Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 115


__ADS_3

(Yang sudah baca bab 114, baca ulang ya, soalnya ada pengeditan sedikitπŸ™πŸ™πŸ™ maaf atas ketidaknyamanannya. Oh ya, readers yang bilang upnya lagi, author juga minta maaf, ini dikarenakan author yang kurang sehat)


Sesuai pemeriksaan dari ahli medis, ayah Ainun meninggal dunia sekita pukul 10.00 pagi, dan dia ditemukan Alex dan Ainun pada pukul 14.15.


Menurut perkiraan ahli medis itu, Aini telah berjam-jam menangis dipinggir jalan itu sehingga menimbulkan keramaian di tempat itu.


Mirisnya tak seorang pun yang berniat untuk menolongnya, mereka hanya menonton nasib malang gadis remaja itu.


Sebenarnya bukan tak ada yang ingin menolong, tapi mereka takut bertanggungjawab atas apa yang terjadi pada ayah Ainun dan Aini.


Jenazah ayah Ainun akan diselenggarakan secepatnya, karena masih ada waktu untuk mengurus jenazah tersebut, apalagi tak ada seorang pun yang akan ditunggu.


Alex menghubungi Daffa, dia memberitahukan apa yang terjadi pada Ainun.


Dia mengatakan bahwa tidak akan kembali ke hotel malam ini, karena akan menemani Ainun di rumahnya.


"Ada apa?" tanya Adeeva pada Daffa.


Mereka saat ini masih berada di pantai Air Manis menikmati angi laut di siang hari menjelang sore.


"Ayah Ainun meninggal dunia," jawab Daffa.


"Inna ilaihi wa Inna ilaihi Raji'un," lirih Adeeva.


Adeeva ikut sedih dengan meninggalnya ayah dari sahabatnya, meskipun Ainun sudah menjahati dirinya, tapi rasa iba dan kasihan masih ada di lubuk hati Adeeva.


"Kapan meninggalnya?" tanya Adeeva lagi.


"Katanya pukul 10.00 tadi pagi," jawab Daffa.


"Bang," lirih Adeeva mencoba memanggil Daffa dengan sebutan 'bang'.


Daffa menoleh ke arah Adeeva.


"Mhm," gumam Daffa sambil tersenyum dan menatap dalam wanita yang dicintainya itu.


Dia merasa senang, Adeeva mulai memanggilnya dengan sebutan yang diinginkannya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah Ainun, saat ini Ainun pasti tengah sedih," lirih Adeeva memohon pada Daffa.


Daffa menatap dalam ke arah Adeeva, dia tidak lupa dengan apa yang telah dilakukan oleh Ainun sehingga Ainun harus menjalani takdir yang sulit dijalani oleh wanita itu.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingat dengan apa yang telah dilakukannya padamu?" tanya Daffa mengingatkan perbuatan Ainun.


"Bang, tidak seharusnya kita mengingat kejahatan seseorang apalagi di saat seperti ini," ujar Adeeva.


Saat ini Adeeva melupakan apa yang sudah dilakukan Ainun terhadap dirinya, dia merasa kasihan dengan sahabatnya itu.


Persahabatan Adeeva dan Ainun sudah terjalin bertahun-tahun membuat Adeeva tidak bisa melihat Ainun dalam kondisi saat ini.


"Ya sudah, kalau begitu kita langsung ke rumah Ainun saja," ajak Daffa.


Akhirnya Daffa mau menemani Adeeva ke rumah Ainun, Adeeva masih ingat jelas di mana letak rumah sahabatnya itu, dia tinggal di pemukiman padat dan rumahnya sangat kecil.


Masyarakat di sana tergolong tingkat menengah ke bawah dari segi ekonomi.


Daffa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kecil yang kini sudah ramai di datangi warga untuk melayat.


Daffa dan Adeeva turun dari mobil, semua mata tertuju pada Daffa dan Adeeva.


Mereka menatap kagum pada Daffa dan Adeeva yang terlihat jelas dari penampilannya bahwa mereka bukan orang biasa.


"Sayang, biar aku yang gendong baby Ghaffar," ujar Daffa pada Adeeva.


Adeeva masuk ke dalam rumah yang sempit itu, karena kini sudah banyak orang yang mengisi rumah itu.


Sedangkan Daffa memilih untuk berdiri di luar, agar putranya tidak merasa pengap dan nyaman.


Adeeva melihat Ainun yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya, begitu juga Aini yang kini menangis di samping sang kakak.


"Ainun," lirih Adeeva.


Ainun membuka wajahnya dari telapak tangannya. Dia melihat jelas wanita yang telah disakitinya dan dilukainya.


"Deev," isak tangis Ainun semakin pecah at Adeeva merentangkan tangannya dan memeluk sang sahabat, begitu juga Aini.


Aini ikut memeluk sahabat kakaknya itu, seolah saat ini hanya Adeeva yang menjadi keluarga dekat bagi mereka.


Dua kakak beradik itu memeluk Adeeva dan menangis di dalam pelukannya.


Adeeva membelai lembut punggung dua kakak beradik itu.


Dia dapat merasakan sakit dan luka yang saat ini dirasakan oleh Ainun dan Aini karena di saat ibunya masih hidup, wanita yang melahirkan Adeeva itu telah membuangnya sehingga saat ini dia hidup sebatang kara bersyukur masih ada Axel dan Daffa yang menjaga dirinya.

__ADS_1


Jika Axel tidak ada maka sudah dipastikan Adeeva akan hidup luntang lantung di luaran sana.


Mungkin lebih sakit dibuang oleh ibu sendiri dari pada ditinggal mati oleh orang yang kita sayangi.


"Deev, maafkan aku," isak Ainun meminta maaf pada sahabatnya.


"Hush, kamu jangan ngomong yang aneh-aneh dulu, sekarang fokus dengan apa yang ada di hadapan kamu," ujar Adeeva.


Saat ini Adeeva tidak mau mengingat luka dan pengkhianatan yang dilakukan sahabatnya itu.


"Mungkin ini semua adalah hukuman bagiku atas kesalahanku padamu," ujar Ainun lagi.


"Tidak, Ai. Ini semua ujian, kita harus kuat menjalaninya," nasehat Adeeva.


Jenazah ayah Ainun baru saja selesai dikafani, dan sebentar lagi akan dibawa ke mesjid yang ada di komplek itu lalu diantarkan ke peristirahatan terakhirnya.


Daffa meminta bantuan Alex untuk menyelesaikan segala urusan dalam pengurusan jenazah ayah Ainun hingga dikuburkan, Daffa tidak ingin ada kendala apa pun dalam penyelenggaraan jenazah itu.


Pada pukul 17.35 jenazah ayah Ainun sudah selesai dikuburkan, satu per satu warga mulai meninggalkan makam pak Rahman hidayat itu.


Setelah semua orang tak ada lagi di TPU itu, Adeeva mengajak Ainun dan Aini pulang ke rumahnya.


Setelah shalat maghrib, Adeeva pun pamit untuk pulang pada Ainun dan Aini.


"Deev, aku banyak salah padamu, tap mengapa kamu masih baik padaku?" tanya Ainun sebelum Adeeva meninggalkan rumahnya.


"Sudahlah, Ai. Apa pun yang sudah terjadi anggap saja masa lalu," lirih Adeeva berlapang hati.


Ainun memeluk tubuh Adeeva sebelum Adeeva keluar dari rumahnya, Ainun juga mengucapkan terima kasih pada Daffa yang telah mengantarkan Adeeva ke rumahnya.


Setelah itu, Daffa pun mengantarkan Adeeva pulang.


Pada hari senin, Daffa sudah tidak sabar untuk menjemput Adeeva di rumah pemberian Axel, dia ingin cepat-cepat pergi ke rumah sakit untuk mengetahui hasil tes DNA yang mereka lakukan.


Pada pukul 09.00.


Daffa sudah berada di depan rumah Adeeva, sebelum berangkat dari hotel Daffa sudah memberitahu Adeeva agar sesampai di rumah Adeeva mereka langsung menuju rumah sakit.


Di rumah sakit, dua insan itu tak dapat menenangkan jantung mereka yang terus berdetak dengan cepat, mereka sudah tak sabar ingin mengetahui hasilnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2