
Entah mengapa kini buliran bening mulai membasahi pipi Adeeva. Dia tak lagi dapat menahan rasa sedih di hatinya.
Baru saja dia merasa bahagia, dan kebahagiaan itu sirna begitu saja.
"Ya Allah, apakah ini karma atas apa yang telah aku lakukan terhadap Axel?" gumam Adeeva.
Dia kini teringat akan Axel.
"Apa yang dilakukannya saat ini?" lirih Adeeva.
Adeeva membiarkan buliran bening terus membasahi pipinya.
"Hiks." Dia pun mulai terisak.
Daffa yang masih tertidur mendengar isakkan tangis Adeeva.
Perlahan Daffa membuka matanya, dia melihat Adeeva tengah menangis. Daffa bangkit dari posisi tidurnya, dia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Adeeva.
Adeeva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sehingga dia tak menyadari bahwa saat ini Daffa melihatnya.
Tangisan Adeeva semakin keras, malam ini dia merasa sedih sekali. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini.
Sekian lama Adeeva menangis, Daffa tidak tega melihatnya, akhirnya dia pun mendekatkan tubuhnya pada Adeeva, lalu dia menarik tubuh Adeeva ke dalam dekapannya.
Saat itulah Adeeva tersadar bahwa tangisannya sudah membangunkan Daffa.
"Menangis lah sepuas hatimu, aku akan ada menjadi sandaran kegundahanmu," lirih Daffa sambil mengelus lembut kepala Adeeva.
Adeeva pun semakin menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku," lirih Adeeva setelah meluapkan semua rasa sesak di hatinya.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Daffa penasaran.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menangis saja," jawab Adeeva.
Dia tak bisa mengungkapkan alasannya menangis karena satu-satunya penyebab Adeeva menangis adalah karena Daffa.
3 bulan bersama Daffa membuat hati Adeeva telah terpaut jauh pada pria itu, dia merasakan hal yang berbeda pada diri Daffa.
"Ya sudah, setelah ini kamu tidak boleh menangis lagi," ujar Daffa terus memeluk erat tubuh Adeeva.
Dia memberikan kehangatan cinta di dalam hatinya pada wanita itu, sehingga Adeeva benar-benar merasa sangat nyaman di dalam dekapan Daffa.
Selang beberapa menit, Adeeva pun mulai tertidur karena lelah menangis.
__ADS_1
Daffa terus memeluknya, dia membiarkan wanita yang sudah dicintainya itu terlelap di alam pelukannya.
****
Satu Minggu berlalu, tibalah saatnya Daffa harus menikah dengan Ainun.
Tanpa mencari tahu sosok Ainun, Daffa mau menikahi gadis yang sama sekali tak dikenalinya itu, karena Daffa tidak mau si gadis menyebarkan video panasnya, dan Daffa juga merasa kasihan dengan si gadis yang tengah mengandung itu.
Dia hanya ingin bertanggung jawab pada si gadis karena dia merasa bersalah telah merenggut kehormatan gadis itu.
"Tuan, apakah anda yakin akan menikahi wanita itu?" tanya Alex.
Alex tak percaya dengan wanita yang bernama Ainun itu, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Lex, aku tidak memiliki pilihan lain, untuk saat ini aku harus menikahi wanita itu, paling tidak hingga anak di dalam rahimnya lahir," ujar Daffa.
"Baiklah, kalau begitu tuan. Saya ikut apa yang tuan putuskan," lirih Alex pasrah.
Sebenarnya Alex telah mencari tahu siapa sosok yang bernama Ainun, tapi dia tidak dapat menemukan apa pun.
Informasi yang Alex dapatkan hanyalah tempat dia bekerja. Setelah diselidikinya lagi, Alex memang menemukan Ainun berada di hotel itu saat peristiwa itu terjadi sehingga Alex tidak bisa banyak bicara mengenai masalah ini.
Dalam beberapa foto yang di dapatnya, Ainun memang ada ditemukan berfoto dengan sekumpulan teman teman Daffa yang ikut pada acara tersebut.
“Deev, kau kenapa murung?” tanya Adeeva.
“Tidak apa apa,” lirih Adeeva.
“Kamu tenang saja, keberadaanmu di rumah ini tidak akan tergeser oleh wanita itu. Kamu akan tetap ada di sampingku apa pun yang akan terjadi,” ujar Daffa berjanji akan tetap memprioritaskan Adeeva meskipun dia tahu Adeeva merupakan istri dari pria lain.
“Daffa,” lirih Adeeva.
Daffa menatap dalam Adeeva.
“Aku tahu, aku tidak memiliki hak apa pun atasmu, aku hanyalah istri sandiwara bagimu. Tapi, entah mengapa aku merasa sakit di saat kamu ingin menikah dengannya,” tutur Adeeva jujur mengungkap apa yang ada di hatinya.
Daffa pun duduk di samping Adeeva, lalu dia memeluk wanita yang kini telah mengisi sepenuh jiwanya.
“Walau bagaimanapun kamu tetap di hatiku,” gumam Daffa di dalam hati.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar, membuat dua insan itu menoleh ke arah pintu.
Daffa berdiri dan melangkah menuju pintu kamar, Bi sari telah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
“Tuan, pengantin wanita telah datang,” ujar Bi Sari memberitahu bahwa Ainun sudah tiba di rumah megah mereka.
“Baiklah, saya akan turun,” ujar Daffa.
Di lantai satu Ainun menatap kagum rumah megah milik Daffa, dia membayangkan kemegahan yang akan didapatnya selama tinggal di rumah itu. Dia juga membayangkan menjadi nyonya besar di rumah itu.
Akad nikah Daffa dan Ainun pun akan dimulai, Daffa sengaja mengadakan pernikahan yang sederhana, bahkan pernikahan yang dilakukannya dengan Ainun masih nikah siri. Daffa berjanji akan menikahi Ainun secara sah setelah anak yang ada di rahim Ainun lahir.
Awalnya ainun mempermasalahkan hal itu, tapi Daffa dengan tegas mengatakan bahwa saat ini dia dan Adeeva juga telah menikah.
Mau tak mau Ainun menerima persyaratan itu. Dia juga sudah memikirkan cara untuk menyingkirkan Adeeva dari rumah itu, agar dia bisa berkuasa di rumah Daffa.
Acara akad nikah akan berlangsung beberapa menit lagi. Daffa dan Ainun telah duduk di depan penghulu.
“Apakah pernikahan ini bisa kita mulai?” tanya si penghulu sebelum acara dimulai.
Daffa mengangguk.
Jantung Ainun berdetak dengan kencang, dia merasa senang karena sebentar lagi dia memiliki hak yang sama dengan Adeeva.
Dari lantai 2 Adeeva memandangi prosesi pernikahan Daffa dan Ainun yang sebentar lagi akan berlangsung.
Bi Sari datang menghampiri Adeeva, dia merasa kasihan dengan nasib Adeeva.
“Nona,” lirih Bi Sari saat dia telah berdiri di saping Adeeva.
Adeeva menoleh ke arah Bi Sari.
“Iya,Bi.” Mata Adeeva kembali tertuju ke lantai satu melihat Daffa dan Ainun yang bersanding di depan penghulu.
“Nona yang sabar, ya. Pasti ada hikmah dibalik ini semua,” ujar Bi Sari ikut ber empati dengan apa yang dirasakan Adeeva saat ini.
Setahu Bi Sari Daffa dan Adeeva hidup sangat bahagia, tapi dia tidak tahu apa alasan tuannya mendua.
Adeeva tersenyum getir mendengar ucapan Bi Sari. Selama di rumah itu Bi Sari emmang sangat perhatian padanya, hanya Bi Sari satusatunya pelayan yang dekat dengan Adeeva.
“Iya, Bi.” Adeeva mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu mari acara kita mulai,” ujar si penghulu.
“Untuk wali nikah, langsung saja membacakan lafaz ijab,”perintah penghulu.
“Tunggu! Pernikahan ini tidak bisa dilangsungkan!” teriak seorang wanita yang kini berdiri di depan pintu rumah.
Bersambung…
__ADS_1