
Jantung Adeeva berdetak kencang mendengar ucapan Daffa.
Adeeva merasa ucapan Daffa merupakan pertanda baginya bahwa Daffa adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya, tapi Adeeva tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak memiliki bukti apa-apa.
"Maksud aku, kita beli perlengkapan bayi untuk anak kamu," ujar Daffa memperbaiki ucapannya.
"Oh," lirih Adeeva.
"Ayo," ajak Daffa lagi.
Dia pun menarik tangan Adeeva. Dia sudah dapat memastikan rasa lelah Adeeva telah hilang.
Adeeva kembali bersemangat, dia membayangkan saat ini dia dan suaminya tengah menyiapkan perlengkapan bayi mereka.
Mereka bagaikan sepasang calon orang tua yang sudah tidak sabar lagi menanti kehadiran calon bayinya.
Kini Daffa dan Adeeva tengah asyik memilih perlengkapan bayi yang ada di toko bayi itu.
"Deev, coba lihat keranjang bayi itu." Daffa menarik tangan Adeeva ke sebuah kotak keranjang bayi berwarna biru.
"Apakah kamu suka?" tanya Daffa pada Adeeva.
Adeeva memandangi keranjang bayi itu dengan wajah yang sumringah, dia terlihat sangat menyukai keranjang bayi itu.
"Bagus," jawab Adeeva.
"Ya sudah, kita ambil ini, ya. Setelah ini kita beli perlengkapan yang lain mulai dari popoknya, bajunya, celananya dan lain-lain," ujar Daffa bersemangat.
Adeeva merasa senang dengan apa yang dikatakan Daffa, tapi dia teringat akan satu hal.
Adeeva ingat dengan perjanjian kontrak mereka, setelah dia melahirkan nanti, dia harus pergi dari rumah Daffa. Dia sadar diri akan statusnya saat ini.
Wajah sumringah tadi pun berganti sendu.
"Hei, ada apa?" tanya Daffa heran melihat perubahan wajah Adeeva yang mendadak murung.
"Tidak usah, lagian kandunganku baru masuk 7 bulan," ujar Adeeva.
"7 bulan itu sudah besar, tinggal 2 bulan lagi. Jadi, kita harus siapkan dari sekarang," ujar Daffa.
Adeeva menatap dalam ke arah Daffa.
"Kenapa kamu begitu semangat memikirkan berbagai hal tentang bayiku ini?" gumam Adeeva di dalam hati.
"Kak, kami pesan ini, ya," ujar Daffa.
Lalu Daffa pun meminta berbagai perlengkapan bayi yang bermotif sama dengan keranjang bayi itu.
Dia pun meminta toko tersebut mengirimkan barang-barang yang dibelinya ke rumahnya.
Dia sudah berencana akan menyediakan satu kamar khusus untuk bayi Adeeva nanti.
"Beres, semua perlengkapan bayi ini sudah beres, sekarang tinggal perlengkapan yang dibutuhkan ibunya," ujar Daffa.
"Daffa," lirih Adeeva.
Dia memegangi lengan Daffa, lalu menatap dalam pada pria tampan itu.
__ADS_1
"Mhm, ada apa?" tanya Daffa heran.
"Kenapa kamu melakukan hal ini?" tanya Adeeva pada Daffa.
"Mhm, entahlah. Aku ingin kamu bahagia," jawab Daffa.
Saat ini dia tidak bisa menyatakan bahwa dirinya mulai jatuh cinta pada Adeeva, karena dia masih memiliki janji akan bertanggung jawab pada wanita yang sudah disentuhnya malam itu.
Daffa tidak ingin mengikat Adeeva dengan cintanya karena dia takut suatu hari nanti seorang wanita datang padanya meminta pertanggungjawaban.
"Tapi kenapa, Daffa?" lirih Adeeva lagi.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita lanjut cari makan," ajak Daffa mengalihkan pembicaraan.
Daffa pun membayar semua tagihan barang-barang yang sudah dibelinya. Lalu dia mengajak Adeeva ke sebuah food court Yanga dan di mall tersebut.
Dia yakin saat ini Adeeva juga merasa lapar sama seperti dirinya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Daffa pada Adeeva setelah mereka duduk di dalam food court tersebut.
"Terserah kamu," lirih Adeeva.
"Yakin kamu akan makan apa yang aku pesan?" tanya Daffa.
Adeeva hanya diam, karena hatinya masih berkecamuk dengan alasan Daffa melakukan hal ini.
Daffa pun memesan makanan untuk mereka berdua, dia pun memilih makanan yang menurutnya disukai oleh Adeeva.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Daffa heran yang melihat Adeeva masih saja murung.
"Kamu belum jawab pertanyaan dariku," lirih Adeeva sambil cemberut.
Dia menatap dalam ke arah wanita yang kini memang telah mengisi jiwa dan raganya.
"Deev, aku hanya ingin kamu bahagia. Di setiap doa dan harapanku hanyalah kebahagiaanmu," ujar Daffa pelan.
Adeeva terdiam mendengar ucapan Daffa, dia pun langsung memeluk erat tubuh Daffa. Dia tidak peduli dengan mata yang melihatnya saat ini.
"Terima kasih, Daffa. Aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu," lirih Adeeva.
"Aku tidak mengharapkan balasan darimu, aku akan bahagia melihatmu bahagia," lirih Daffa.
Daffa masih tidak bisa mengungkapkan perasaan nya saat ini.
Adeeva merasa bahagia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Daffa, tapi dia juga sadar diri bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan cinta dari pria baik hati itu karena status yang kini masih mengikat dirinya.
"Permisi, Nona, Tuan." Seorang pelayan datang menghampiri mereka membawa makanan yang mereka pesan tadi.
Adeeva melepaskan pelukannya dari tubuh kekar pria tampan yang kini menjadi tempat paling nyaman baginya.
Si pelayan pun menghidangkan makanan yang mereka pesan tadi di atas meja.
"Ayo kita makan dulu," ajak Daffa.
Setelah itu mereka pun mulai menyantap makanan yang terhidang di hadapan mereka.
Saat mereka sedang asyik makan, terdengar ponsel Daffa berdering.
__ADS_1
Daffa pun mengambil ponselnya di saku celananya. Dia melihat nama Alex tertera jelas di sana.
Daffa menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.
"Ya," lirih Daffa.
"Tuan, ada surat yang harus Tian tanda tangani," ujar Alex.
"Kapan dibutuhkan?" tanya Daffa.
"Nanti pukul 15.00, ada pertemuan dengan perusahaan Bintang Jaya," ujar Alex memberitahukan.
"Baiklah, setelah makan siang ini saya akan langsung ke kantor," ujar Daffa.
"Baik, Tuan. Saya tunggu di kantor," ujar Alex.
"Ya." Daffa pun mematikan sambungan telepon itu.
Dia kembali menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.
Adeeva masih sibuk dengan makanannya. Dia terlihat lahap menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Mau tambah?" tanya Daffa penuh perhatian.
"Mhm, boleh," jawab Adeeva.
Adeeva memang sudah sangat lapar, perjalanan hari ini membuat dia merasa lelah dan sangat lapar.
Daffa kembali memesan makanan yang diinginkan Adeeva, bagi Daffa tak menjadi masalah jika Adeeva makan banyak. Daffa senang jika Adeeva masih memiliki selera makan.
Lagi-lagi Adeeva menghabiskan makanannya dengan lahap, Daffa duduk sambil tersenyum memandangi Adeeva.
"Ah, kenapa liatin begitu," Adeeva merasa malu.
Memangnya kenapa?" balik Daffa bertanya.
Adeeva hanya tersenyum lalu kembali menghabiskan makanannya.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Adeeva.
Dia kini sudah merasa lelah, tapi ingin selalu berada di samping Daffa.
"Kita ke kantor sebentar, ada yang harus aku selesaikan," jawab Daffa.
"Oh," lirih Adeeva.
Setelah keluar dari mall, Daffa pun langsung melajukan mobilnya menuju kantor.
"Kamu ikut ke dalam, ya," ajak Daffa.
"Iya." Adeeva mengangguk.
Daffa membawa Adeeva masuk ke dalam perusahaan besar itu, perusahaan Daffa tak jauh berbeda dengan milik Axel.
Saat Daffa dan Adeeva masuk ke dalam
ruangan Daffa, di sana telah duduk seorang wanita.
__ADS_1
"Siapa, kau?
Bersambung...