
"Terima kasih, Sayang," ucap Gita bahagia.
Sebagai seorang ibu yang merindukan seorang cucu dari putranya, Gita langsung memeluk tubuh putranya.
Axel masih diam, pikirannya mulai kacau.
Hatinya benar-benar hancur saat mendengar kabar dari dokter. Rasa sakit hatinya bagaikan ditusuk sembilu begitu dalam.
"Ya Allah, apakah ini alasan Adeeva tak mau kusentuh? Apakah ini yang disembunyikannya selama ini?" gumam Axel di dalam hati.
"Pa, sebentar lagi kita akan memiliki cucu," ujar Gita riang.
Gita melepaskan pelukannya dari tubuh sang putra, lalu menghampiri sang suami memberitahu kabar bahagia yang juga didengar oleh Rasyid.
Rasyid juga sangat bahagia mendengarkan ucapan dokter, mereka memang sudah tidak sabar lagi untuk memiliki cucu dari putra semata wayangnya.
"Saat ini nona Adeeva butuh istirahat, kami akan memindahkannya ke ruang rawat, agar keluarga bisa menjaganya di sana," ujar dokter.
Lalu pria berkemeja putih itu pun meninggalkan Axel dan keluarganya.
Tak berapa lama, 2 orang perawat membawa keluar brangkar yang ditempati oleh Adeeva dari ruang pemeriksaan menuju ruang rawat inap.
Gita dan Rasyid langsung mengikuti kedua perawat itu, saking bahagianya mereka mendapatkan cucu, mereka lupa dengan reaksi Axel yang masih syok dengan berita yang diberi oleh dokter.
Dengan langkah gontai, Axel pun mengikuti langkah kedua orang tuanya menuju ruang rawat Adeeva.
Di dalam ruang rawat, Gita dan Rasyid duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Sedangkan Axel kini duduk tepat di samping brangkar Adeeva.
Dia menatap dalam wajah pucat Adeeva yang terbaring lemah di atas brangkar itu.
Rasa sedih dan kecewa kini menyelimuti dirinya, saat ini dia tidak tahu akan berbuat apa. Dia juga tidak tahu bagaimana keadaan hatinya saat ini.
"Axel," panggil Gita.
Axel menoleh ke arah sang mama dan papanya yang masih duduk di sofa.
"Iya, Ma," lirih Axel.
"Kalau kamu kelelahan, biar mama dan papa yang jagain Adeeva di sini, kamu pulang dan istirahatlah terlebih dahulu," ujar Gita pada sang putra.
Dengan senang hati dia menawarkan diri untuk menjaga sang menantu karena rasa bahagia yang ada di hatinya.
"Tidak, Ma, Pa. Biar aku saja yang jagain Adeeva. Nanti dia pasti cariin aku kalau udah bangun, kasihan dia, Ma," ujar Axel menolak tawaran mamanya.
"Tapi, Nak,--"
"Ma, mungkin lebih baik'kita pulang saja, biarkan Axel yang jagain Adeeva, kita bisa kembali ke sini besok menggantikan Axel," ujar Rasyid memotong pembicaraan sang istri.
__ADS_1
Gita menghela napas pasrah.
"Ya udah, kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa kamu langsung kabari kami, ya," pesan Gita sebelum keluar dari ruang rawat Adeeva.
"Iya, ma." Axel mengangguk.
Akhirnya Rasyid dan Gita pun keluar meninggalkan ruang rawat Adeeva.
Axel melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 01.05 pertanda malam semakin larut.
Pria tampan itu pun mulai menguap, rasa kantuk pun datang menghampirinya.
Axel memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa, dia berusaha melupakan luka yang kini dirasakannya.
Hingga akhirnya Axel pun mulai terlelap dalam luka dan kesedihan yang membalut jiwanya.
Saat pagi tiba, Adeeva terbangun dari tidurnya. Perlahan dia membuka matanya, dia memperhatikan ke sekelilingnya, dia mendapati semua berwarna putih di sana.
Saat ini, kepalanya masih terasa sangat pusing.
"Di mana aku saat ini?" lirihnya pelan.
Adeeva mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam pada dirinya.
"Apa yang telah terjadi padaku," gumam Adeeva lagi.
Saat ini dia belum menyadari keberadaannya, dia juga tidak tahu Axel juga berada di sana.
Axel yang masih duduk di atas sajadahnya melihat Adeeva yang bergerak, dia pun berdiri lalu menghampiri istrinya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Axel dengan nada dingin tak seperti biasanya.
"Aku di mana?" lirih Adeeva penasaran keberadaannya saat ini.
"Kamu sekarang ada di rumah sakit," jawab Axel datar.
"Di rumah sakit, apa yang terjadi padaku?" gumam Adeeva.
Axel hanya diam, dia tak menjawab pertanyaan sang istri.
"Astaghfirullah, aku belum shalat subuh," ujar Adeeva teringat dengan kewajibannya sebagai seorang muslimah
Lalu dia berusaha bangun dari tempat tidur.
Baru saja dia menginjakkan lantai, Adeeva terjatuh karena kakinya masih terasa sangat lemah.
Entah mengapa Axel membiarkan Adeeva yang kini terduduk di atas lantai, seolah dia tak peduli dengan wanita yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Adeeva mendongakkan kepalanya melihat sang suami yang kini menatap lurus ke depan dan tak peduli pada dirinya.
Dengan susah payah Adeeva berusaha untuk berdiri, dia bertumpu pada brangkar tempat tidurnya hingga akhirnya dia bisa kembali duduk di brangkar itu.
Adeeva menatap heran pada sang suami yang kini menatap kosong ke depan, dia dapat merasakan ada yang aneh pada sosok sang suami.
Seketika Adeeva teringat dengan kejadian malam tadi, Adeeva yakin Axel sangat marah padanya.
Melihat sang suami berdiri terpaku, akhirnya dengan langkah gontai Adeeva mencoba melangkah menuju kamar mandi yang tidak jauh dari posisinya saat ini.
Meskipun tertatih, Adeeva terus berusaha hingga akhirnya dia dapat masuk ke dalam kamar mandi. Adeeva pun membasuh mukanya lalu berwudhu.
Axel tersadar dari lamunannya, dia tak lagi melihat sosok istrinya di ruangan itu.
"Ke mana Adeeva?" lirih Axel panik.
Dia hendak mencari Adeeva keluar ruangan itu.Namun, Axel dapat mendengar gemercik air dari kamar mandi.
"Oh, dia sedang di kamar mandi," lirih Axel.
Axel pun menunggu Adeeva di depan pintu kamar mandi, saat Adeeva membuka pintu, Axel pun membantu Adeeva berjalan melangkah menuju tempat tidurnya.
Setiap langkah Adeeva menatap dalam ke arah sang suami, rasa bersalah kembali menghantuinya.
Menurutnya sang suami saat ini tengah kecewa terhadap dirinya karena Adeeva tidak memberikan hak sang suami tadi malam, makanya Axel terlihat dingin padanya.
"Ini mukenamu," lirih Axel mengambilkan mukena yang kemarin dikeluarkan Gita dari mobil sebelum pulang.
Adeeva menerima mukena itu, lalu dia pun menunaikan shalat subuh dalam keadaan berbaring karena dia belum kuat untuk berdiri menunaikan indahnya.
Axel pun membiarkan Adeeva shalat terlebih dahulu, dia memilih untuk duduk di sofa sembari membuka ponselnya, dia memberitahukan Damar situasinya saat ini.
Axel memerintahkan Damar untuk menghandle berbagai urusan yang ada di kantor hari ini karena dia tidak akan datang ke kantor.
Tak berapa lama Gita dan Rasyid pun datang. Mereka membuka pintu ruang rawat itu dan langsung masuk.
"Adeeva belum bangun?" tanya Gita pada putranya.
"Sudah, Ma. Dia lagi shalat," jawab Axel.
"Oh," lirih Gita.
Gita langsung menghampiri Adeeva saat wanita itu mulai membuka mukenanya.
"Sayang," lirih Gita langsung memeluk tubuh Adeeva.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu sebentar lagi akan jadi ibu, dan kami pun akan jadi kakek nenek," ujar Gita mengungkapkan kebahagiaannya.
__ADS_1
"Apa?" gumam Adeeva kaget.
Bersambung...