
Kyara terdiam mendengar ucapan Adeeva.
"Kya, aku yakin kamu bisa meraih cinta Axel. Kamu harus berjuang meraih cintanya," ujar Adeeva memberi semangat pada Kyara.
Saat ini Kyara memang belum jatuh cinta pada Axel, tapi demi sebuah kehormatannya yang sudah direnggut oleh Axel dia ingin Axel bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
"Terima kasih, Kak. Aku akan berusaha mendapatkan cinta Axel," lirih Kyara.
Adeeva tersenyum bahagia. 2 wanita itu pun saling berpelukan.
"Ya Allah, semoga hubungan Kyara dan Axel bisa membaik dan menjadi suami istri yang saling mencintai," gumam Adeeva di dalam hati.
"Terima kasih, Tuhan. Mungkin inilah langkah yang harus aku jalani," gumam Kyara di dalam hati.
Kyara yang awalnya takut untuk bersaing dengan Adeeva, kini dia tak perlu lagi risau untuk menyingkirkan Adeeva dari sisi Axel.
Saat ini dia hanya perlu berjuang untuk meraih cinta Axel, agar Axel mau melepaskan Adeeva sebagai istrinya.
"Kamu sudah sadarkan diri?" tanya Axel yang tiba-tiba datang.
Dia masuk bersama seorang perawat yang menggendong seorang bayi.
Adeeva menoleh ke arah Axel yang sudah berada di sampingnya.
Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah perawat yang kini juga berada di sampingnya lagi.
Si perawat memberikan si bayi pada Adeeva.
"Di susui dulu ya, Nyonya. Semoga bayinya semakin sehat," ujar si perawat pada Adeeva.
Adeeva menatap si bayi dengan sumringah.
Dia sangat senang bertemu dengan bayi yang selama ini dikandungnya.
Adeeva menyambut si bayi lalu meletakkan bayi mungil itu di dalam pangkuannya.
"Silakan, Nona, bayinya disusui dulu," ujar perawat mengulangi ucapannya.
Adeeva menoleh ke arah Axel, dia menunggu Axel keluar dari ruangan itu.
Melihat lirikan Adeeva, akhirnya Axel sadar apa sebenarnya yang ditunggu sang istri.
Meskipun mereka suami istri yang sah di mata hukum dan agama, tapi Adeeva enggan memperlihatkan bagian tubuhnya yang intim pada Axel.
"Aku ke kantin dulu cari minuman," ujar Axel pada Adeeva.
Akhirnya Axel keluar dari ruangan itu.
"Begitu sulitnya aku meraih hatimu, Deev. Apa sebenarnya yang ada di hatimu?" lirih Axel sembari melangkah keluar.
Ada rasa kecewa menyelinap di hati Axel, tapi dia terus berusaha memaklumi apa yang dilakukan oleh Adeeva.
Rasa cinta Axel terhadap Adeeva begitu berlebihan sehingga membuat pria tampan dan baik hati itu tidak dapat berpikir secara rasional.
Adeeva memperhatikan wajah si bayi dengan cermat sembari memberikan ASI pada bayinya.
"Daffa," lirih Adeeva saat dia melihat wajah tampan bayinya.
Entah mengapa saat melihat wajah si bayi, seketika dia teringat dengan wajah tampan pria yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Kyara membantu Adeeva meletakkan bayinya di atas box bayi yang telah tersedia di ruangan itu setelah Adeeva selesai memberi ASI pada si bayi.
"Kya," lirih Adeeva.
Kyara menoleh ke arah Adeeva.
"Kamu harus ingat apa yang aku katakan, kamu harus bisa meraih cinta Axel. Aku akan berusaha pergi dari kehidupan Axel," ujar Adeeva lagi.
"Baik, Kak. Terima kasih," lirih Kyara.
Adeeva pun bersiap untuk kembali melanjutkan istirahatnya.
Saat Adeeva dan bayinya tertidur.
Axel pun masuk ke dalam ruangan itu.
"Bang," lirih Kyara memanggil Axel.
Kyara mencoba memulai berkomunikasi dengan Axel dengan cara yang berbeda.
Umur Kyara memang terpaut jauh dari Axel dan Adeeva, sehingga dia berinisiatif untuk memanggil Axel dengan sebutan 'Bang'.
Axel menoleh dengan ke arah Kyara, dia merasa heran mendengar Kyara memanggilnya dengan sebutan 'Bang'.
Kyara menghampiri Axel, setelah berbicara dengan Adeeva tadi Kyara bertekad akan melakukan berbagai cara agar Axel bisa melirik dirinya.
"Kamu pasti lelah, apakah kamu sudah makan?" tanya Kyara sok perhatian pada Axel.
"Aku sudah makan, jangan pedulikan diriku," ujar Axel ketus.
"Bagaimana aku bisa tak peduli denganmu, sementara itu aku adalah istrimu," ujar Kyara.
Axel menautkan kedua alisnya heran dengan sikap Kyara yang terlihat berubah.
Kyara menarik tangan Axel ke sofa yang tadi didudukinya.
Axel berusaha menahan dirinya, hal ini membuat mereka terjatuh terhempas ke sofa.
Axel berada di atas tubuh Kyara, dia dapat melihat wajah anggun yang dimiliki oleh istri keduanya itu.
Dia terus menatap dalam pada Kyara, begitu juga dengan Kyara, dia menatap dalam pada pria yang telah merenggut kehormatannya itu.
Jantung mereka berdetak dengan kencang, keduanya larut dalam rasa yang mereka sendiri tak mengerti artinya.
"Sampai kapan kau akan menindihku?" tanya Kyara setelah Kyara sadar dari lamunannya.
"Eh," lirih Axel.
Axel pun berusaha berdiri, dia terlihat gugup setelah apa yang terjadi, sedangkan Kyara tersenyum melihat Axel yang salah tingkah.
Kyara melihat wajah Axel yang kini mulai memerah menahan rasa malu.
"Kak Adeeva baru saja tertidur, jika kamu mau istirahat, istirahatlah terlebih dahulu," ujar Kyara berusaha mencairkan suasana.
"Oh," lirih Axel.
Setelah itu Kyara mengajak Axel duduk di sofa.
"Bang," lirih Kyara.
__ADS_1
Axel menoleh ke arah istri keduanya yang kini duduk di sampingnya.
"Mhm, meskipun kamu tak mencintaiku, tapi aku adalah istrimu. Kamu berkewajiban untuk bersikap adil padaku dan kak Adeeva," ujar Kyara meminta Axel untuk bersikap adil antara dirinya dan Adeeva.
Axel terdiam mendengar ucapan istri keduanya.
Dia sadar apa yang telah dilakukannya memang salah dalam bersikap.
Axel juga sadar, dia memang harus bertanggung jawab pada Kyara karena dia telah merenggut harta yang paling berharga bagi Kyara.
Axel terdiam lama memikirkan apa yang dikatakan oleh Kyara.
"Kamu pulanglah untuk istirahat, aku akan suruh Damar mengantarkanmu pulang. Kamu juga butuh istirahat," ujar Axel mengalihkan topik pembicaraan.
"Tapi, siapa yang akan menjaga kak Adeeva?" tanya Kyara menolak disuruh pulang.
"Adeeva biar aku yang menjaganya, seharian ini kamu belum istirahat sama sekali. Besok jika kamu mau datang, aku akan menyuruh Damar menjemputmu," ujar Axel.
Kali ini Axel akan berusaha bersikap baik pada Kyara.
Ingin rasanya Kyara menolak, tapi dia ingat pesan Adeeva untuk meraih perhatian Axel, akhirnya Kyara pun setuju untuk pulang terlebih dahulu.
****
Satu minggu Daffa berlibur di kota Padang, dia kembali ke Bali dengan hati yang mulai tenang.
Selama berada di ranah minang itu, Daffa dan Alex berkeliling tempat wisata yang ada di sumatera barat.
Mereka menghabiskan waktu seminggu untuk menikmati keindahan alam ranah Minang yang sangat terkenal dengan keindahan alam yang memanjakan mata.
Mereka baru saja sampai di bandara.
Saat keluar dari Bandara sopir pribadi keluarga Daffa sudah menunggu.
Saat melihat Daffa dan Alex, sang sopir langsung membukakan pintu mobil.
Sang sopir pun ikut masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
Mereka sampai di kediaman Daffa setelah menempuh perjalanan 30 menit dari bandara.
Saat sang sopir menghentikan mobil di gerbang rumah Daffa, seseorang datang menghampiri mobil itu.
Seorang pria dengan pakaian lusuh, dan penampilan dekil menggedor-gedor pintu mobil yang ditumpangi Daffa.
"Daffa, buka buka pintunya," ujar pria itu memanggil-manggil Daffa.
Daffa kaget melihat sosok pria itu beraninya memanggil namanya saja tanpa menyebut kata Tuan.
"Siapa itu, Pak?" tanya Daffa pada si sopir.
"Saya kurang tahu, Tuan. Tiga hari ini pria itu selalu datang ke sini mencari tuan," jawab si sopir.
"Ada apa dia mencari saya?" tanya Daffa heran.
"Saya juga tidak tahu, Tuan," jawab si sopir yang memang tidak tahu apa-apa.
Daffa menautkan kedua alisnya. Dia pun membuka pintu mobil, lalu menemui pria itu.
"Daffa," lirih si pria.
__ADS_1
"Kau?" Daffa benar-benar kaget saat melihat pria dekil itu adalah salah satu temannya.
Dia tak percaya dengan keberadaan si pria di hadapannya saat ini.