Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 42


__ADS_3

Daffa bangun dari tidurnya dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mencari Adeeva. Dia melihat Adeeva kini terlelap di sofa.


"Kenapa dia tidur di sofa?" gumam Daffa merasa kasihan.


"Apa jangan-jangan dia pindah tidur di sofa karena aku ketiduran di ranjang?" gumam Daffa lagi.


Daffa berdiri, lalu di melangkah menuju sofa, tanpa pikir panjang Daffa langsung mengangkat tubuh Adeeva yang sedikit berisi.


Di saat Daffa melangkah menuju tempat tidur membawa Adeeva, kilasan malam panas itu kembali melintas di benaknya.


Dia melihat wanita yang ditidurinya malam itu, tapi wajah si wanita terlihat samar-samar sehingga Daffa tak mengenalinya.


Daffa membaringkan Adeeva di atas tempat tidur, membiarkan wanita itu tertidur dengan pulasnya.


"Entah mengapa aku merasa ada suatu yang berbeda di dirimu," gumam Daffa sambil menatap wajah polos wanita itu di saat tidur dengan pulasnya.


Daffa pun melangkah menuju sofa, dia tahu alasan Adeeva memilih tidur di sofa, karena dirinya yang tidak sengaja tertidur di atas tempat tidur karena saking lelahnya.


Kini Daffa yang mengalah untuk tidur di sofa, dia merasa kasihan pada Adeeva yang kini tengah mengandung.


Saat azan subuh berkumandang, Adeeva terbangun dari tidurnya.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Adeeva.


Adeeva langsung menoleh ke arah sebelahnya untuk memastikan dia tidak tidur satu ranjang dengan Daffa.


"Di mana dia?" gumam Adeeva.


Adeeva mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.


"Astaghfirullah, kenapa dia yang tidur di sana? Perasaan tadi malam aku yang tidur di sana," gumam Adeeva.


Adeeva melihat Daffa kini meringkuk karena dingin.


"Kenapa dia tidak pakai selimut?" lirih Adeeva kasihan.


Adeeva pun turun dari tempat tidur, lalu mengambil selimut yang tadi dipakainya dan membawa selimut itu ke tempat Daffa berada.


Adeeva menyelimuti tubuh Daffa yang meringkuk kedinginan. Dia pun menatap dalam wajah tampan Daffa.


"Kamu pria yang sangat baik, aku bersyukur bisa bertemu denganmu, tapi pertemuan kita ini hanya sementara," gumam Adeeva sedih.


Adeeva sangat bahagia bisa berada di samping Daffa, keberadaan Daffa di sampingnya tidak membuat dirinya merasa kehilangan Axel sedikitpun.


Axel dan Daffa memang dia pria baik hati, tapi Adeeva merasakan sesuatu yang berbeda di saat bersama Daffa.


Setelah itu Adeeva pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan bersiap untuk menunaikan ibadah shalat subuh.

__ADS_1


Usai membersihkan diri, Adeeva pun melaksanakan shalat subuh. Dia selalu memohon pada Allah ampunan atas dosa yang telah dilakukannya, serta dia juga memohon segala kebaikan untuk dirinya dan anak yang ada di dalam kandungannya.


Saat Adeeva tengah berdo'a, Daffa terbangun dari tidurnya.


Dia merasa senang mengetahui tubuhnya diselimuti oleh Adeeva. Ada rasa bahagia yang menyelinap di hatinya.


Daffa melihat Adeeva yang tengah berdo'a. Dia menautkan keduanya alisnya melihat Adeeva.


Selama ini Daffa tidak pernah tahu tentang apa yang kini dilakukan oleh Adeeva, meskipun dia Islam yang dia tahu hanya shalat Jumat serta shalat idul Fitri dan idul adha karena memang di keluarganya tidak begitu memperdulikan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Daffa pada Adeeva setelah Adeeva membuka mukenanya.


"Aku melakukan tugasku sebagai seorang muslim," jawab Adeeva.


"Apakah kamu yakin tuhanmu ada?" tanya Daffa yang tidak terlalu mengerti tentang agama.


"Keberadaan Tuhan itu ada di sini, jika kita yakin Dia ada maka kita akan takut pada-Nya, dan tidak berani meninggalkan kewajiban kita terhadap-Nya," ujar Adeeva sembari menunjuk ke dada bidang Daffa.


Daffa menggenggam tangan Adeeva erat, dia menatap dalam pada wanita yang beberapa hari ini mulai mengisi hari-harinya.


"Jika aku ingin belajar shalat, apakah kamu mau mengajariku?" tanya Daffa lirih.


Adeeva tersenyum mendengar ucapan Daffa.


"Baiklah, aku akan mengajarimu," ujar Adeeva tersenyum.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu, setelah itu siap-siap untuk shalat," ujar Adeeva lagi.


"Nanti aku yang ajarin," ujar Adeeva lagi.


Akhirnya Daffa pun melangkah menuju kamar mandi, Adeeva tersenyum senang dengan niat Daffa yang ingin memperdalam ilmu agama.


Setelah mandi, Adeeva mulai mengajari Daffa shalat. Dia membacakan bacaan shalat dengan lantang dan Daffa pun melakukan gerakannya.


"Nanti akan aku download bacaan shalat secara keseluruhan, biar kamu lebih mudah menghapalkannya," ujar Daffa setelah selesai shalat.


Setelah itu mereka pun melangkah keluar dari kamar menuju ruang makan untuk menikmati menu sarapan hari ini.


Daffa dan Adeeva melangkah beriringan, mereka menuruni satu persatu anak tangga.


"Aaaaaaaa," pekik Adeeva.


Tiba-tiba kaki Adeeva terasa keram sehingga dia hampir saja jatuh dari tangga, beruntung Daffa yang melangkah lebih dulu menangkap tubuh Adeeva yang hampir jatuh.


Daffa memeluk erat tubuh Adeeva. Mereka pun saling menatap satu sama lain, mereka hanyut dalam rasa yang mereka sendiri tak mengerti artinya.


Di saat itu, Daffa dan Adeeva mengingat sekelebat malam panas yang pernah mereka lakukan. Adeeva merasa sentuhan Daffa pernah dirasakannya.

__ADS_1


Hal itu membuat jantung mereka bergemuruh, detaknya semakin tak beraturan.


Mereka merasa ada ikatan yang membuat hati mereka merasa sesuatu yang berbeda.


"Ada apa?" tanya Rossa yang keluar dari ruang makan karena mendengar suara teriakan Adeeva.


Mereka pun tersadar.


"I-ini, Mi. Adeeva hampir jatuh," jawab Daffa.


"Lalu bagaimana keadaan Adeeva?" tanya Rossa cemas.


"Mhm, syukurlah aku masih bisa menangkapnya, Mi," jawab Daffa.


"Ya udah, kamu peggangi dia dengan erat," perintah Rossa.


"Iya, Mi." Daffa pun merangkul pinggang Adeeva.


Adeeva kaget dengan apa yang dilakukan oleh Daffa, dia melirik tangan Daffa yang kini melingkar di pinggangnya.


Ingin rasanya dia menepis tangan itu, tapi hatinya merasa nyaman mendapatkan perlakuan tersebut.


Mereka kembali menuruni anak tangga.


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Rossa setelah Adeeva berada di samping Rossa.


"Iya, Mi. Aku enggak apa-apa, kok." Adeeva tersenyum.


"Lain kali hati-hati ya, Sayang," lirih Rossa.


"Iya, Mi." Adeeva mengangguk.


"Sari!" teriak Rossa memanggil kepala pelayan yang ada di rumah itu.


Tak berapa lama Sari pun datang menghampiri Rossa.


"Iya, Nyonya," sahut Bi Sari.


"Katakan pada Mang Udin, untuk bikin lift di pojok ruang keluarga, saya tidak mau Adeeva turun naik tangga," perintah Rossa sesaat itu juga.


"Baik, Nya." Sari mengangguk.


"Saya mau, lift itu selesai hari ini juga," perintah Rossa lagi.


"Baik, Nyonya," sahut Bi Sari.


Wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan itu bergegas menuju taman belakang memanggil Mang Udin dan menyampaikan perintah dari Nyonya besarnya.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun melangkah menuju ruang makan untuk menyantap menu sarapan pagi ini.


Bersambung...


__ADS_2