Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 116


__ADS_3

Tak berapa lama mereka menunggu, seorang perawat memanggil nama mereka.


Daffa langsung berdiri, dia melangkah menuju ruangan sang dokter diikuti oleh Adeeva.


Mereka berdua tampak tak sabar ingin mengetahui hasil tes DNA yang telah mereka lakukan, meskipun Daffa yakin bahwa baby Ghaffar adalah darah dagingnya, dia masih tetap deg-degan dengan hasil dari laboratorium.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," sapa dokter pada Daffa dan Adeeva.


"Pagi, Dok," sahut Adeeva dan Daffa serentak.


Mereka tersenyum ramah pada sang dokter yang ada di hadapan mereka.


Sang dokter pun memberikan selembar kertas yang berisi hasil tes DNA pada Daffa, tak menunggu lama Daffa langsung meraih kertas tersebut.


Dia mulai membaca isi lembaran kertas tersebut.


"Tidak mungkin," lirih Daffa tak percaya dengan apa yang tertulis di kertas itu.


"Kenapa, Bang?" tanya Adeeva merebut kertas itu dari tangan Daffa.


Adeeva pun membaca hasil tes tersebut.


Dia menoleh ke arah Daffa.


"Berarti kamu bukan,--" Ucapan Adeeva terpotong.


Dia berdiri lalu melangkah keluar dari ruangan itu tanpa minta izin pada sang dokter.


"Maaf, Dok." Daffa pun ikut keluar dari ruangan itu.


Dia mengejar Adeeva yang kini melangkah keluar dari rumah sakit.


Ada rasa kecewa di hati Adeeva, dia merasa Daffa telah mempermainkan hatinya.


Dia sudah terlalu berharap bahwa Daffa adalah ayah dari anaknya.


Meskipun dia sangat mencintai Daffa, tapi dia sudah berkata pada Axel bahwa dia ingin mencari ayah dari baby Ghaffar.


"Deev," panggil Daffa.


Adeeva tak menggubris ucapan Daffa, dia terus saja melangkah.


"Sayang," panggil Daffa sembari menarik lengan Adeeva yang masih menggendong baby Ghaffar.


Adeeva menatap Daffa dengan wajah yang sangat kecewa.


"Apakah kamu tak percaya padaku?" tanya Daffa pada Adeeva.


"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Kenapa kamu berbohong padaku?" tanya Adeeva penuh kekecewaan.


"Deev," lirih Daffa sembari menangkup wajah Adeeva yang kini memerah karena sedih.


"Apakah kamu tidak yakin dengan cintaku padamu?" tanya Daffa pada Adeeva mempertanyakan perasaan Adeeva terhadap dirinya.

__ADS_1


"Bukan begitu, Bang? Aku hanya kecewa karena kamu telah membohongiku," lirih Adeeva jujur.


"Aku tidak berbohong padamu, apakah kamu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dion dan Ainun?" Daffa terus berusaha meyakinkan Adeeva.


Adeeva terdiam sejenak.


"Tapi, Bang. Axel tidak akan menceraikan aku jika kamu terbukti bukan ayah dari Ghaffar," lirih Adeeva.


Daffa pun memeluk tubuh Adeeva yang masih menggendong bayinya.


"Kamu sabar, ya. Aku akan berusaha membujuk Axel, mungkin saat ini dia masih mencintaimu dan belum bisa melepaskan dirimu," ujar Daffa.


Daffa merasa ada yang salah dari hasil tes itu, tapi untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Adeeva mengangkat wajahnya, dia menatap dalam mata Daffa yang memancarkan ketulusan cinta dihatinya.


"Ya sudah, kita pulang dulu, biar aku yang akan bicara dengan Axel," ujar Daffa lagi menenangkan hati Adeeva.


Adeeva pun mengangguk pelan.


Melihat sikap Daffa membuat Adeeva merasa yakin bahwa dia tak salah mencintai pria baik nan tampan ini.


"Ya Allah, semoga saja Daffa benar-benar ayah Ghaffar," gumam Adeeva di dalam hati berharap pada sang pencipta.


Mereka pun melangkah keluar dari rumah sakit, lalu menaiki mobil dan meninggalkan rumah sakit.


Di dalam ruang dokter, seorang perawat melihat kertas yang dipegang Daffa tadi di lantai.


"Buk, ini bukannya hasil tes yang hari sabtu itu?" tanya si perawat pada dokter yang bertugas di laboratorium.


Si perawat mengambil kertas itu lalu menyimpannya di dalam saku bajunya.


****


Pagi ini di apartemennya, Axel terlihat pucat, sejak subuh dia berkali-kali bolak-balik kamar mandi karena perutnya yang terasa mual.


Kyara yang baru saja selesai menyiapkan sarapan seadanya melangkah menuju kamar sang suami, meskipun saat ini mereka belum tidur di satu kamar, tapi hubungan Kyara dan Axel semakin membaik.


Keberadaan Kyara di samping Axel tanpa adanya Adeeva membuat hubungan mereka semakin dekat.


Tok tok tok.


Kyara mengetuk pintu kamar sang suami.


"Bang, sudah bangun?" tanya Kyara pada sang suami.


Tak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar, dan Axel pun juga tak kunjung keluar dari kamarnya.


Tok tok tok.


Kyara kembali mengetuk pintu kamar sang suami.


Berkali-kali Kyara memanggil sang suami tapi Axel masih tak kunjung keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Akhirnya Kyara berinisiatif untuk membuka pintu kamar itu, kebetulan pintu kamar Axel tak dikunci.


Saat Kyara sudah berada di dalam kamar, dia tak mendapati Axel di kamar itu.


"Bang Axel ke mana, ya?" gumam Kyara bertanya-tanya di dalam hati.


"Apa jangan-jangan bang Axel ada di dala kamar mandi?" gumam Kyara lagi menebak.


Kyara pun melangkah menuju pintu kamar mandi.


Tok tok tok.


Dia mengetuk pintu kamar mandi itu.


"Bang," panggil Kyara.


"Oek Oek!" terdengar suara Axel yangs edang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Bang, kamu kenapa?" teriak Kyara sembari mengetuk pintu kamar mandi lebih keras lagi.


Dengan langkah tertatih, Axel pun membuka pintu setelah dia merasa sedikit tenang.


"Ada apa?" tanya Axel lirih.


"Ya ampun, Bang. Kamu kenapa?" tanya Kyara cemas melihat wajah Axel yang pucat.


Axel pun menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi pada dirinya.


Kyara pun langsung memapah tubuh kekar sang suami, lalu membawa pria itu berbaring di atas tempat tidur.


Setelah Axel berbaring di atas tempat tidur, Kyara berdiri lalu melangkah keluar, dia masih mengingat di mana Axel menyimpan kotak P3K miliknya.


Kyara bergegas kembali masuk ke dalam kamar mandi lalu mengolesi minyak kayu putih di bagian pusar sang suami, tak lupa leher dan keningnya.


"Sepertinya kamu masuk angin, Bang," lirih Kyara.


Kyara menunjukkan perhatian yang besar terhadap sang suami.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" Kyara mengajak sang suami untuk memeriksakan keadaannya saat ini pada dokter.


"Tidak usah, mungkin sebentar lagi juga hilang rasa mualnya, kan udah pakai minyak kayu putih," ujar Axel menolak ajakan Kyara.


"Ya sudah kalau begitu, aku bawakan teh hangat dulu, supaya kamu ada tenaga," ujar Kyara.


Kyara pun melangkah menuju dapur, tak berapa lama setelah itu, dia pun kembali masuk ke dalam kamar Axel sembari membawakan teh hangat dan sandwich yang sudah dimasaknya tadi.


"Kamu minum teh hangat ini, ya. Kalau berselera, kamu juga makan sandwich yang sudah aku masak ini, agar kamu ada tenaga dan pulih," ujar Kyara penuh perhatian.


Axel mengambil cangkir teh yang disodorkan sang istri, lalu dia menyesap teh hangat yang dibuat oleh istri keduanya.


Setelah itu Axel pun meletakkan cangkir itu di atas nampan.


Dia menatap dalam ke arah Kyara yang setia mendampinginya.

__ADS_1


"Kya, kenapa kamu lakukan ini padaku?" lirih Axel merasa bersalah telah mengabaikan Kyara selama ini.


Bersambung...


__ADS_2