
Tanpa penolakan Ririn pun mengikuti langkah Adeeva yang masuk ke dalam taksinya.
Orang-orang yang tadi berkerumun pun mulai bubar, kendaraan yang tadi berhenti pun mulai berjalan kembali.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Adeeva pada Ririn setelah mereka berada di dalam taksi.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Ririn.
"Ka-kamu karyawan baru yang di swalayan, bukan?" tanya Ririn memastikan ingatannya tidak salah.
"Iya," jawab Adeeva sambil tersenyum.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah menolongku," ujar Ririn.
Ririn menundukkan kepalanya merasa malu terhadap Adeeva, perbuatan jahatnya terhadap karyawan baru di swalayan tempat dia bekerja sebelumnya.
"Nona, kita mau ke mana?" Lagi-lagi sopir taksi menanyakan tujuan Adeeva.
"Mhm." Adeeva bingung.
"Ka-kamu mau ke mana?" tanya Adeeva pada Ririn.
Paling tidak untuk sementara waktu dia memiliki tujuan agar sopir.taksi tidak kebingungan.
"Mhm, Akku mau pulang saja," jawab Ririn.
"Ya sudah kalau begitu, di mana alamatnya?" tanya Adeeva.
"Jalan Belanti nomor 105," jawab Ririn.
Gadis itu menyebutkan alamat kost-annya.
"Ya sudah, Pak. Kita ke Jalan belanti dulu," ujar Adeeva pada sopir taksi.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Ririn mulai penasaran tujuan Adeeva.
"Mhm." Adeeva terlihat bingung.
Dia menggaruk kepalanya sembari berpikir.
Ririn memperhatikan ransel yang ada di samping Adeeva.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ririn lagi.
"Mhm, a-aku mau cari penginapan," jawab Adeeva.
Hanya satu itu yang bisa menjadi tujuannya saat ini.
"Kamu mau cari tempat menginap?" tanya Ririn memastikan.
"I-iya." Adeeva menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu bisa menginap di kost-an ku dulu," ujar Ririn menawarkan diri.
"Mhm, enggak usah. Aku tidak mau merepotkanmu," ujar Adeeva berusaha menolak tawaran Ririn.
"Please, paling tidak sebagai tanda terima kasihku yang sudah kamu tolong tadi," ujar Ririn memaksa Adeeva.
Adeeva kembali berpikir, mungkin tidak ada salahnya dirinya menginap barang satu malam di kost Ririn.
"Baiklah," lirih Adeeva.
Akhirnya Adeeva menerima tawaran Ririn.
Tak berapa lama mereka pun sampai di kost Ririn.
Adeeva dan Ririn turun dari taksi, lalu Adeeva memberikan selembar uang seratus ribu pada sopir taksi.
Meskipun Adeeva kabur dari rumah suaminya, tapi dia tidak lupa membawa dompet dan semua uang yang dimilikinya begitu juga dengan ATM yang masih berisi uang tabungannya beserta uang bulanan yang baru dikirim oleh Axel.
"Ayo, masuk!" ajak Ririn setelah membukakan pintu kost-nya.
Adeeva masuk ke dalam sebuah kamar kost yang berukuran 4 kali 5 meter, yang mana di sana terdapat kamar mandi.
Di kamar itu juga terdapat kasur santai yang digulung di atas karpet. Di kamar itu sama sekali tidak ada tempat tidur.
Jika diperhatikan Ririn hidup dengan sangat sederhana. Tapi, sikap sombongnya tak sesuai sama sekali dengan kehidupan sehari-harinya.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Adeeva prihatin.
"Iya, harap maklum. Hanya kost ini yang bisa aku sewa," jawab Ririn merasa malu.
Dia teringat dengan sikap sombong dan angkuhnya selama ini dihadapan rekan kerjanya.
"Oh, tidak masalah." Adeeva tersenyum.
Ririn mempersilakan Adeeva duduk di karpet yang tersedia di sana.
"Mhm, lalu keluargamu tinggal di mana?" tanya Adeeva penasaran dengan kehidupan Ririn.
"Aku di sini merantau, dan hidup sebatang kara, ayah dan ibuku di kampung," jawab Ririn.
"Oh, begitu. Sudah berapa tahun tidak pulang?" tanya Adeeva.
Ririn terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah dia jujur dengan nasibnya yang sesungguhnya.
"Kamu kenapa diam?" tanya Adeeva penasaran.
Adeeva dapat melihat wajah sedih Ririn.
Entah mengapa Ririn mulai menangis, dia tak dapat lagi menahan rasa sesak di dadanya.
5 hari sudah dia tak bekerja, dia merasa nasibnya begitu malang. Akhirnya dia pun meluapkan rasa sesak dan sedih yang ditahannya beberapa hari ini.
__ADS_1
"Aku sudah 5 tahun tidak pulang ke kampung, bahkan saat ini aku tidak tahu bagaimana kabar keluargaku di sana," tutur Ririn jujur.
"Apa?" Adeeva tak percaya.
Ririn pun mulai menceritakan kejadian 5 tahun silam saat dia baru saja tamat SMA.
"Ririn," panggil Ayahnya.
Ririn yang sedang duduk di teras rumah pun melangkah masuk ke dalam rumah lalu duduk di depan ayah dan ibunya yang kini duduk di ruang tamu, yang mana di sana hanya ada tikar rumput.
"Iya, Yah." Ririn menunggu ucapan sang ayah.
"Begini, Rin. Ayah dan Ibu sudah sepakat untuk menikahkanmu dengan pak Somad," ujar Ayah Ririn.
Ririn membesarkan kedua bola matanya, dia tak percaya kedua orang tuanya tega menjodohkannya dirinya yang baru saja lulus SMA dengan seorang pria berumur 60 tahunan yang memiliki empat orang istri.
"Tidak, Yah." Ririn menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Ayah dan Ibu tidak meminta persetujuan darimu, tapi kamu harus menurutinya," ujar Ayah Ririn tegas.
Ririn menoleh ke arah wanita yang telah melahirkannya dia berharap sang ibu akan membantunya dan menyelamatkan pernikahan gila yang direncanakan oleh ayahnya.
Namun, sang ibu hanya bisa menundukkan kepalanya, dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Ririn tidak mau menikah dengan aki-aki bau tanah itu," bantah Ririn.
Gadis itu pun berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Dia mulai mengurung diri di dalam kamar sebagai aksi penolakan keputusan sang ayah.
Satu hari sudah Ririn tak keluar dari kamarnya, dia mulai memikirkan cara agar dia selamat dari pernikahan gila tersebut.
"Bu." Ayah Ririn memanggil istrinya.
"Iya, Yah." Ini hasil panen cabe hari ini, kamu simpan, ya," ujar Ayah Ririn sembari menyodorkan 7 lembar uang seratus ribu pada sang istri.
"Oh iya, Yah." Ibu Ririn pun mengambil uang tersebut lalu dia menyimpan uang itu di dalam lemari seperti biasanya.
Ririn mendengar ucapan sang ayah pada ibunya itu, seketika dia menemukan sebuah ide untuk selamat dari perjodohan itu.
Saat sore hari, ayah Adeeva pergi keluar dan Ibu Ririn pergi ke sungai untuk mandi dan mencuci baju. Ririn pun keluar dari kamarnya, dia memperhatikan keadaan rumahnya saat itu.
Ririn melangkah ke depan dan belakang rumah untuk memastikan kedua orang tuanya tak berada di rumah, setelah itu Ririn melangkah menuju kamar orang tuanya, dia pun mengambil uang yang disimpan sang ibu.
Setelah itu, dia pun mengambil ransel sekolahnya, dia mengisi tak itu dengan beberapa pakaian dan setelah itu gadis itu pun kabur meninggalkan rumah kedua orang tuanya dengan membawa uang hasil panen cabe untuk persediaan baginya beberapa hari ke depan.
Adeeva memeluk Ririn yang masih terisak setelah menceritakan apa yang dialaminya.
Dia tahu, saat ini dia telah berbuat durhaka pada kedua orang tuanya, tapi dia sendiri tidak mau terikat dengan pernikahan gila itu.
"Sabar, ya," lirih Adeeva.
__ADS_1
Bersambung...