Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 30


__ADS_3

Axel mengusap kasar wajahnya.


"Adeeva!" teriak Axel panik.


Axel merutuki kebodohannya yang telah meninggalkan Adeeva saat mereka telah sampai di rumah.


"Kenapa, Axel?" tanya Gita.


Gita ikut panik melihat putranya yang mencari-cari sang istri.


"Adeeva pergi, Ma," lirih Axel.


Axel yang masih panik memilih melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dia teringat bahwa dirinya belum menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat subuh.


Gita terdiam mendengar ucapan sang putra, dia pun mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi antara dirinya dan sang menantu.


Selama ini Gita dan Rasyid dapat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah putra dan menantu ya, sedikitpun tak ada masalah yang membuat mereka renggang.


Gita pun duduk di pinggir tempat tidur, dia juga melihat secarik kertas yang ditulis Adeeva di atas tempat tidur.


Dia memilih menunggu putranya selesai mandi dan shalat.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" tanya Gita mengulangi pertanyaannya setelah Axel selesai shalat subuh.


Axel belum menjawab pertanyaan dari wanita yang melahirkannya itu, karena dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


Dia yang kini terpukul tak sanggup memberitahu orang tuanya bahwa anak yang ada di dalam kandungan Adeeva bukanlah darah dagingnya.


Axel mengambil ponselnya yang terletak di bawah bantal, dia hendak mencoba menghubungi Adeeva, paling tidak dia dapat mengetahui di mana keberadaan istrinya.


Axel terdiam saat membuka ponselnya. Dia mendapatkan sebuah pesan dari sang istri.


Assalamualaikum, Axel.


Saat kamu baca pesanku ini, mungkin aku telah berada jauh darimu.


Aku minta maaf atas kebohongan yang aku simpan selama ini, tak seharusnya Kamu menikahi wanita yang mengandung janin pria yang sama sekali tak dikenalinya, ya aku telah mengandung janin pria yang aku sendiri tidak tahu siapa dan kapan itu terjadi.


Maafkanlah kesalahanku serta kedua orang tuaku yang telah menyembunyikan hal penting ini sebelum kita menikah.


Ini adalah salah satu alasan bagiku tak bisa menjadi istrimu seutuhnya, karena aku takut pernikahan kita tidak sah, maka kita akan melakukan dosa setiap kali berhubungan.


Sekali lagi aku minta maaf padamu, wahai pria paling baik hati yang aku kenal.


Terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang selama ini kamu berikan padaku, semua itu akan aku jadikan kenangan terindah di dalam hidupku.


Aku harus pergi sebelum kamu mengusirku, karena aku tahu kamu pasti sangat kecewa dan terluka karena kenyataan ini.

__ADS_1


Maafkan aku, Axel


wassalam.


Axel menjatuhkan ponselnya di atas kasur setelah selesai membaca pesan itu, dia tidak menyangka Adeeva akan berbuat nekat seperti ini.


Dia pun terduduk dalam diam.


"Axel, apa yang terjadi?" tanya Gita pada putranya.


Gita semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi.


Gita mengambil ponsel Axel yang masih menyala di atas kasur.


Dia pun mulai membaca pesan yang dikirim oleh menantunya itu.


"Axel, katakan ini tidak benar," ujar Gita ikut terpukul.


Rasa bahagia yang menyelimuti hari-harinya beberapa hari ini sirna begitu saja.


Dia tak percaya sahabat suaminya itu menikahkan putri mereka dengan menyimpan sebuah rahasia besar.


"Ini tidak bisa dibiarkan," ujar Gita lagi.


Gita mulai emosi, dia merasa keluarganya telah dipermainkan oleh keluarga Haikal.


"Ma, aku mohon jangan beritahu papa, cukup kita yang tahu masalah ini," lirih Axel penuh harap.


Axel tidak mau kedua orang tuanya bermasalah dengan kedua orang tua Adeeva.


"Tidak bisa begini, Axel. Mereka telah mempermainkan perasaan kita, kita harus minta penjelasan semua ini dari kedua orang tua Adeeva," ujar Gita masih tak terima.


"Tidak, Ma. Aku mohon, ini d mi aku," lirih Axel memohon.


Gita pun terdiam, lalu dia memeluk tubuh putranya. Dia memberikan kehangatan pada sang putra agar putranya dapat tenang, dan luka di hatinya sedikit terobati.


"Ma, aku akan cari Adeeva. Jika papa bertanya, katakan aku memang sempat bertengkar dengan Adeeva, sehingga dia kabur dari rumah, jangan katakan apa yang sebenarnya telah terjadi," ujar Axel lagi pada mamanya.


Mau tak mau Gita harus mengikuti ucapan sang putra, dia tidak ingin aksi protesnya terhadap keluarga Adeeva akan menambahkan luka di hati putra semata wayangnya itu.


Axel keluar dari kamarnya, dia pun langsung masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah.


Saat ini dia sama sekali tidak tahu harus mencari Adeeva ke mana, dia terus melajukan mobilnya menuju kediaman Haikal.


Dia mencoba memastikan Adeeva ada di rumah orang tuanya atau tidak.


Axel memarkirkan mobilnya tak jauh dari kediaman keluarga Haikal, dia memperhatikan gerak gerik orang-orang yang ada di rumah itu.

__ADS_1


Rumah Haikal tidak terlalu besar seperti rumah Rasyid sehingga dengan mudah dia dapat membaca situasi di rumah tersebut.


Pada pukul 07.15 Axel melihat Haikal keluar dari rumah bersama istrinya.


Axel juga melihat dengan jelas ibu Adeeva mengunci pintu rumah sebelum dia masuk ke dalam mobil, itu artinya Adeeva sedang tidak berada di rumah itu.


"Berarti Adeeva tak pulang ke rumahnya, ke mana dia? Ke mana aku harus mencarinya?" gumam Axel.


Axel yang sebelum menikah tidak terlalu mengenal teman-teman Adeeva semakin bingung harus mencari istrinya ke mana.


"Deev, kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan terluka seperti ini?" gumam Axel.


"Ini semua salahku, seandainya aku tak bersikap dingin padanya, mungkin Adeeva tidak akan pergi. Seandainya kemarin sore aku bicara baik-baik dengannya, dia tidak akan pergi membawa deritanya seorang diri," gumam Axel lagi.


Axel terus menyalahkan dirinya atas kepergian Adeeva dari rumahnya.


"Aaaarrggghhh," teriak Axel.


Axel memukul stir mobil kesal pada dirinya sendiri.


****


"Rin, aku pergi dulu, ya." Adeeva berpamitan pada Ririn setelah siap mengemasi barang-barangnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ririn pada Adeeva.


"Mhm, aku harus pergi jauh dari kota ini. Aku akan memulai kehidupan baruku," jawab Adeeva dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Kamu hati-hati, ya," ujar Ririn.


"Mhm, iya. Terima kasih kamu sudah memberikan tumpangan untukku malam ini, semoga kamu lekas mendapat pekerjaan lagi," ujar Adeeva.


Akhirnya mereka pun berpisah setelah taksi online yang dipesan Adeeva berhenti di depan kost Ririn.


"Kita langsung ke bandara ya, Pak," ujar Adeeva pada si sopir taksi.


Setelah itu sopir taksi pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan kost Ririn menuju Bandara Internasional Minangkabau.


Sepanjang perjalanan Adeeva menatap kosong keluar jendela mobil, pikirannya kini bercabang tapi dia selalu berusaha menguatkan hati untuk tetap dengan keputusannya.


Sesampai di Bandara Adeeva langsung memesan tiket tujuannya, lalu masuk ke dalam bandara.


Kini Adeeva tengah duduk di ruang tunggu bandara sambil memegang sebuah tiket pesawat tujuannya.


Dia menatap pada tiket yang ada di tangannya.


"Kita akan mulai kehidupan baru kita, kita harus kuat ya, Nak," lirih Adeeva sambil mengelus lembut perutnya yang masih terlihat datar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2