
"Apa maksud pertanyaan kamu, Bang?" tanya Kyara merasa pertanyaan itu aneh di telinganya.
"Kenapa kamu rela berada di sampingku?" tanya Axel lagi.
"Aku kan istrimu, sebagai seorang istri aku akan tetap menemanimu," jawab Kyara santai.
Hati Axel merasa terketuk saat mendengarkan ucapan Kyara.
Seketika Axel teringat pada Adeeva, sebagai seorang istri Adeeva belum melakukan hal yang telah dilakukan oleh Kyara.
Selama ini Adeeva memang menjadi istrinya, tapi Adeeva tidak pernah memperlakukan dirinya layaknya sang suami, Adeeva lebih bersikap sebagai seorang teman di sampingnya.
"Apakah aku harus melepaskan Adeeva, dan mencoba memulai hidup baru dengan Kyara?" gumam Axel di dalam hati.
Saat ini dia mulai bimbang dengan perasaannya.
"Bang, bagaimana sekarang? Apakah masih mual?" tanya Kyara pada sang suami.
"Mhm, sedikit," jawab Axel.
"Gimana kalau makan sandwich ini dulu, biar tambah tenaga, kelihatannya kamu pucat sekali," ujar Kyara merasa kasihan pada sang suami.
Axel mengangguk, setelah berkali-kali dia memuntahkan semua isi perutnya dia merasa sangat lapar.
"Mhm, baiklah. Aku suapin, ya," " ujar Kyara.
Kyara mengambil pisau dan garpu yang telah disediakannya di atas nampan.
Lalu dia pun memotong sandwich itu, perlahan dia menyuapi sang suami dengan penuh telaten.
Padahal selama ini Kyara tidak pernah melakukan hal ini pada siapa pun, karena dia adalah anak bungsu yang sangat dimanja.
Perlahan dia belajar menjadi seorang wanita dewasa, dia sering membuka artikel-artikel mengenai cara menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Axel terus menatap wajah polos dan imut istri keduanya, dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri wanita itu.
"Kamu kenapa liatin aku seperti itu, Bang? Nanti naksir lho," celetuk Kyara bercanda.
"Hehehe." Axel tertawa mendengar ocehan sang istri.
"Lho, kok ketawa?" tanya Kyara heran.
"Emang enggak boleh ketawa?" tanya Axel sambil tersenyum.
"Enggak," sahut Kyara memasang wajah cemberut.
"Emangnya enggak boleh seorang suami naksir sama istrinya?" tanya Axel sembari menatap dalam ke arah istrinya.
Deg.
Jantung Kyara seakan berhenti berdetak mendengarkan ucapan sang suami.
__ADS_1
Dia tak menyangka sang suami akan berkata seperti itu.
Seketika wajah Kyara berubah memerah, dia tersipu mendengar ucapan sang suami.
"A-aku beresin ini dulu, ka-kalau kamu butuh aku, panggil saja," ujar Kyara.
Kyara berdiri sembari mengambil piring bekas sarapan suaminya.
Dia melangkah keluar dari kamar Axel, dia tak bisa berlama-lama lagi di sana, dia takut akan salah tingkah.
Kyara melangkah menuju dapur, setelah dia meletakkan piring bekas sang suami di tempat cucian piring, dia pun menyantap sandwich buatannya yang memang sengaja dibuatnya untuk dirinya.
Kyara menyantap sandwich itu dengan lahap sambil membayangkan kata-kata sang suami tadi, dia tersenyum malu.
Hatinya berbunga-bunga bahagia, saat ini hatinya mulai terisi oleh pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Entah mengapa Kyara masih merasa lapar setelah menyantap habis 2 porsi sandwich yang dibuatnya tadi.
"Aduh, kenapa aku masih lapar?" gumam Kyara.
Kyara pun mengambil beberapa buah apel dan pir yang ada di dalam kulkas, dengan sekejap dia menghabiskan 2 buah apel dan 2 buah pir.
Dia masih saja merasa lapar, akhirnya Kyara pun mengambil satu kotak susu uht yang tersedia di dalam kulkas.
Setelah menghabiskan susu uht tersebut barulah dia merasa kenyang.
"Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga," gumam Kyara.
"Aku tak menyangka, badan kecil seperti kamu, bisa menghabiskan banyak makanan," ujar Axel setelah Kyara selesai makan.
"Hah?" Kyara kaget melihat sang suami kini sudah berada di ruang makan.
Dia pun duduk di kursi meja makan.
"Kamu sejak kapan berdiri di sana, Bang?" tanya Kyara malu.
"Sejak awal kamu mulai menyantap menu sarapanmu," jawab Axel santai.
"A-apa?" Kyara merasa sangat malu.
Lagi-lagi wajahnya memerah, saat ini dia benar-benar malu pada sang suami.
Axel pun menghampiri Kyara, dia menatap dalam sang istri, Kyara merasa gugup, dia berusaha untuk berdiri.
Axel terus mendekati sang istri, Kyara tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya melangkah mundur hingga punggungnya terbentur kulkas.
"A-apa yang ka-kamu la-la-kukan, Ba-bang?" lirih Kyara semakin gugup.
Jantungnya kini berdetak tak keruan.
Axel mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri, hingga kini bibir mereka berjarak hanya beberapa centimeter lagi.
__ADS_1
Axel yang saat ini dibalut rasa yang dirinya sendiri tidak tahu apa, meraup bibir mungil sang istri, dia ******* bib*r sang istri hingga Kyara tak dapat bernapas.
Seketika rasa mual dan lemasnya hilang begitu saja.
Kyara mendorong tubuh sang suami, karena dia merasa kesulitan bernapas.
"Bolehkah aku menginginkan dirimu," bisik Axel.
Sebagai seorang pria dewasa, Axel yang baru sekali merasakan kenikm*tan hubungan b*d*n dengan istrinya menginginkan hal itu terjadi lagi.
Kyara terdiam sejenak mendengar ucapan sang suami.
"A-aku,--" Belum selesai Kyara menjawab permintaan sang suami, Axel pun mengangkat tubuh Kyara.
Dia menggendong tubuh kecil itu masuk ke dalam kamar, lalu dia pun mulai beraksi.
Mereka pun larut dalam pergulatan panas yang membuat sepasang suami istri itu hanyut dalam lautan cinta.
Axel menghempaskan tubuhnya di samping sang istri setelah dia melepaskan lah*r panas di dalam lembah penuh kenikm*tan itu.
Dia memeluk tubuh mungil Kyara dengan erat.
"Aku akan berusaha mencintaimu," bisik Axel.
Kyara hanya diam, dia merasa bahagia dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sang suami terhadapnya.
Kini mereka saling berpelukan di bawah selimut tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Tuhan, terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku," gumam Kyara di dalam hati bahagia.
"Setelah Daffa membawa Adeeva, aku akan seutuhnya memiliki suamiku," gumam Kyara lagi di dalam hati.
Kyara membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Dia membalas pelukan erat sang suami.
Mereka pun kini terlelap karena lelah. Hampir 2 jam mereka tertidur.
Kyara terbangun dari tidurnya karena mendengar seseorang menekan tombol bel apartemen mereka.
Kyara menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamar itu
Kini jam dinding itu menunjuk ke angka 11.
Kyara pun berusaha turun dari tempat tidur, dia melangkah perlahan meraih jubah dasternya.
Dia memasang jubah itu, lalu melangkah keluar untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang bertamu.
"Axel di mana?" tanya sang tamu setelah Kyara membuka pintu apartemen.
"Ada di kamar," jawab Kyara.
__ADS_1
Bersambung...