
Semua mata orang yang ada di aula pertemuan itu tertuju pada tubuh Ririn yang kini telah jatuh di lantai.
Tak seorang pun yang mau menolongnya mengingat sikap Ririn yang selalu mengintimidasi rekan kerjanya karena dia merasa dekat dengan Jack sebagai manager di swalayan itu.
"Kenapa tak satu pun dari kalian tanggap untuk membantunya?" tanya Damar pada semua karyawan yang ada di aula itu.
Bukannya mereka tergerak untuk menolong, mereka pun saling pandang satu sama lain menunggu siapa yang akan membantu Ririn yang tergeletak di lantai.
Akhirnya Anton dan Andin pun menghampiri Ririn, mereka membantu wanita itu untuk di baringkan di sofa yang terdapat di dekat dinding aula.
Mereka membaringkan tubuh Ririn di sofa itu, tapi mereka sama sekali tak berusaha membangunkan wanita sombong itu.
Mereka hanya menatap Ririn sembari menunggu wanita itu sadar.
"Tidak, tidak mungkin Pak Jack masuk penjara." Ririn terbangun dan langsung histeris.
Dia masih tak percaya bahwa pria yang selalu dekat dengannya itu sudah mendekam di jeruji besi.
"Andin, bawa Ririn ke pantry. Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu," perintah Damar pada Andin.
Damar tidak ingin membuang-buang waktu, karena sebentar lalu sudah masuk jam buka swalayan.
"Baik, Pak." Andin mengangguk.
Lalu dia menarik tangan Mira minta ditemani oleh rekan kerjanya yang lain.
Mau tak mau Mira pun mengikuti langkah Andin yang kini melangkah keluar bersama Ririn menuju ruang pantry.
"Hari ini kita semua tetap bekerja seperti biasa, dan tidak ada lagi yang membahas apa yang terjadi kemarin, anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi," ujar Damar menutup briefing hari ini.
Semua karyawan pun keluar dari aula pertemuan, lalu mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
"Nona," lirih Damar setelah semua karyawan tak ada lagi di aula itu.
"Mhm," gumam Adeeva menoleh ke arah Damar.
"Apakah, Nona yakin akan bekerja?" tanya Damar pada Adeeva.
Dia hanya ingin memastikan keadaan Adeeva saat ini sudah membaik.
"Iya, aku ingin mencari tahu apa yang dilakukan Jack selama ini di swalayan ini," ujar Adeeva mantap.
Adeeva sudah berencana untuk mendekati Andin dan Mira. Dia akan menanyakan pengalaman Andin dan Mira ketika dia baru saja mulai bekerja di swalayan itu.
"Ya sudah, Nona harus hati-hati, jika nona butuh saya, langsung hubungi saya. Ini nomor telponku," ujar Damar sebelum dia membiarkan Adeeva bekerja.
"Iya, terima kasih," ujar Adeeva.
__ADS_1
Adeeva keluar dari aula, lalu dia menyusul Andin dan Mira yang mungkin masih berada di ruang pantry.
"Apa sebenarnya yang terjadi kemarin?" tanya Ririn pada Andin.
"Pak Jack hendak melecehkan Adeeva, untung saja kekasihnya datang menolong, lalu pria itu menelpon polisi melaporkan perbuatan Pak Jack," cerita Andin jujur.
Andin sengaja menceritakan pada Ririn agar wanita itu bisa sadar dengan perbuatan Jack yang semena-mena terhadap karyawan yang bekerja di swalayan itu.
Ririn hanya bisa terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tak berapa lama Damar menghampiri mereka.
"Kamu," ujar Damar menunjuk pada Ririn.
"Sebaiknya kamu pulang," ujar Damar pada Ririn.
"Iya, Rin. Mending kamu pulang aja dulu, apa perlu aku antar?" ujar Anton.
Walaupun Ririn sering mengintimidasi dirinya, Anton tetap berempati dengan apa yang dialami Ririn saat ini.
"Itu lebih bagus, sebaiknya Anton mengantar Ririn pulang," ujar Damar lagi.
Adeeva hanya termangu, dia menunggu Andin dan Mira mulai bekerja.
Sambil bekerja mereka akan bercerita, di sana Adeeva akan mengorek semua informasi tentang apa yang telah dilakukan Jack selama mereka bekerja di swalayan itu.
Akhirnya Ririn dan Anton pun keluar dari ruangan itu, menurut Damar dia akan mengirimkan surat pemberhentian Ririn nanti siang.
Tidak mungkin dia langsung memecat Rutin dengan kondisinya yang masih syok karena Jack ditahan polisi, Damar masih memiliki perasaan tidak tega pada gadis sombong dan angkuh itu.
Damar memutuskan untuk memecat Ririn karena dia mendapat perintah dari Axel, mendengar cerita Adeeva kemarin, Axel pun memutuskan untuk memecat wanita yang tak berguna itu.
Keberadaan Ririn di swalayan itu akan menjadi parasit bagi rekan kerjanya, dengan memecat Ririn, Axel berharap hubungan antara karyawan saling menghargai dan tidak ada lagi yang bersikap semena-mena seperti yang dilakukan Ririn selama ini.
"Deev, bagaimana keadaanmu?" tanya Andin pada Adeeva saat mereka telah mulai melakukan pekerjaan mereka.
Adeeva tersenyum.
"Aku baik-baik saja," jawab Adeeva.
"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber kehidupan keluargaku," lirih Andin merasa bersalah karena tidak membantuku Adeeva kemarin.
"Tidak apa-apa, Ndin. Aku mengerti, kok." Adeeva mengusap bahu Andin.
"Aku juga minta maaf, Deev." Mira menundukkan kepalanya dengan mata mulai memerah menahan tangis.
"Kamu beruntung masih ada kekasihmu yang datang menolong, sedangkan aku,--" Mira mulai terisak.
__ADS_1
Adeeva dan Andin yang kini tengah menyusun barang-barang ke troli heran melihat Mira yang tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa, Mira?" tanya Adeeva penasaran.
"Kamu beruntung bisa selamat dari perbuatan bej*t pak Jack sedangkan aku, hiks." Tangis Mira semakin pecah.
Wanita mulai menceritakan kejadian setahun yang lalu.
Saat Mira diterima bekerja di swalayan, hati Mira sangat senang karena dengan itu dia dapat membayar hutang kedua orang tuanya.
Orang tua Mira yang salah jalan meminjam uang pada rentenir sehingga mereka akan diusir dari rumah mereka.
Beruntung Mira dapat pekerjaan, sehingga Adeeva nekat meminjam uang ke Bank dengan tantangan gaji Mira di swalayan untuk angsuran bulanannya.
Hutang di rentenir lunas, sisa tanggung jawab Mira untuk membayar bulanannya.
Di saat Mira sedang asyik bekerja, Jack datang menghampirinya.
"Kamu, datang ke ruangan saya," perintah Jack tiba-tiba.
Akhirnya Mira pun menghentikan pekerjaannya lalu melangkah menuju ruang kerja Jack.
Saat Mira baru saja masuk ke dalam ruangan Jack, pria brengs*k itu mengunci pintu ruangannya.
"Saya perhatikan kamu rajin sekali bekerja," ujar Jack tersenyum.
Dia menatap Mira dengan tatapan penuh nafs*.
Gadis itu merasa risih berada di ruangan itu.
"Saya dengar-dengar pekerjaan ini sangat penting bagimu, itu artinya kamu harus melakukan apa yang saya perintahkan," ujar Jack kini mulai mendekati Mira.
Pria brengs*k itu mulai menggerayangi tubuh Mira.
"Pak, a-apa yang ba-bapak la-la-kukan?" tanya Mira gugup.
"Jika kamu menolak apa yang aku inginkan, maka besok kamu tidak akan bisa lagi bekerja di swalayan ini," ancam Jack.
Mira tak dapat mengelak apa yang ingin dilakukan pria itu, dia pasrah saat si pria itu merenggut benda berharga miliknya, seketika kepera**nannya hilang begitu saja di tangan bos cab*l itu.
Hanya tangis menemani hari-hari Mira setelah itu. Demi keluarganya, dia rela menerima perlakuan bej*t Jack terhadap dirinya.
"Astaghfirullah, aku tak percaya ini dilakukan oleh Jack," ujar Adeeva setelah Mira selesai bercerita.
"Aku akan beritahu semua ini pada Damar, agar Jack dihukum lebih berat," ujar Adeeva.
"Damar??" Andin dan Mira heran mendengar Adeeva menyebut nama bis mereka tanpa kata 'Pak'.
__ADS_1
Bersambung...