
"Apakah kami boleh masuk?" tanya Daffa lirih sembari melirik ke arah Axel.
Daffa dapat melihat tatapan tidak suka dari sahabatnya itu, untuk saat ini Daffa tengah memperjuangkan cintanya pada Adeeva.
Apa pun yang akan menjadi keputusan sahabatnya itu, Daffa siap menerimanya.
"Iya, Bang. Silakan masuk," ujar Kyara.
Kyara mengajak Daffa dan yang lainnya masuk ke dalam apartemen, dan menyuruh mereka duduk di ruang tamu.
Semua orang kini telah berada di ruang tamu, Kyara berinisiatif membuatkan teh untuk tamunya agar suasana yang tegang berubah menjadi rileks.
Tak berapa lama, Kyara datang membawakan teh buatannya, lalu menghidangkan teh tersebut di atas meja.
Mereka masih saja hening. Ainun semakin bingung dengan situasi yang dihadapinya saat ini, karena dia sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang akan dibahas di apartemen tersebut.
"Silakan diminum," ujar Kyara sambil tersenyum.
Kyara mencubit pelan lengan sang suami, memberi isyarat agar Axel tidak bersikap ingin.
Axel menoleh ke arah Kyara, dan Kyara pun melirik ke arah Daffa dan yang lainnya.
"Axel," lirih Daffa.
Akhirnya Daffa memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Mhm," gumam Axel menanggapi ucapan sang sahabat.
"Kenalkan, ini Ainun, dia adalah sahabat Adeeva," ujar Daffa.
Axel masih diam, dia menunggu ucapan Daffa selanjutnya.
"Saat itu, Adeeva dan Ainun berlibur di Bali. Mereka datang ke Bali atas undangan dari Dion," ujar Daffa lagi sembari menunjuk ke arah Dion.
Saat ini Axel memang sudah mengenal Dion, tapi dia tidak tahu alasan Dion ikut bersama Daffa pagi ini ke apartemennya.
Axel masih Diam.
"Ainun, ceritakan pada Axel apa yang sebenarnya yang telah kamu lakukan pada Adeeva saat berada di Bali," pinta Daffa pada Ainun.
Akhirnya Ainun pun menceritakan apa yang telah terjadi dari awal, dia juga tidak lupa menceritakan alasannya berniat buruk pada sahabatnya itu.
"Tuan Daffa adalah pria yang telah meniduri Adeeva di saat Adeeva tak sadarkan diri karena pengaruh obat yang aku berikan," ujar Ainun menjelaskan semua yang telah terjadi.
"Iya, Tuan. Semua ini adalah kesalahan kami, kami harap tuan mempercayai kami dan membiarkan Tuan Daffa dan Nona Adeeva bersatu agar mereka dapat membesarkan putra mereka," ujar Dion.
__ADS_1
Dion memperkuat ucapan Ainun, Daffa berharap Axel dapat menerima saksi yang telah dibawanya.
Daffa pun kini terdiam, dia menunggu respon dari Axel yang kini tampak berpikir.
"Ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan," ujar Axel masih menguji kekuatan cinta Daffa terhadap istri pertamanya.
"Apa?" tanya Daffa sambil menautkan kedua alisnya.
"Kamu harus melakukan tes DNA," ujar Axel lagi.
Axel ingin memastikan bayi Adeeva itu adalah putra dari sahabatnya.
"Baiklah, aku akan melakukan hal itu sekarang juga," ujar Daffa penuh keyakinan.
Axel hanya diam lalu dia pun melangkah ke kamarnya, saat ini dia tidak peduli perasaan sang sahabat.
Daffa hanya bisa memandangi punggung sahabatnya yang kini telah menghilang di balik kamar.
"Maafkan Bang Axel ya, Bang," lirih Kyara heran melihat sikap sang suami.
Dia Merasa tidak enak pada Daffa karena Axel yang bersikap dingin padanya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti bagaimana perasaan Axel saat ini," ujar Daffa berusaha memaklumi.
"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu," ujar Daffa pada Kyara.
Berhubung hari ini hari Sabtu, Dion tidak masuk bekerja.
Sementara itu, Daffa memilih untuk langsung menemui Adeeva di rumahnya.
Daffa menyewa sebuah mobil untuk dirinya selama berada di Padang, agar dia bebas ke mana saja untuk menyelesaikan urusannya.
Axel kini terdiam di dalam kamarnya, dia masih termenung.
Dia mulai yakin dengan apa yang dikatakan oleh Daffa, bahkan dia tanpa tes DNA pun dia sudah yakin bahwa baby Ghaffar adalah putra dari sahabatnya itu.
Hanya saja sedikit egonya yang belum bisa menerima kenyataan.
Kyara melihat Axel yang kini duduk di sofa kamarnya dan masih saja termenung.
Kyara mencoba membuka pintu kamar suaminya, dia melangkah menghampiri Axel.
Sang suami masih diam, seolah dia sama sekali tak menyadari akan keberadaan sang istri yang kini telah duduk di sampingnya.
"Bang," lirih Kyara mencoba mengajak sang suami berbicara setelah beberapa menit dirinya didiamkan oleh sang suami.
__ADS_1
Axel menoleh ke arah Kyara, dia menatap dalam wanita yang kini setia berada di sampingnya dalam kondisi apa pun.
Sikap Kyara memang jauh berbeda dengan Adeeva, saat Axel bersama Adeeva, istri pertamanya itu selalu bersikap bagaikan seorang teman yang masih harus memperhatikan berbagai batasan.
Sedangkan Kyara, dia berada di sisi Axel sebagai seorang teman hidup yang menjadi tempat berbagi di situasi apa pun.
Axel memang belum terlalu mengenali sosok Kyara dengan baik, tapi sikap anehnya yang menjadi awal perkenalan mereka kini tak terlihat lagi.
Kyara mulai sedikit lebih dewasa dari biasanya.
Mungkin sikap dingin Axel selama ini membuat dirinya terus berusaha berbenah diri agar sang suami dapat merasakan keberadaan dirinya di samping sang suami.
Kyara pun membelai lembut punggung Axel, dia memberikan semangat pada sang suami.
"Sabar ya, Bang. Mungkin kamu dan Kak Adeeva memang belum berjodoh," ujar Kyara dengan hati-hati.
Dia takut ucapannya akan membuat Axel semakin sedih dan murung.
"Lalu, apakah kamu mengira kita yang berjodoh?" gumam Axel di dalam hati.
Dia terus menatap wajah Kyara yang terlihat masih sangat polos.
"Maaf, jika aku salah bicara," lirih Kyara menundukkan kepalanya.
Dia tidak tahu arti tatapan sang suami yang semakin dalam, tatapan itu membuat Kyara gugup, dia merasa bersalah.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" tanya Axel lirih.
"Apa maksudmu?" lirih Kyara
Kyara mencoba menatap mata sang suami, perlahan tatapan mereka beradu. Di saat itu, Axel berusaha mencari cinta di mata istri keduanya.
Saat ini memang belum ada cinta di dalam hati Kyara, dia masih mencoba mempertahankan kehormatannya yang sudah diambil oleh sang suami pada malam pertama. Sehingga pancaran cinta yang dicari Daffa sama sekali tidak terlihat.
Pertanyaan Axel, dibalas dengan pertanyaan juga.
Kini kedua pasang suami istri itu saling menatap dalam. Mereka mulai mengarungi perasaan masing-masing.
Perlahan wajah mereka semakin mendekat hingga kini wajah Kyara dan wajah Axel.
Mereka terus menyelami hati mereka masing-masing, jantung mereka terus berdetak semakin kencang.
Tanpa disadarinya, Axel kini mulai mengec*p b*b*r tipis milik istri keduanya.
Kyara pun mulai menikmati, kec*pan mendadak yang diberikan oleh sang suami.
__ADS_1
"Apa yang aku lakukan?" lirih Axel.
Bersambung...