Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 32


__ADS_3

Si pria menautkan kedua alisnya, dia bingung mendengar ucapan si wanita yang seolah pernah bertemu dengannya.


"Kamu mengenaliku?" tanya Si pria tampan penasaran.


"Mhm, kamu pria sombong dan angkuh itu," ujar Adeeva jujur.


Dia yakin bahwa dirinya tak salah orang. Dia ingat pria yang kini duduk di samping tempat tidurnya itu adalah pria sombong yang waktu itu menabrak dirinya di hotel saat Adeeva dan Axel pergi bulan madu.


Si pria tampan semakin heran mendengar ocehan Adeeva.


Dia sama sekali tidak mengingat wanita yang kini bersamanya.


"Apa kamu bilang? Aku pria sombong dan angkuh?" tanya Si pria.


"Iya, kamu yang nabrak aku waktu itu, kamu juga yang marah-marah padaku," ujar Adeeva mengungkap kekesalannya.


Dia lupa bahwa saat ini pria yang di hadapannya itulah yang telah menolongnya.


"Ah, sudahlah. Jangan mengoceh lagi," ujar si pria kesal mendengar ucapan Adeeva yang dia tak mengerti sama sekali.


Adeeva terdiam.


"Hubungi keluargamu, dan mintalah mereka datang secepatnya ke sini untuk menjagamu," ujar si pria.


Adeeva mulai berpikir setelah mendengar ucapan si pria, akhirnya dia menyadari keberadaannya saat ini. Dia sadar bahwa dia kini tengah berada di rumah sakit dengan tangan yang diinfus.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" lirih Adeeva bertanya.


"Aku menemukan tergeletak di jalanan, cepat hubungi keluargamu!" ujar si pria tegas.


Sikap asli pria pun mulai keluar setelah mendengar ocehan Adeeva tadi, seketika rasa iba itu ditepisnya.


"Apa?" lirih Adeeva tak percaya.


Wanita itu pun mulai mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"Astaghfirullah," lirih Adeeva setelah ingat musibah yang baru saja menimpanya.


"Hei, kamu dengar tidak?" tanya si pria lagi.


"A-aku tidak punya keluarga di sini," lirih Adeeva sedih membayangkan nasibnya yang sudah kehilangan uangnya.


Si pria menatap Adeeva dalam.


"Apa maksudmu?" tanya Si pria.


"Aku baru saja sampai di sini, saat perjalanan dari bandara sopir taksi itu mengambil semua uangku," tutur Adeeva jujur.


Si pria terdiam. Dia masih menatap dalam ke arah si wanita, ingatannya pada kenangan beberapa bulan lalu pun kembali melintas di benaknya.

__ADS_1


Kini dia merasa pernah bertemu dengan wanita yang ditolongnya itu, samar-samar dia merasa pernah bersama dengan Adeeva.


Si pria tampan itu hendak keluarga dari ruang rawat Adeeva, dia tidak bisa tenang setiap kali melihat Adeeva sekelebat ingatan malam itu terus melintas di benaknya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Adeeva menghentikan langkahnya.


Adeeva memegang tangan pria tampan itu, seketika jantung si pria berdetak tak keruan, hatinya merasa suatu getaran yang dirinya tak mengerti apa artinya.


Si pria menatap tangannya yang bersentuhan dengan Adeeva.


Ingatannya semakin saja mengganggu pikiran si pria tampan.


"Aku akan keluar sebentar," ujar Si pria tampan.


Dia pun keluar dari ruang rawat itu, untuk menenangkan dirinya si pria memilih untuk melangkah ke kantin rumah sakit untuk sekadar minum kopi.


Dia menghubungi seseorang dan memintanya datang ke rumah sakit itu.


30 menit menunggu seseorang datang menghampirinya yang kini tengah menyesap kopi yang dipesannya.


"Siang, Tuan." Seorang pemuda berjas hitam dengan penampilan yang sangat rapi datang menghampirinya.


"Apakah kamu sudah menemukan sosok wanita yang menjadi korban malam itu?" tanya Si pria tampan pada asisten pribadinya.


"Maaf, Tuan." Asisten pribadi si pria tampan itu menunduk.


"Hei, Daffa." Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka.


"Eh, Gandi," balas pria tampan yang bernama Daffa itu.


Seketika Daffa melupakan pertanyaan pada asisten pribadinya.


Dia pun asyik mengobrol dengan teman kuliahnya yang kini telah menjadi dokter.


Daffa yang dulu juga sekolah di universitas kedokteran terpaksa melepaskan jas putihnya demi menuruti keinginan mendiang papanya yang meminta Daffa untuk menggantikan posisinya di perusahaan yang berkecimpung di bidang pariwisata dan perhotelan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Gandi pada Daffa.


"Mhm, ada temanku yang sakit," jawab Daffa.


"Oh, ya sudah kalau begitu, aku lanjut kerja dulu, ya. Lain kali kita sambung cerita lagi," ujar Gandi pada temannya itu.


Hampir satu jam mereka mengobrol, waktu istirahat Gandi pun sudah habis dan saatnya dia kembali melayani pasiennya.


"Oh, oke." Daffa mengangguk.


Gandi pun meninggalkan Daffa dan asisten pribadinya.


"Kenapa kali ini kamu tak becus dalam bekerja?" ujar Daffa kesal.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Semua rekaman cctv di malam itu sudah dihapus," ujar Asisten pribadinya.


"Siapa yang sudah melakukan ini padaku?" gumam Daffa di dalam hati.


Daffa pun mulai mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


Malam itu Daffa berkumpul dengan beberapa teman dan rekan kerjanya.


Mereka merayakan hari ulang tahun salah satu teman Daffa.


Saat itu Daffa memang menikmati pesta tersebut sehingga dia tidak tahu seseorang telah memasukkan sebuah obat perangsang dan obat tidur di dalam minumannya.


Setelah pesta usai, seseorang membawa Daffa ke sebuah kamar hotel, yang Daffa sendiri tak tahu siapa yang telah membawanya ke kamar tersebut.


Pada pukul 02.00. Daffa terbangun akibat obat perangsang yang diminumnya, tubuhnya terasa panas. Juniornya telah berdiri dan siap untuk menerkam mangsanya.


Dia tampak bingung apa yang terjadi pada dirinya.


Dalam kondisi setengah sadar, Daffa melihat seorang wanita yang tertidur pulas di tempat tidurnya.


Tanpa pikir panjang Daffa pun memangsa gadis yang sama sekali tak dikenalinya itu untuk melepaskan hasratnya yang tak bisa di tahan sama sekali.


Meskipun si wanita tertidur dengan pulasnya, dia tetap menikmati setiap lekuk tubuh wanita itu.


Daffa kembali tertidur setelah dirinya merenggut keperaw*nan seorang gadis yang tak dikenalinya.


Saat pagi tiba, Daffa pun terbangun di kamar hotel yang berbeda. Dia tak lagi mendapati gadis yang telah direnggutnya kesuc**nnya.


"Di mana gadis itu?" lirih Daffa saat tersadar dia sudah merusak seorang gadis.


Meskipun dia masih berada di bawah alam sadar saat menyalurkan hasratnya yang memuncak itu, dia masih dapat merasakan bahwa wanita yang tidur di sampingnya malam itu masih peraw*n.


"Siapa yang telah melakukan ini padaku?" gumam Daffa lagi.


"Tuan," lirih si asisten pribadinya saat melihat Daffa yang melamun.


Daffa tersentak dari lamunannya, lalu menoleh ke arah asisten pribadinya itu.


"Ada apa?" tanya Daffa.


Daffa menautkan alisnya menatap heran ke arah sang asisten pribadi yang kini terlihat cemas dengan memegang tablet yang ada di tangannya.


"Ada apa?" tanya Daffa lagi.


Dengan wajah yang panik, si asisten pribadi menyodorkan tablet yang ada di tangannya kepada Daffa.


Dia memperlihatkan sebuah rekaman video yang dikirim oleh seseorang yang tak dikenal.


Daffa mengambil tablet tersebut, lalu membuka rekaman itu.

__ADS_1


Wajahnya kini berubah merah padam menahan amarah yang memuncak.


Bersambung...


__ADS_2