Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 55


__ADS_3

Daffa dan Ainun menoleh ke arah asal suara.


Daffa kaget melihat keberadaan maminya yang kini sudah berada di rumahnya.


"Apa yang dilakukan mami di sini?" gumam Daffa di dalam hati sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Saya tidak setuju dengan pernikahan ini,” ujar Rossa.


Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah, lalu dia menarik lengan Daffa menuju ruang kerja Daffa. Sementara itu wali dan saksi serta penghulu yang hadir dalam acara itu hanya bisa bengong melihat langkah ibu dan anak itu.


“Daffa! Apa yang kamu lakukan?” bentak Rossa saat mereka telah berada di dalam ruang kerja Daffa.


“Mi, ceritanya panjang,” jawab Daffa.


Saat ini Daffa tidak tahu harus mengatakan apa pada wanita yang telah melahirkannya itu.


“Mami tidak peduli, pokonya mami tidak mengizinkan kamu menduakan Adeeva,” ujar Rossa geram.


“Mi, tolong mengertilah. Aku saat ini sangat terjepit,” ujar Daffa lagi.


“Apa maksud kamu?” tanya Rossa masih tidak mengerti.


Daffa menghela napas panjang, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Rossa pun ikut duduk di sofa tepat di hadapan sang putra, dia pun menunggu Daffa untuk menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi.


Akhirnya Daffa pun menceritakan hal sesungguhnya pada maminya, dia tidak memiliki jalan lain selain jujur pada wanita yang telah melahirkannya.


“Jadi, Adeeva itu istri orang?” tanya Rossa tak percaya.


Daffa mengangguk.


“Lalu anak yang di dalam kandungannya itu bukan darah dagingmu?” tanya Rossa.


Rossa syok mendengar penjelasan sang putra, dia benar-benar merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Daffa.


Rossa terdiam lama.


“Mi, Daffa minta maaf sudah bohong sama mami, tapi Daffa sudah jatuh cinta pada Adeeva,” tutur Daffa jujur.


Daffa kini duduk bersimpuh di kaki wanita yang melahirkannya itu.


“Kamu bodoh!” bentak Rossa geram.


“Kamu punya banyak harta dan kekuasaan, kenapa kamu bisa terjebak dengan situasi seperti ini? Kamu memiliki segalanya dan kamu juga bisa melakukan apa saja. Kenapa kamu tidak selidiki lebih jelas lagi masalah ini?” ujar Rossa.


“Sudah, Mi. Aku sudah berusaha mencari tahu dalang di balik penjebakan ini, tapi semua kunci yang aku temukan mati terbunuh,” jelas Daffa.


Alasan lainnya Daffa tidak melanjutkan penyelidikannya adalah dia tidak ingin banyak nyawa lagi akan melayang.

__ADS_1


“Apa kamu sudah selidiki wanita yang akan kamu nikahi itu benar-benar wanita yang kamu tiduri malam itu?” tanya Rossa lagi.


Daffa terdiam mendengar pertanyaan dari maminya.


“Aku tidak tahu, Mi. Tapi dia memiliki bukti video rekaman itu,” jawab Daffa.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau wanita itu ikut dalam rencana penjebakanmu?” tanya Rossa lagi.


Daffa terdiam lagi. Dia baru menyadari bahwa dirinya saat ini telah gegabah dalam mengambil keputusan.


Sementara di luar ruang kerja, Ainun merasa panik. Dia tidak ingin pernikahan itu batal begitu saja. Akhirnya dia pun melangkah menuju ruang kerja.


“Daffa!” teriak Ainun dari luar ruang kerja.


Daffa dan maminya yang kini tengah berpikir pun menoleh ke arah pintu.


“Daffa! Kamu tidak bisa menghindari tanggung jawabmu!” teriak Ainun dari luar.


Wanita itu ingin dijadikan istri oleh Daffa secepatnya dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.


Daffa berdiri lalu membuka pintu ruang kerja.


“Kau bisa lebih tenang?” ujar Daffa kesal.


Melihat sikap Ainun, sedikitpun Daffa tidak tertarik dengannya.


“Tidak, aku tidak akan tenang sebelum kamu bertanggung jawab atas janin yang kini ada di dalam rahimku,” bentak Ainun.


“Lakukanlah,” ujar Rossa.


Akhirnya Rossa mengizinkan putranya menikah dengan Ainun.


Daffa menautkan kedua alisnya, dia heran dengan perubahan sikap sang mami yang tiba tiba menyetujui keputusan Daffa.


Daffa dan Ainun pun melangkah kembali ke tempat akad nikah yang akan dilangsungkan. DI sanan penghulu, wali hakim dan saksi masih menunggu mereka.


Acara akad nikah ini dilakukan Daffa tanpa mengundang siapa pun, bahkan para pelayan di rumah itu tidak boleh ikut menyaksikan prosesi akad nikah tersebut.


“Bagaimana, Tuan? Apakah kita bisa melanjutkan akad nikah ini?” tanya penghulu pada Daffa.


Daffa menganggukkan kepalanya.


“Iya, Pak. Lanjutkan acaranya,” ujar Daffa.


Ainun yang tadi sempat risau kini merasa bahagia, karena impiannya menjadi orang kaya sebentar lagi akan tewujud.


“baiklah, acaranya kita lanjutkan. Silakan pada wali hakim untuk mengucapkan lafaz ijab,” ujar si penghulu.


Wali hakim mengangguk, lalu dia pun mengucapkan lafaz ijab lalu disambut dengan lafaz kabul dari pihak Daffa.

__ADS_1


“Sah,” sahut kedua saksi yang berada di sana.


“Alhamdulillah,” sahut penghulu.


Penghulu pun mulai membacakan do’a. Daffa tidak ikut membaca do’a kini matanya tertuju pada Adeeva yang menyaksikan pernikahannya dengan Ainun dari lantai 2.


Setelah bacaan do’a selesai, Daffa memberi sejumlah uang pada penghulu, wali hakim serta saksi. Dia pun memeinta mereka meninggalkan kediamannya secepatnya.


“Bi Sari,” panggil Daffa setelah semua orang meninggalkan rumahnya.


Bi Sari bergegas turun menghampiri Daffa.


“Ya, Tuan,” sahut Bi Sari.


“Antarkan wanita ini ke kamarnya,” perintah Daffa.


Semalam Daffa sudah meminta Bi Sari untuk menyediakan kamar untuk Ainun di lamtai satu.


Daffa tidak ingin Ainun menginjak lantai 2 karena baginya lantai 2 adalah daerah kekuasaan Adeeva. Dia tidak ingin Adeeva disamakan dengan wanita yang sama sekali tak dikenalnya itu.


Daffa hendak melangkah menuju lantai 2, di mana Adeeva kini masih memandanginya.


“ Daffa!” teriak Ainun kesal mendapatkan perlakuan dingin dari Daffa.


Dia semakin kesal saat melihat Adeeva yang berdiri di pangar lantai 2 memandangi mereka.


Daffa menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Ainun.


“Kau tidak bisa perlakukan aku seperti ini.” Ainun marah.


Lalu Daffa menghampiri Ainun.


“Bagaimana seharusnya aku memperlakukan dirimu? Aku sudah mau bertanggung jawab, dan jangan kamu harap bisa mendapatkan lebih dari ini,” ujar Daffa.


Ainun merasa sakit hati dengan sikap Daffa. Dia hanya bisa diam, dan tak bisa berbuat apa apa.


Akhirnya Ainun pun mengikuti langkah Bi Sari yang mengarah menuju kamar yang ada di lantai 1 yang telah disiapkan Bi Sari untuknya sejak kemarin malam.


Daffa menghampiri Adeeva, dia dapat merasakan kesedihan hati Adeeva, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa, karena meskipun mereka kini saling membutuhkan satu sama lain, Daffa tidak bisa memungkiri bahwa Adeeva masih sah istri dari pria lain.


“Kau baik baik saja?” tanya Daffa pada Adeeva.


Adeeva menganggukkan kepalanya, dia berusaha tampak tegar meski Daffa tetap mengetahui suasana hati Adeeva saat ini.


Daffa pun hendak membawa Adeeva masuk ke dalam kamar.


“Tunggu!” teriak Rossa.


Daffa dan Adeeva pun menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2