
Sayup-sayup Adeeva mendengar suara Daffa yang berbicara.
Dia menghentikan bacaannya, lalu menoleh ke arah Daffa.
Wajah Adeeva langsung berubah bahagia saat melihat Daffa yang sudah membuka matanya.
"Daffa, kamu sudah bangun?" tanya Adeeva bahagia.
Daffa hanya tersenyum.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter," ujar Adeeva.
Adeeva berdiri lalu menekan tombol hijau yang ada di dekat tempat tidur Daffa.
"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, aku senang," lirih Adeeva.
"Benarkah?" lirih Daffa.
"Ya iyalah, aku sangat mencemaskanmu," lirih Adeeva.
Daffa pun menggenggam tangan Adeeva.
"Kenapa kamu mencemaskanku?" tanya Daffa lirih.
Daffa menatap dalam wajah wanita yang kini mulai dikaguminya.
Adeeva terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Jantungnya kini mulai berdetak dengan kencang, tatapan Daffa membuat dia salah tingkah.
"Kenapa kamu mencemaskanku?" tanya Daffa lagi.
Entah mengapa Daffa ingin mendengar jawaban Adeeva.
"Mhm, karena karena kamu satu-satunya orang yang bisa membantuku," jawab Adeeva pelan.
Adeeva tidak mungkin menyatakan bahwa saat ini Daffa sudah sangat berarti dalam hidupnya.
Adeeva sadar diri karena hubungannya dengan Axel sama sekali belum ada titik terang, dia masih sah istri Axel. Dia tidak mungkin menaruh hati pada pria lain di mana dia masih berstatus sebagai istri seorang pria.
Daffa menghela napas dalam, ada sedikit rasa kecewa menyelinap di hatinya.
Dia ingin Adeeva menganggap dirinya sangat berarti di dalam hidupnya, tak hanya sekadar sebagai penolong baginya dalam masa-masanya sulit yang dialaminya saat ini.
"Maafkan aku, Daffa. Aku tidak bisa mengatakan bahwa saat ini kamu sangat penting dalam hidupku, aku sendiri tidak tahu dari mana perasaan ini datang, aku merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirimu," gumam Adeeva di dalam hati.
Mereka saling menatap, jelas di dalam tatapan kedua insan itu kini telah tersimpan rasa saling mengagumi di antara keduanya.
"Permisi," sapa Dokter yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Adeeva dan Daffa tersentak, pandangan mereka beralih pada sosok pria yang kini telah berada di samping tempat tidur Daffa.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dokter pada Daffa.
Daffa tersenyum.
"Kami coba periksa dulu, ya," ujar sang dokter.
Dokter pun mulai memeriksa keadaan Daffa saat ini di bantu oleh perawat yang berada di sampingnya.
Bi Sari hanya diam duduk di sofa, sejak tadi dia hanya memperhatikan gerak gerik orang di ruangan itu, sehingga Daffa dan Adeeva belum menyadari kehadirannya.
"Syukurlah keadaan pasien sudah mendingan dan juga sudah melewati masa kritisnya, sekarang tinggal menunggu pulih, semoga tuan Daffa lekas sembuh," ujar sang Dokter.
"Terima kasih, Dok," lirih Daffa.
"Sama-sama, istirahatlah. Semoga cepat sembuh kasihan istri tuan yang sedang mengandung, dia juga butuh istirahat," ujar dokter lagi.
Daffa menoleh ke arah Adeeva, dia tersenyum mendengar ucapan sang. dokter.
Adeeva hanya menundukkan kepalanya, dia merasa malu mendengar ucapan itu karena hingga saat ini Adeeva tidak tahu siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya saat ini.
"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu," ujar dokter berpamitan.
Adeeva pun mengantarkan Dokter dan perawat hingga pintu ruangan.
"Bi Sari di sini?" sapa Adeeva baru menyadari kedatangan wanita paruh baya itu.
"Iya, Nona," sahut Bi Sari.
"Sejak nona shalat isya tadi," jawab Bi Sari.
"Ya ampun aku sama sekali tidak tahu," lirih Adeeva.
Bi Sari tersenyum.
****
5 hari di rumah sakit, Daffa sudah merasa bosan.
"Kapan aku bisa pulang?" keluh Daffa pada Adeeva yang kini tengah mengelap tubuh Daffa yang sudah terasa begitu gerah.
"Kamu bisa pulang kalau kamu sudah benar-benar sembuh," jawab Adeeva.
Adeeva masih sibuk mengelap tubuh Daffa.
Selama Daffa berada di rumah sakit, Adeeva dengan telaten merawat Daffa, meskipun mereka tidak ada hubungan apa-apa, tapi Adeeva melakukan hal itu dengan senang hati.
Entah mengapa dia merasa senang dan bahagia melakukan hal itu, dia begitu tulus merawat dan menjaga Daffa selama sakit.
Daffa menarik tangan Adeeva yang masih sibuk mengeringkan tubuh Daffa dengan handuk.
Seketika Adeeva menghentikan apa yang tengah dilakukannya.
__ADS_1
"Kenapa? Aku belum selesai mengerjakan tugasku," ujar Adeeva menautkan kedua alisnya.
Dia heran melihat Daffa yang tiba-tiba menghentikan pekerjaannya.
Daffa menatap dalam Adeeva, dia menatap dengan lekat.
Adeeva merasa salah tingkah dengan tatapan itu.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Adeeva gugup.
Dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kini berubah merah merona.
Jantungnya berdetak dengan kencang.
"Kenapa kamu mau melakukan ini semua?" tanya Daffa.
Daffa merasa Adeeva benar-benar tulus memberikan perhatiannya pada dirinya, sehingga Daffa dapat merasakan bahwa Adeeva mulai menyayangi dirinya.
Adeeva hanya diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Daffa membuatnya semakin gugup apalagi tatapan yang dilayangkan Daffa pada dirinya semakin dalam.
"A-aku, a-aku,--" Adeeva bingung.
Daffa pun menarik tangan Adeeva hingga saat ini jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter, mata mereka kini saling menatap dalam.
Mereka dapat mendengarkan detak jantung mereka yang mulai tak keruan, Daffa mengingat kenangannya malam itu, dia merasa peristiwa di bawah alam sadarnya beberapa bulan yang lalu itu dilakukannya dengan Adeeva.
Daffa menarik wajah Adeeva, lalu dia pun mulai mengecup lembut bi**r merah Adeeva.
Ingatan malam itu pun melintas dengan jelas di ingatan Adeeva, dia merasakan sentuhan yang sama dengan sentuhan yang dilakukan oleh Daffa saat ini.
Adeeva pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Daffa, tubuhnya menerima begitu saja apa yang dilakukan oleh Daffa.
Berbeda dengan Axel, di saat Axel hendak menyentuhnya hatinya menolak dan tidak menginginkan hal itu jauh berbeda dengan setiap sentuhan yang diberikan Daffa padanya.
Daffa semakin larut dalam khayalannya, ingatannya semakin jelas memberitahukan bahwa wanita malam itu adalah Adeeva.
Tangannya pun mulai meng***yangi setiap sudut tubuh Adeeva.
Wanita itu pasrah menerima perlakuan Daffa, pria tampan itu pun tak lagi bisa menahan hasratnya yang mulai memuncak.
Dia semakin dalam melu**t bibir Adeeva, wanita itu menikmati setiap sentuhan itu tanpa mereka sadari kini, Adeeva telah berada di atas tempat tidur Daffa.
Mereka hanyut dalam rasa yang dulu pernah mereka lakukan tanpa sadar, ingatan mereka tentang malam panas itu terus melintas di dalam benak mereka sehingga mereka semakin menikmati apa yang telah terjadi.
Kancing baju Adeeva sudah terbuka, kini Daffa dapat melihat dengan jelas dua bukit kembar yang masih tertutup oleh kacamata hitam miliknya.
Mata Daffa tertuju pada benda yang menggair**kan itu.
Dia mulai mengecup benda itu, lalu meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di sana.
Tubuh mereka kini semakin terasa panas, kedua menginginkan hal yang lebih dari itu.
__ADS_1
Bersambung...