
Kyara menyuruh tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.
"Tunggu sebentar, aku akan panggil Bang Axel dulu," ujar Kyara.
Kyara melangkah menuju kamar sang suami.
"Bang," lirih Kyara membangunkan suaminya pelan.
"Bang." Kyara mengguncangkan tubuh sang suami agar sang suami bangun dari tidurnya.
"Mhm." Axel bergumam dengan mata yang masih tertutup.
"Bang, ada tamu yang cari Abang," ujar Kyara.
"Siapa?" tanya Axel.
Axel mulai membuka matanya, dia mengucek-ngucek matanya.
"Bang Daffa, Bang," jawab Kyara.
"Apakah dia datang bersama Adeeva?" tanya Axel lagi.
Hati Kyara merasa cemburu mendengar sang suami mempertanyakan istri pertamanya itu, seolah-olah Axel tengah merindukan istri pertamanya itu.
"Tidak, Bang. Bang Daffa datang sendirian," jawab Kyara.
Dia berusaha menutupi rasa cemburu yang menyelinap di hatinya.
"Oh, ya udah. Tolong bilang sama dia, aku mau mandi dulu," ujar Axel.
__ADS_1
"Baik," lirih Kyara.
Kyara pun keluar dari kamar suaminya, lalu menemui Daffa dan meminta Daffa untuk menunggu sebentar.
Sementara Daffa menunggu, Kyara pun membuatkan secangkir teh untuk Daffa.
"Diminum, Bang," ujar Kyara setelah meletakkan secangkir teh tersebut di atas meja tamu.
"Terima kasih," ucap Daffa.
"Aku tinggal dulu, enggak apa-apa kan, Bang?" lirih Kyara merasa tidak enak berada di ruang tamu hanya berdua saja dengan Daffa.
"Oh, ya. Silakan," ujar Daffa.
Tak berapa lama Daffa menunggu, Axel pun keluar dari kamarnya, dia melangkah menuju ruang tamu untuk menemui sahabatnya.
Awalnya mereka hanya diam saja, hingga akhirnya Daffa memulai pembicaraan.
Axel masih diam. Saat ini dia tidak tahu harus mengambil keputusan apa.
Dia yakin, Daffa pasti meminta dirinya untuk melepaskan Adeeva.
Dalam keraguan wajah Kyara dan aksi panas mereka selalu terbayang di benaknya.
"Xel, a-aku,--" Daffa bingung memikirkan cara. menyampaikan hasil tes DNA yang telah mereka lakukan.
"Aku akan menceraikan Adeeva secepatnya, dan kamu bisa menikahinya langsung karena aku tak pernah menyentuhnya," ujar Axel tegas.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Axel langsung memutuskan akan melepaskan wanita yang s lama ini dicintainya, dan cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Daffa terdiam mendengar ucapan Axel, dia merasa sangat bahagia dengan keputusan yang diambil oleh sahabatnya itu.
"Benarkah?" tanya Daffa memastikan dia tak salah dengar.
Axel mengangguk, sementara'itu Kyara dari balik pintu kamarnya mendengar apa yang dikatakan sang suami.
Dia pun merasa sangat bahagia, akhirnya dia akan menjadi istri satu-satunya bagi Axel.
"Terima kasih, Xel. Aku yakin kamu akan mengambil keputusan yang terbaik untuk kita semua," ujar Daffa.
"Aku akan suruh Damar untuk mengurus segala urusan perceraian kami," ujar Axel.
"Terima kasih," ucap Daffa.
Setelah itu Daffa pun pamit meninggalkan apartemen Axel.
Daffa keluar dari apartemen Axel dengan hati yang berbunga-bunga.
Sesaat lagi impiannya menikah dengan wanita yang sangat dicintainya akan tercapai.
Saat Daffa baru saja hendak masuk ke dalam mobil, ponsel Daffa berdering pertanda panggilan masuk.
Daffa membuka ponselnya, lalu menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo," ujar Daffa setelah panggilan itu tersambung.
"Tidak," lirih Daffa tak percaya dengan apa yang dikatakan seseorang dari seberang sana.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang jug," ujar Daffa.
__ADS_1
Daffa pun langsung menghubungi Alex dan meminta Alex untuk menyiapkan penerbangan hari ini juga.
Bersambung...