
Daffa telah berada di depan sebuah kafe yang menurut informasinya, Adeeva bekerja di sana.
Daffa turun dari mobil, lalu dia masuk ke dalam kafe itu layaknya seorang costumer yang ingin membeli.
Daffa duduk di salah satu kursi yang ada di tengah-tengah kafe itu.
Baru saja Daffa duduk, seorang pelayan datang menghampiri Daffa.
"Permisi, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya si pelayan pada Daffa.
"Coffe late satu," sahut Daffa menanggapi sang pelayan.
"Ada tambahan, Tuan?" tanya si pelayan.
"Tidak," jawab Daffa.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Tuan," ujar si pelayan dengan ramah.
Pelayan pun meninggalkan Daffa yang kini mulai asyik membuka ponselnya.
Tak berapa lama, pelayan itu kembali menghampiri Daffa dengan membawa secangkir coffee yang diminta Daffa tadi.
"Silakan, Tuan," ujar si pelayan sambil meletakkan secangkir coffee late itu di atas meja.
"Terima kasih," ucap Daffa.
Si pelayan hendak pergi meninggalkan Daffa.
"Kak," panggil Daffa yang menghentikan langkah si pelayan.
Si pelayan pun membalikkan tubuhnya.
"Iya, Tuan," ujar si pelayan dengan ramah.
"Mhm, apakah kakak pernah melihat wanita ini?" tanya Daffa pada si pelayan itu.
Daffa menyodorkan ponselnya memperlihatkan foto Adeeva yang ada di ponselnya.
Si pelayan pun mengamati sosok wanita yang ditunjukkan Daffa padanya.
"Bukannya ini Kak Adeeva, ya?" lirih si pelayan berusaha menyamakan sosok foto yang ada di dalam ponsel Daffa dengan rekan kerjanya.
Wajah Adeeva di dalam foto itu terlihat lebih cantik dan glowing dibandingkan saat bekerja dengannya.
"Ya Adeeva, namanya Adeeva. Apakah kakak mengenalinya?" tanya Daffa.
Daffa sangat senang mendengar si pelayan menyebut nama Adeeva.
"Kak Adeeva memang bekerja di sini, Tuan. Tapi hari ini dia enggak masuk, kami tidak tahu kenapa dia tidak masuk," jawab si pelayan.
"Apa ada yang tahu dia tinggal di mana?" tanya Daffa lagi pada i pelayan. Dia terus berusaha mengorek informasi tentang wanita yang telah menguasai hatinya.
"Saya kurang tahu, Tuan," jawab si pelayan sambil menggaruk kepalanya.
"Nung, ada apa?" Tiba-tiba Andrew datang menghampiri pelayannya.
__ADS_1
Sejak tadi, pelayannya itu asyik mengobrol dengan pelanggannya yaitu Daffa.
"Maaf, Tuan. Tuan ini menanyakan keberadaan kak Adeeva," jawab si pelayan.
Andrew pun menatap dalam ke arah Daffa.
"Siapa pria ini? Mengapa dia mencari Adeeva, apa jangan-jangan pria ini suami Adeeva?" gumam Andrew di dalam hati.
"Oh, kamu siapa? Kenapa mencari Adeeva?" tanya Andrew menginterogasi Daffa.
"Saya suaminya." Spontan Daffa mengaku sebagai suami Adeeva.
"Kalau dilihat sepintas pria ini merupakan pria yang mapan dan baik hati, lalu mengapa Adeeva kabur dari suaminya?" gumam Andrew bertanya-tanya di dalam hati.
Andrew semakin penasaran dengan kehidupan Adeeva.
"Biasanya Adeeva bekerja di sini, tapi entah mengapa hari ini dia tidak masuk, " ujar Andrew.
"Apakah ada yang tahu di mana dia tinggal?" tanya Daffa lagi.
"Nung, kamu lanjutkan pekerjaanmu," ujar Andrew pada pelayannya masih berdiri di tempatnya.
Lalu Andrew pun duduk di samping Daffa.
"Saya bisa mengantarkan anda ke rumah kontrakannya," ujar Andrew berbaik hati menawarkan diri.
"Benarkah?" tanya Daffa tak percaya.
"Ya, hari pertama dia bekerja di sini, kebetulan saya melihatnya sangat kelelahan, jadi saya antarkan dia ke rumah kontrakannya," cerita Andrew.
Daffa merasa kasihan pada Adeeva, dia masih ingat dengan janjinya yang akan menanggung segala biaya persalinan.
"Tidak masalah," ujar Andrew.
"Kalau mau diantar sekarang, mari saya antar," ajak Andrew.
"Oh, baiklah," sahut Daffa.
Daffa pun bergegas menyeruput coffee late yang baru saja dipesannya.
Mereka keluar dari kafe setelah Daffa selesai membayar minumannya tadi.
Daffa mengajak Andrew untuk masuk ke dalam mobil sport yang dibawa Daffa.
Awalnya Andrew merasa ragu untuk naik di mobil mewah milik Daffa, tapi sikap ramah Daffa membuat Andrew akhirnya menaiki mobil mahal itu.
Di sepanjang jalan mereka bercerita saling mengenal, dan ternyata seumuran sehingga mereka pun akhirnya saling memanggil nama.
Saat diperjalanan, Daffa ingat kejadian waktu itu yang dia pernah melihat Adeeva di sekitar jalan yang dilintasinya.
"Kalau enggak salah, ini tempat aku melihat Adeeva waktu itu," gumam Daffa di dalam hati.
Hanya butuh waktu 10 menit mereka pun sampai di rumah Santi.
Daffa dan Andrew turun dari mobil.
__ADS_1
Mereka memperhatikan sekitar rumah itu, rumah Santi terlihat tertutup rapat begitu juga dengan paviliun yang ditempati Adeeva.
Sekitar rumah terlihat sepi, mereka tidak mendapati siapa pun di rumah sederhana milik Santi itu.
"Sepertinya Santi sedang berjualan, tapi di mana Adeeva, ya?" lirih Andrew.
"Siapa Santi?" tanya Daffa penasaran saat mendengar ucapan Andrew.
"Santi itu temanku, dia yang punya rumah ini, dan Adeeva tinggal di paviliun rumah ini," jawab Andrew sambil menunjuk paviliun yang ditempati Adeeva selama ini.
"Lalu Adeeva ke mana?" tanya Daffa.
"Saya kurang tahu juga, biar lebih jelasnya mari kita ke warung kaki lima temanku itu," ajak Andrew.
"Ya," sahut Daffa.
Sebelum mereka menaiki mobil, Daffa mencermati tempat tinggal Adeeva.
Hatinya terasa semakin hancur saat mengetahui bahwa Adeeva tinggal di tempat yang menurutnya tidak layak bagi Adeeva yang tengah mengandung.
Daffa teringat pada Ainun, dia yakin wanita itulah yang menyebabkan Adeeva pergi meninggalkan rumahnya.
Rasa benci dan dendam terhadap wanita itu kini berkecamuk di hatinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang selagi aku belum menemukan Adeeva," gumam Daffa di dalam hati.
Daffa melangkah masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Andrew.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Santi lalu menuju warung kaki lima milik Santi yang tidak jauh dari komplek perumahan Daffa.
Daffa menghentikan mobilnya tepat di depan warung kaki lima Santi.
Santi yang sedang duduk menanti pelanggan merasa heran melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan warung kaki lima miliknya.
Setahu Santi, orang kaya tidak akan mau makan di sebuah warung kaki lima yang belum tentu terjamin kebersihan dan ke-higinies-annya.
Santi terus memperhatikan mobil mewah itu, tak berapa lama dua orang pria turun dari mobil mewah itu, mereka pun melangkah masuk ke warung kaki lima milik Santi.
Santi kaget saat melihat sosok Andrew yang ikut turun dari mobil mewah itu.
"Andrew?" Santi heran melihat kedatangan temannya itu.
Andrew tersenyum lalu mengajak Daffa untuk masuk ke dalam warung milik Santi.
Daffa berusaha bersikap sewajarnya, walaupun ada perasaan risih berada di warung itu.
"Ada apa, Ndrew?" tanya Santi langsung setelah Andrew dan Daffa duduk di warung miliknya.
"Mhm, kenalkan ini Daffa. Dia sedang mencari Adeeva," jawab Andrew menyampaikan tujuan kedatangannya ke warung itu.
"Oh, Adeeva. Dia kemarin sudah pergi ikut suaminya," jawab Santi.
"Apa?" Andrew dan Daffa kaget mendengar jawaban Santi.
Bersambung...
__ADS_1