
Dengan langkah gontai, Ainun melangkah menuju pintu masuk.
Dia membuka pintu apartemennya, dia kaget saat melihat 2 pria berbadan kekar mengenakan jas hitam.
"Siapa kalian?" tanya Ainun gugup.
Jantungnya mulai berdetak dengan kencang, dia mengira 2 pria itu adalah orang suruhan Frans.
Kedua pria itu tidak menjawab pertanyaan Ainun, mereka langsung masuk ke dalam apartemen itu meskipun Ainun belum mempersilakan mereka masuk.
Wajah Ainun kini berubah pucat pasi, dia benar-benar takut akan dibunuh oleh orang suruhan Frans.
Apalagi akhir-akhir ini banyak berita pembunuhan yang tidak diketahui penyebabnya apa.
Hal itu membuat Ainun semakin cemas.
2 pria itu mendorong tubuh Ainun, hingga wanita itu terhempas ke sofa yang ada di ruang tamu.
Ketakutan kini mulai menyelimuti hati Ainun, jantungnya berdetak tak lagi beraturan, bayangan kematian kini mulai menghinggapi benaknya.
"Si-siapa ka-kalian?" tanya Ainun lagi semakin cemas.
Terlihat si pria menghubungi seseorang dari ponselnya, Ainun masih memperhatikan setiap gerak-gerik 2 pria yang kini telah duduk di sofa tepat di hadapannya.
Kedua pria itu tak banyak bicara, kini mereka tampak tengah menunggu seseorang.
Tak berapa lama seorang pria telah berada di depan pintu apartemen Ainun.
Dia berdiri di sana dan menatap tajam ke arah Ainun.
"Da-Daffa, lirih Ainun tak percaya melihat pria yang kini sudah berdiri di samping sofa tempat dirinya duduk.
"A-apa yang kamu inginkan?" tanya Ainun pada Daffa.
Hatinya mulai lega sesaat, ketika mengetahui 2 pria yang ada di hadapannya itu bukanlah anak buah Frans.
"Apa hubunganmu dengan Adeeva?" tanya Daffa pada Ainun langsung.
"Adeeva?" Ainun menautkan kedua alisnya heran.
"Ya. Aku tahu kamu dan Adeeva memiliki hubungan," ujar Daffa lagi memancing Ainun untuk bicara.
"A-adeeva adalah sahabatku," jawab Ainun jujur.
"Apa saja yang kamu ketahui tentang Adeeva?" tanya Daffa lagi.
Ainun semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Adeeva.
Dia terus bertanya-tanya di dalam hati akan alasan Daffa yang ingin mengetahui berbagai hal tentang Adeeva.
"Selain itu, apa hal penting yang kamu sembunyikan dariku," ujar Daffa terus memaksa Ainun.
"Apa? Apa yang terjadi pada Adeeva sehingga kamu ingin tahu tentang dia?" tanya Ainun tak lagi bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
__ADS_1
Daffa terdiam sejenak. Dia merasa tak pantas memberitahu Ainun bahwa Adeeva telah pergi bersama suaminya.
"Kamu jangan banyak tanya, katakan saja apa yang ditanya oleh Tuan Daffa," bentak salah satu pria yang duduk di hadapan Ainun.
"Dia sahabatku, kami berteman sejak duduk di bangku SMP," ujar Ainun bingung harus berkata apa lagi.
"Selain itu apa hal penting yang kau sembunyikan dariku dan darinya," ujar Daffa memaksa Ainun mengungkapkan apa yang telah dilakukan Ainun terhadap Adeeva dan Daffa.
Ainun pun menyadari apa yang sebenarnya ingin diketahui oleh Daffa.
Dia pun mulai menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi antara Adeeva dan Daffa.
Dia mengatakan segala hal dengan jujur.
"Maafkan aku," lirih Ainun menundukkan kepalanya memohon pada Daffa untuk tidak memberinya hukuman.
Baginya nasibnya yang kini telah masuk ke dalam lembah penuh dosa merupakan hukuman yang sangat berat baginya, apalagi di setiap saat bayang-bayang kematian terus mengikuti dirinya.
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat," ujar Daffa.
Ainun mengangkat wajahnya lalu menatap Daffa dalam.
"Apa?" tanya Ainun.
"Beritahu aku di mana Adeeva tinggal dengan suaminya dan beritahu aku alamat orang tuanya," ujar Daffa.
"Aku tidak tahu alamat suaminya, yang aku tahu dia sudah menikah dengan seorang pria yang kaya raya di kota Padang," jawab Ainun jujur.
"Apa? Adeeva berasal dari kota Padang?" gumam Daffa tak percaya.
Ainun pun memberi alamat kedua orang tua Adeeva di kota Padang.
Daffa tampak berpikir sejenak, dia merasa apa yang terjadi pada dirinya bukanlah sebuah kebetulan, di saat Daffa merasa gelisah memikirkan Adeeva beberapa Minggu yang lalu, entah mengapa dirinya ingin sekali datang ke kota itu.
"Apakah ini merupakan sebuah isyarat," gumam Daffa di dalam hati.
"Aku harus mencari Adeeva di kota Padang," gumam Daffa di dalam hati.
Daffa dan teman-temannya pun keluar dari apartemen milik Ainun setelah mendapatkan informasi tentang Adeeva.
"Pergilah ke Padang dan carilah informasi tentang Adeeva di sana," perintah Daffa pada anak buahnya.
"Siap, Tuan," sahut anak buah Daffa.
Ainun baru bisa bernapas lega setelah Daffa pergi dengan anak buahnya.
Ainun pun mulai beraktivitas, sambil berleha-leha untuk satu hari ini.
****
Kyara dan Axel telah memulai hidup berdua di apartemen.
Axel dan Kyara masih tidur di kamar yang terpisah.
__ADS_1
Bagi Kyara tak menjadi masalah tidur beda kamar dengan suaminya yang penting dia bisa satu atap dengan pria yang sudah sah menjadi imamnya.
Pagi ini Kyara bangun tidur lebih awal dari biasanya, dia langsung turun dari tempat tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Kyara pun langsung ke dapur, dia berdiri mematung di dapur sembari membuka kulkas.
Dia menatap kulkas yang tak ada isinya lagi.
Di sana dia hanya mendapati dua buah telur.
"Apa yang akan aku masak, jika tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak?" gumam Kyara.
Kyara pun mengambil beras lalu memasak nasi terlebih dahulu.
Meskipun Kyara tidak memiliki keahlian memasak, dia memberanikan diri untuk memasak.
Dia ingin mengambil perhatian suaminya agar sang suami melirik dirinya.
Setelah Kyara memasak nasi, dia pun mengambil dua telur itu lalu merebus telur tersebut.
Tak berapa lama, Kyara melihat nasi yang sudah masak.
Dia mengambil piring lalu mengisi piring itu dengan nasi, dan tidak lupa dia membuka kulit telur yang sudah masak.
Dia membelah telur itu menjadi dua, setelah itu dia pun memberi saus sambal di atas telur tersebut, dan dia tidak lupa memberi menaburi bawang goreng di atas nasi.
"Menu sarapan sudah siap," seru Kyara tersenyum bahagia.
Dia merasa masakannya kali ini sudah sangat sempurna.
Kyara pun melangkah menuju kamar Axel, dia mengetuk pintu kamar sang suami.
Tok tok tok.
"Bang," panggil Kyara.
Tok tok tok.
"Bang, apa kamu sudah bangun?" tanya Kyara sambil berteriak.
Axel yang kini sudah rapi dengan pakaiannya untuk pergi ke kantor.
"Ada apa? Pagi-pagi kau sudah ribut saja," keluh Axel kesal.
"Maaf ya, Bang. Aku cuma mau mengajakmu sarapan karena aku sudah memasak sarapan untukmu," ujar Kyara dengan semangat.
Axel mengernyitkan dahinya, tanpa segan Kyara menarik lengan sang suami dengan manja.
Dia membawa Axel melangkah menuju ruang makan.
"Tada! Sarapan sudah siap," seru Kyara dengan bersemangat.
Axel terdiam melihat menu sarapan yang telah terhidang di atas meja makan.
__ADS_1
Bersambung...