Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 26


__ADS_3

"Iya, Sayang. Kamu saat ini tengah hami buah cinta kalian," ujar Gita memperjelas ucapannya.


Adeeva langsung menoleh ke arah Axel yang kini fokus pada ponselnya, pria tampan itu hanya menunduk, sedikitpun dia tak menatap istrinya.


"Ya Allah, kenapa Engkau mengungkap semua ini di saat aku masih ingin bersamanya?" gumam Adeeva di dalam hati.


Buliran bening jatuh begitu saja di pip Adeeva.


"Deev," lirih Gita heran melihat sang menantu yang menangis.


"Kamu nangis?" tanya Gita heran.


"Mhm, ti-tidak, Ma. A-aku ha-hanya,--"


"Adeeva pasti terharu mendapat kabar bahagia ini makanya dia nangis, itu tandanya air mata bahagia, Ma," ujar Rasyid yang kini sudah berada di belakang istrinya.


"Eh, i-iya, Ma." Adeeva mengangguk lalu mengusap buliran bening yang membasahi pipinya.


"Terima kasih ya, Nak. Papa dan mama sangat bahagia, semoga anak yang di dalam kandunganmu laki-laki, agar bisa menjadi penerus dalam keluarga kita," ujar Rasyid ikut bahagia.


"I-iya, Pa," lirih Adeeva gugup.


Adeeva masih memperhatikan reaksi suaminya yang terlihat sangat cuek.


"Maafkan aku, kamu pasti sangat kecewa padaku, saat ini kamu pasti sangat membenciku," gumam Adeeva menatap Axel sendu.


Sejenak Adeeva terlibat percakapan dengan mama dan papa mertuanya, kedua orang tua Axel terlihat asyik mengobrol dengan Adeeva karena mereka melihat Axel kini asyik dengan ponselnya, mereka mengira saat ini Axel tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai.


Sebenarnya yang asyik mengobrol bukanlah Adeeva dan kedua mertuanya tapi antara Gita dan Rasyid. Mereka berdua asyik bercerita tentang masa-masa kehamilan Gita di masa lalu, sedangkan Adeeva hanya mengangguk sambil terus memandangi sang suami.


Saking asyiknya mengobrol Rasyid dan Gita tak menyadari bahwa waktu berlalu dengan cepat, tanpa mereka sadari waktu Dzuhur hampir masuk.


Seorang dokter masuk ke dalam ruangan Adeeva, sehingga mereka pun menghentikan obrolan mereka.


"Permisi," sapa sang dokter saat masuk ke dalam ruangan itu.


Gita dan Rasyid menoleh ke arah sang dokter, mereka pun tersenyum dengan ramah.


"Bolehkah saya periksa pasien?" ujar sang dokter sambil tersenyum.


Dokter itu pun berdiri di samping Adeeva dengan didampingi seorang perawat di sampingnya.

__ADS_1


Dokter pun mulai memeriksa keadaan Adeeva saat ini.


"Alhamdulillah, keadaan nona Adeeva sudah mulai membaik, hanya saja dia masih lemah, jadi Nona Adeeva masih harus dirawat hingga beberapa hari ke depan, agar kandungannya baik-baik saja," ujar sang dokter.


"Iya, Dok. Tidak apa-apa, jika itu yang terbaik," sahut Gita.


Wajah bahagia terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu.


Hal ini membuat Adeeva merasa sangat bersalah pada wanita yang sudah menganggap dirinya sebagai putrinya.


Kasih sayang Gita tak berbeda sama sekali dengan kasih sayang Gita terhadap Axel, suami Adeeva.


"Ma, maafkan Adeeva. Adeeva sudah membohongi kalian semua, aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang telah kalian berikan padaku," gumam Adeeva di dalam hati.


Tak berapa lama setelah memeriksa Adeeva dokter pun meninggalkan ruang rawat Adeeva.


"Axel," panggil Rasyid yang kini sudah duduk tepat di hadapan putranya.


Pria tampan itu menghentikan kegiatannya yang mengotak-atik ponselnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di hadapannya.


"Segitu banyaknya pekerjaanku sehingga kamu mengabaikan Adeeva?" tanya Rasyid heran.


Pria paruh baya itu menaruh rasa curiga melihat sikap Axel yang agak cuek pada istrinya di saat berita bahagia yang mereka dapat.


"Oh, ya sudah, kamu cari makan siang untukmu terlebih dahulu. Setelah ini mama dan papa harus pergi, biar kamu yang menemani Adeeva sementara," ujar Rasyid pada putranya.


Jangankan makan siang, sarapan saja. Axel sudah lupa karena rasa sakit di hatinya.


Rasa lapar hilang begitu saja, sedikit pun dia tak berselera mengisi perutnya yang kosong dengan apa pun.


"Tidak usah, Pa. Nanti kalau aku lapar aku pesan online saja. Kalau papa dan mama memang harus pergi, biar aku yang jaga Adeeva di sini," ujar Axel.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


"Ma, ayo kita pergi." Rasyid pun memanggil istrinya dan mengajaknya pulang.


"Iya, Pa." Gita yang masih bersama Adeeva pun menghampiri suaminya.


Setelah itu kedua orang tua Axel pun meninggalkan Axel dan Adeeva di ruangan itu.


Axel berdiri di depan pintu menatap ke arah Adeeva yang kini berbaring di atas brangkar. Tatapan pria itu tak dapat diartikan.

__ADS_1


Adeeva dapat merasakan sakit dan kecewa yang dirasakan Axel saat ini, dia juga menatap sendu ke arah sang suami.


Mereka saling memandang dalam jarak yang jauh.


"A-axel," lirih Adeeva memanggil sang suami.


Perlahan Axel melangkah menghampiri sang istri, dia masih menatap kecewa pada wanita yang sangat dicintainya itu.


Adeeva meraih tangan Axel yang kini telah berdiri tepat di sampingnya.


"Axel, ma-maafkan a-aku," lirih Adeeva hancur.


Axel menatap tangan sang istri yang kini menggenggam erat tangannya.


Perlahan Axel melepaskan tangan Adeeva, bayangan sang istri telah melakukan hubungan int*m dengan pria lain terlintas di benaknya.


"Maaf, hiks." Adeeva mulai menangis.


Dia tidak tahu harus berbuat apa, dia tahu semua ini adalah kesalahannya yang tidak berterus terang pada keluarga Axel sebelum menikah.


Wanita itu dapat melihat wajah kecewa dan hancur dari paras tampan sang suami, keceriaan dan keramahan yang selama ini terpancar di wajah tampan itu sirna.


Kini yang ada hanya tatapan dingin dan datar.


Adeeva benar-benar menyesali apa yang telah terjadi.


Axel masih berdiri di samping Adeeva, sementara itu Adeeva kini menutup wajahnya dan menangis.


1 hari telah berlalu, tak banyak kata yang keluar dari mulut pria tampan baik hati dan ramah itu, begitu juga dengan Adeeva. Dia memilih untuk diam terlebih dahulu hingga akhirnya Adeeva diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Sore ini, Axel menjemput Adeeva di rumah sakit, kedua orang tuanya tidak bisa ikut karena ada acara keluarga yang harus mereka hadiri.


Sepanjang perjalanan Axel hanya diam, pikirannya masih kacau. Dia belum tahu harus berbuat apa terhadap istrinya.


Rasa benci dan luka kini silih berganti, ingin mencampakkan sosok wanita yang dicintainya itu, tapi ada ruang di hatinya tidak tega melakukan itu.


Saat ini dia tengah berpikir dan menimbang keputusan apa yang harus diambilnya dalam situasi yang kini dihadapinya.


Axel membantu Adeeva masuk ke dalam rumah, sesampai di kamar Axel langsung ke luar dari kamar.


"Axel, semarah itukah dirimu padaku?" lirih Adeeva sedih.

__ADS_1


"Baiklah, mungkin hal ini jalan yang terbaik yang harus aku tempuh," lirih Adeeva lagi.


Bersambung...


__ADS_2