
Axel terdiam mendengar ucapan Kyara.
Dia masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kyara.
"Kau sudah merenggut kehormatanku, tapi kau membayangkan wanita lain saat itu," ujar Kyara dengan nada tinggi.
Kyara meluapkan rasa sakit hati yang dirasakannya.
"Aku masih tidak mengerti apa yang kau katakan," lirih Axel masih saja belum mengerti.
"Kau memang tak mengerti atau pura-pura tak mengerti?" bentak Kyara.
"Setelah kau rampas harta berharga bagiku, kau memanggil nama wanita lain, dan dengan jelas kau mengatakan bahwa kau sangat mencintai wanita itu," ujar Kyara lagi.
Kyara tak lagi bisa menyimpan rasa sakit yang dirasakannya.
Axel terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Kyara.
"Benarkah aku telah mengatakan cinta pada Adeeva di telinga Kyara?" gumam Axel di dalam hati.
Ada rasa bersalah terselip di hatinya.
Mereka berdua terdiam, tak satu pun kata yang keluar dari mulut keduanya, hingga akhirnya Axel memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Kyara kini terduduk di pinggir tempat tidur.
Hatinya sedikit lega telah mengungkapkan rasa sesak di dadanya pada sang suami.
Satu jam berlalu, Axel keluar dari kamar mandi, lalu dia melangkahkan kakinya menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Mandilah terlebih dahulu sebelum kau beranjak tidur," ujar Axel pada Kyara.
Lalu Axel pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia berusaha memejamkan matanya agar dapat melupakan apa yang telah terjadi untuk sejenak.
Kyara menoleh pada sang suami yang kini berbaring membelakangi dirinya.
"Kau tidak akan bisa jatuh cinta padaku, karena hatimu milik orang lain," gumam Kyara di dalam hati.
Kyara pun berdiri lalu melangkah ke kamar mandi, dia pun membersihkan diri dan bersiap untuk beranjak tidur.
Saat dia sudah selesai mandi, Kyara melihat Axel sudah tertidur.
Dia pun mengambil pakaiannya, lalu mengenakan pakaiannya.
Kyara mengambil bantal, kali ini dia yang ingin tidur di sofa.
Kyara membawa bantal itu menuju sofa yang tersedia di sana, lalu dia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa.
__ADS_1
Perlahan dia mencoba untuk memejamkan matanya hingga akhirnya dia pun terlelap.
Di tengah malam, Axel terbangun dari tidurnya, dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.15.
Axel melihat ke arah samping tempat tidur, dia tak mendapati Kyara.
Dia mengucek-ngucek matanya, lalu mengendarakan pandangannya ke seluruh isi kamar.
Dia mendapati Kyara telah tertidur di atas sofa.
Axel merasa kasihan melihat istrinya yang telah terlelap di atas sofa itu, Axel teringat dengan malam dirinya yang tidur di sofa, dia tidak bisa tidur karena menahan rasa dingin yang menusuk tulang.
Akhirnya Axel mengambil tindakan, dia pun berdiri dan melangkah menghampiri Kyara.
Dia menggendong tubuh sang istri, lalu membawanya ke atas tempat tidur, dia memberikan selimut pada sang istri agar istrinya tak merasakan dingin yang kemarin dirasakannya.
Setelah membaringkan Kyara di atas tempat tidur, Axel menatap dalam wajah polos Kyara.
"Saat ini aku tidak tahu siapa yang salah dengan pernikahan yang kita jalani ini, harusnya kamu tak memaksakan diri untuk menjadi suamiku, sekarang kita akan sama-sama tersiksa. Kita akan terluka dengan pernikahan ini, aku tidak bisa mencintaimu karena aku masih mencintai Adeeva," lirih Axel.
Setelah itu Axel pun ikut berbaring di atas tempat tidur, dia pun menjaga jarak antara dirinya dan istri keduanya.
Keesokan harinya.
Damar mengajak pengantin baru itu pergi wisata ke air terjun Banyumala.
"Mar, buat hari ini aku tidak mau ke mana-mana. Mood ku sedang tidak baik, aku ingin jalan-jalan sendiri, aku minta tolong kamu untuk menjaga Kyara," ujar Axel pada Damar.
Kyara merasa kesal mendengar ucapan Axel.
"Kalau kamu tidak ingin jalan denganku, aku bisa jalan sendiri, tanpa kamu aku juga bisa keliling Bali," ujar Kyara menantang Axel.
"Maaf, Nona. Saya tidak akan bisa biarkan nona pergi sendiri, biarkan aku jadi pelayan nona hari ini," ujar Damar berlapang hati.
Damar mengerti sekali dengan sahabatnya atau bos-nya itu. Jika dipaksakan untuk pergi dengan sang istri, dia pasti akan melakukan kesalahan yang akan membuat keadaan semakin rumit.
"Carikan aku mobil yang bisa aku pakai," perintah Axel pada Damar.
"Baik, Tuan," sahut Damar.
Tak berapa lama mereka menunggu, seseorang datang menghampiri mereka yang masih duduk di restoran membawakan sebuah kunci mobil sport mewah.
"Ini, Tuan," ujar seorang pria itu sembari memberikan sebuah kunci mobil.
Dia juga memberitahu keberadaan mobil itu saat ini.
"Mar, aku titip Kyara, ya," ujar Axel lalu dia pun berlalu meninggalkan Kyara dan asisten pribadinya.
__ADS_1
Sepeninggal Axel, Kyara terlihat sanga jengkel pada Axel, tapi dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa-apa.
"Maaf, Nona. Lebih baik kita membiarkan dia pergi dari pada melarangnya," ujar. Damar berusaha menghibur Kyara yang terlihat sangat kesal.
"Mungkin saat ini ada beban yang tengah dipikirkan Axel, sehingga dia butuh untuk menenangkan diri," ujar Damar lagi berharap Kyara dapat mengerti apa yang dikatakannya.
Kyara masih saja diam.
"Apakah nona mau ke suatu tempat? Saya akan antarkan nona ke mana saja nona inginkan," ujar Damar.
"Antarkan aku ke mall," perintah Kyara.
Kyara teringat akan ponselnya yang hilang, dia pun berniat ingin mengganti ponselnya itu.
Dia tidak mau menunggu Axel membelikan ponsel baru untuknya karena dia sendiri memiliki uang untuk membelinya.
Sementara itu Axel pergi suatu tempat yang dulu pernah dikunjunginya bersama Adeeva.
Sebuah taman yang indah, yang mana di sana terdapat sebuah danau kecil. Di pinggir danau itu terdapat bangku-bangku tempat pengunjung beristirahat.
Kini Axel duduk di bangku yang tersedia di sana.
Dia menatap beningnya air danau yang ada di hadapannya itu sambil mengenang masa-masa bersama Adeeva.
Kini Axel menyadari bahwa Adeeva memang tidak pernah mencintainya.
Pernikahan yang telah terjadi di antara mereka hanya karena paksaan dari orang tua Adeeva yang tidak ingin malu.
Mereka memaksa Adeeva menikah dengan Axel karena mereka tidak mau orang-orang tahu bahwa Adeeva tengah mengandung yang dia sendiri tidak tahu siapa ayah dari janin yang ada di dalam rahimnya itu.
"Seandainya kamu berkata jujur, dan kamu mau memulai rumah tangga denganku hal ini tidak akan terjadi," lirih Axel.
Axel terus saja berharap akan bisa kembali bertemu dengan Adeeva.
Saat sore datang, Axel pun kembali ke hotel.
Dia melangkah menelusuri trotoar menuju mobil yang diparkirnya di seberang jalan.
Saat dia berjalan, Axel tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh," lirih wanita itu merintih kesakitan.
"Maaf," lirih Axel.
Axel tak percaya saat melihat wanita yang baru saja ditabraknya.
"Deev," lirih Axel.
__ADS_1
Bersambung...