Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 53


__ADS_3

Ririn dan Axel saling melempar pandangan.


Mereka heran melihat kedatangan gadis itu.


Axel masih teringat, gadis itu adalah gadis yang baru saja membentak dirinya.


"Tolong, tolong selamatkan aku," ujar si gadis memohon.


"Apa yang terjadi?" tanya Ririn pada si gadis.


"Ada yang mengejar-ngejar aku," jawabnya sambil menunjuk ke arah 3 pria berbadan kekar yang kini celingak-celinguk mencari seseorang.


"Kenapa mereka mengejar mu?" tanya Ririn lagi.


"Panjang ceritanya, Kak. Yang penting tolong aku kabur dari mereka," pinta si gadis terus memohon.


"Pak, apa yang harus kita lakukan?" tanya Ririn pada Axel yang sejak tadi hanya diam saja.


Axel pun langsung berdiri, lalu menarik tangan si gadis, dia melangkah menuju mobilnya yang terparkir Ririn pun mengikuti langkah Axel dan si gadis.


Mereka pun masuk ke dalam mobil itu, Axel langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Axel membawa si gadis dan Ririn ke arah jembatan Siti Nurbaya. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah kafe.


"Jelaskan apa yang terjadi!" ujar Axel masih kesal pada si gadis.


"Mereka mau menculikku," jawab Si gadis.


"Kenapa mereka mau menculik mu?" tanya Axel lagi.


"Ya, wajar saja mereka mau menculikku, aku ini kan cantik dan imut," ujar si gadis dengan penuh percaya diri.


"Huh, dasar!" umpat Axel di dalam hati.


Ririn hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban si gadis.


Axel menghela napas panjang, dia terlihat semakin kesal pada si gadis.


“Ke mana kami harus mengantarmu?” tanya Axel.


Dia tak lagi ingin banyak bicara dengan wanita aneh yang baru saja dijumpainya itu.


“Ke mana saja, yang penting jangan ke tempat tadi,” jawab si gadis membuat Axel semakin kesal.

__ADS_1


Axel pun menoleh ke arah Ririn yang kini juga berada di dalam mobilnya.


“Dek, kamu mau di antar ke mana? Atau alamatmu di mana?” tanya Ririn membantu Axel membujuk si gadis.


“Mhm, aku enggak tahu mau ke mana, Kak,” jawab si gadis jujur.


“Lalu ke mana kami akan membawa kamu?” tanya Ririn lagi.


“Terserah,” jawab si gadis itu santai.


Axel sudah tidak tahan lagi dengan sikap gadis itu, akhirnya Axel turun dari mobilnya. Dia membuka pintu mobil bagian belakang.


“Turun sekarang juga,” perintah Axel kesal.


“Enggak mau, kenapa kamu bawa aku ke sini?” bantah si gadis tidak mau turun dari mobil Axel.


Axel mulai hilang kesabaran, akhirnya dia kembali masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia kembali membawa si gadis ke tempat awal mereka bertemu.


“Kali ini kmu tidak ada alasan lagi membantah, kami menemukanmu di sini, dan terserah apa yang akan kamu lakukan, yang penting sekarang turun dari mobilku,” bentak Axel.


“Lho? Nanti kalau orang-orang jahat itu melihatku, bagaimana?” tanya si gadis enggan untuk turun dari mobil Axel.


“Terserah, itu urusanmu, bukan urusan kami,” ujar Axel cuek.


Saat si gadis baru saja sampai di pintu mobil dan sedikit lagi Axel berhasil mengeluarkannya dari mobilnya, seorang pria dengan penampilan rapi pun datang menghampiri mereka.


“Cellyn, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya si pria yang mengenali si gadis.


Gadis itu langsung berpindah menghampiri pria yang baru saja menyapanya.


“Pria ini mau menculikku, Kak,” jawab Cellyn.


Axel membulatkan kedua matanya, dia tak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh si gadis aneh itu. Begitu juga dnegan Ririn, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat gadi aneh itu.


“Apa? Kau mau menculik adikku?” bentak si pria emosi.


Si pria sudah siap hendak melayangkan sebuah bogem mentah ke pipi Axel, tapi si gadis pun menghalanginya.


“Sudahlah, Kak. Ayo, kita pulang,” ajak si gadis pada pria yang dipanggilnya kakak.


Akhirnya mereka pun meninggalkan Axel dan Ririn. Sepeninggal gadis aneh itu Ririn pun turun dari mobil Axel.


“Dasar wanita gila!” umpat Axel.

__ADS_1


“Sabar, Pak. Anggap aja ujian,” lirih Ririn menghibur Axel.


Axel pun memilih duduk di bangku panjang yang ada di pinggir jalan, diikuti oleh Ririn.


“Rin, sudah malam, kamu mau saya antar pulang?” tawar Axel pada Ririn.


Akhirnya axel pun mulai berbicara setelah beberapa menit mereka diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Tidak usah, Pak. Lagian kost saya juga tidak jauh dari sini,” jawab Ririn.


Ririn dan Axel kini semakin akrab. Satu bulan ini, Axel meminta Ririn menjadi sekretarisnya, kebetulan sekretaris Axel mengundurkan diri dari perusahaan itu.


Axel sengaja meminta Ririn menjadi sekretarisnya, meskipun dia tahu Ririn hanyalah tamat SMA, karena dia melihat sifat sungguhsungguh pada diri wanita itu. Denga meminta Damar melatihnya, dia yakin Ririn akan menjadi seorang yang berhasil.


“Karena kost kamu dekat dari sini makanya saya mau mengantarmu, kalau jauh dari sini, saya ogah antar kamu, mending saya suruh Damar,” ujar Axel sambil tersenyum.


Axel sengaja berkata seperti itu, karena Axel sering melihat Damar dan Ririn selalu bertengkar seperti anjing dan kucing.


Seketika dia melupakan amarah dan emosinya pada sang papa yang msaih asja memaksa dirinya untuk menikah dengan wanita lain padahal dia masih memiliki status pernikahan dengan Adeeva. Sesaat Axel melupakan kepedihan hatinya.


“Ya sudah, kalau begitu, Pak. Asalkan saya tidak merepotkan bapak,” lirih Ririn.


Akhirnya Ririn pun menerima tawaran Axel, setelah itu mereka pun masuk ke dalam mobil meninggalkan pantai Padang.


Malam semakin larut, mereka sampai tepat di depan kost Ririn.


“Terima kasih, Pak,” ucap Ririn.


Ririn pun turun dari mobil bosnya itu, lalu langsung masuk ke dalam kost.


Axel melajukan mobilnya meninggalkan kost Ririn setelah memastikan wanita itu masuk ke dalam rumah kostnya.


****


Malam semakin larut, tapi Adeeva masih belum bisa memejamkan matanya, dia kini memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Daffa yang kini telah tertidur dengan pulas.


Dia melirik jam yang ada di dinding, kini jam itu telah menunjukkan pukul 01.30


Awalnya Daffa juga tidak bisa tidur, karena memikirkan masalah wanita yang baru saja mendatanginya, tapi Daffa tetap mencoba untuk memejamkan matanya hingga akhirnya dia pun bisa terlelap.


Adeeva menatap dalam ke arah Daffa, entah mengapa kedatangan Ainun tadi membuatnya berpikir keras. Adeeva juga merasa Ainun akan merebut Daffa dari sisinya.


"Apakah ini alasannya, di foto waktu itu ada sosok Daffa? Mereka memang sudah saling mengenal sejak lama," gumam Adeeva di dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2