingnya, kini dia tidur seorang diri di kamar yang telah direncanakan Daffa untuk bayinya nanti.
Dengan langkah malas, Adeeva pun turun dari tempat tidur. Dia hendak melangkah menuju kamar mandi, tapi dia teringat bahwa pakaiannya masih di dalam kamar Daffa.
Akhirnya Adeeva pun melangkahkan kakinya menuju kamar Daffa yang berada tepat di samping kamarnya kini.
Tok tok tok.
Adeeva mengetuk pintu kamar Daffa, dia merasa segan membuka kamar itu begitu saja. Beberapa kali Adeeva mengetuk pintu kamar, dia pun membuka pintu kamar itu secara perlahan.
“Mungkin Daffa masih tertidur pulas,” guma Adeeva.
Dia mulai membuka pintu secara perlahan, Adeeva tak percaya saat melihat apa yang tejadi di kamar itu. Dia melihat Daffa yang masih tidur tanpa mengenakan pakaian, sementara itu Ainun juga tidur di samping Daffa, dia melihat dengan jelas tubuh Ainun bagian atas terbuka.
Adeeva langsung menutup pintu kamar Daffa, dia berdiri di depan pintu dengan hati yang terasa begitu sakit dan hancur.
Tanpa disadarinya, Adeeva kini mulai menangis. Ada rasa sakit yang mendalam melihat pria yang dicintainya itu tengah bersama dengan sahabatnya.
__ADS_1
Apalagi Adeeva melihat mereka yang tidur tanpa mengenakan pakaian, pikiran Adeeva telah berkeliaran jauh. Dia memikirkan Daffa telah menikmati malam yang panjang bersama istrinya yang bernama Ainun itu.
Api cemburu terus membakar hati Adeeva, dia tidak kuat melihat pria yang kini telah mengisi hatinya itu bersama wanita lain.
Adeeva kembali melangkah ke kamarnya, dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu’ dan bersiap siap untuk melaksanakan shalat subuh sendirian di kamarnya.
Adeeva masih menangisi nasib yang kini harus dijalaninya, seketika Adeeva teringat dengan Axel. Selama ini Adeeva memang nyaman bersama Axel, tapi dia tidak pernah merasakan cinta yang kini dirasakannya pada Daffa.
“Ya Allah, apakah ini hukuman yang kau berikan padaku? Hukuman untukku yang telah mengecewakan hati seorang pria baik hati seperti Axel, Tuhan jika memang ini hukuman untukku, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Tapi, aku mohon berikanlah kebahagiaan untuk Daffa dan Axel meskipun aku tidak berada di dekat mereka,” gumam Adeeva berkeluh kesah pada sang Pencipta.
Saat ini Adeeva mulai merencanakan sesuatu, dia tidahan menahan rasa cemburu yang begitu dalam di saat dia telah memberikan hatinya pada seorang pria, dia pun ingin lari dari takdir yang ada dihadapannya saat ini.
Setelah shalat subuh, Adeeva membuka mukenanya. Dia pun melangkah keluar dari kamar. Adeeva memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada di rumah Daffa. Perlahan dia melangkah menuju luar rumah.
Adeeva memperhatikan pos satpam. Dia melihat pos satpam tengah kosong, di dapat memastikan satpam yang bertugas menjaga gerbang rumah Daffa kini tengah melaksanakan shalat subuh.
Adeeva pun melangkah keluar dari gerbang rumah megah itu tanpa diketahui oleh siapa pun. Dia mempercepat langkahnya agar tidak ada yang tahu bahwa saat ini dia tengah kabur dari kehidupan Daffa.
Meskipun saat ini Adeeva tidak tahu harus ke mana, tapi dia terus melangkah mengikuti ke mana kakinya melangkah.
Daffa pun terbangun dari tidurnya, dia kaget saat melihat Ainun juga tidur bersamanya di kamar itu. Tanpa perasaan Daffa langsung mendorong tubuh Ainun yang masih terlelap di sampingnya hingga wanita itu terjatuh ke lantai.
“Auuwww,” pekik Ainun merasa sakit.
Dia mengusap pinggulnya yang terhempas ke lantai.
“Apa yang kau lakukan di kamarku?” bentak Daffa geram.
Ainun berusaha bangkit dari posisinya, dia membalut tubuhnya yang setelah t*l*nj*ng dengan selimut.
"Wajar aku tidur bersama suamiku," ujar Ainun dengan berani.
Daffa merasa kesal mendengar jawaban Ainun, ingin rasanya dia mengusir Ainun dari kamarnya itu.
Saat Axel hendak menghampiri Ainun, dia melihat sesuatu yang aneh pada diri Ainun.
"Kau?" lirih Daffa.
Bersambung...
__ADS_1