Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 57


__ADS_3

"Bukan mami tidak setuju dengan hubunganmu dan Adeeva, tapi kamu harus sadar bahwa Adeeva itu milik orang, mami hanya tidak ingin kamu bersedih," jawab Rossa.


"Tapi, mi. Adeeva itu tidak bahagia bersama suaminya, makanya dia kabur dari suaminya," ujar Daffa.


“Iya, Nak. Kalau suaminya rela melepaskannya, itu baus. Tapi, jika suaminya tidak mau menceraikannya, bagaimana?” Rossa menyampaikan pendapatnya.


Daffa hanya bisa diam mendengar ucapan sang mami.


Saat makan malam, semua orang berkumpul di ruang makan. Adeeva duduk di samping Daffa begitu juga dengan Ainun, dia juga duduk di samping Daffa. Rossa memperhatikan gerak gerik kedua wanita yang berada di sisi sang putra.


Saat Adeeva ingin mengambilkan nasi untuk Daffa, Ainun langsung merebut piring yang ada di tangan Adeeva. Dia pun mengisi piring itu dengan nasi.


“Kau mau lauknya apa?” tanya Ainun pada Daffa.


“Biarkan aku sendiri,” ujar Daffa.


Daffa mengambil piring yang ada di tangan Ainun, lalu dia pun mengambil lauk untuknya. Setelah itu Daffa mengambil piring Adeeva, dia mengisi piring Adeeva dengan nasi dan lauknya.


“Makanlah, agar kandunganmu sehat,” ujar Daffa.


Pria tampan itu lebih memilih memberi perhatian kepada Adeeva dari pada Ainun yang katanya tengah mengandung benihnya.


“Daffa, kamu juga harus ambilkan nasi untukku,” ujar Ainun tak mau kalah.


Daffa hanya diam, dia tak menghiraukan ucapan Ainun, Rossa masih diam dia memilih untuk mengamati terlebih dahulu apa yang akan terjadi.


“Daffa,” ujar Ainun kesal.


Daffa menoleh ke arah Ainun.


“Kamu tahu kan, di dalam rahimku ini juga anakmu, kamu juga harus perhatian padaku. Kau harus adil, dong,” protes Ainun tanpa ada rasa segan sedikitpun pada Rossa sebagai mertuanya.


Daffa melirik ke arah maminya, dia melihat wanita paruh baya itu hanya mengangguk memberi kode untuk melakukan apa yang diinginkan oleh istri sirinya itu.


Daffa mengambil piring Ainun lalu mengisinya dengan makanan. Setelah itu meletakkan piring tersebut tanpa berkata apa apa.


Daffa pun mulai menikmati makanan yang ada di piringnya. Malam ini selera makannya hilang begitu saja, tapi demi menemani Adeeva dan maminya, dia pun menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


Adeeva juga menyantap makanannya, seperti biasa Daffa memberikan perhatian penuh pada Adeeva, dia akan langsung mengambilkan apa pun yang dibutuhkan Adeeva saat makan.


“Daffa, ikut mami ke ruang kerjamu,” ujar Rossa setelah mereka semua selesai makan.


Daffa mengangguk.


“Deev, kamu ke kamar sendiri, ya,” ujar Daffa.

__ADS_1


Adeeva menganggukkan kepalanya.


Daffa dan Rossa pun melangkah meninggalkan ruang makan, kini tinggallah Adeeva dan Ainun di ruang makan itu.


Adeeva merasa canggung berada di dekat sahabatnya itu, selama ini hanya Ainun satusatunya teman tebaik bagi Adeeva, tapi dia merasa teluka dengan apa yang dilakukan Ainun.


Dia tak menyangka sahabatnya rela menikam dirinya, tapi Adeeva juga tidak bisa menyalahkan Ainun sepenuhnya karena sahabatnya itu tengah hamil anak dari Daffa, wajar dia meminta tanggung jawab dari Daffa.


Hal ini juga akan dilakukan Adeeva jika mengetahui siapa yang telah menodai dirinya.


“Deev,” lirih Ainun.


Adeeva menoleh ke arah Ainun yang duduk di sampingnya.


“Aku tahu, anak yang kamu kandung bukanlah anaknya Daffa,” ujar Ainun sengaja memberi tekanan kepada Adeeva.


Padahal kehadirannya di rumah Daffa mengaku sebagai wanita yang ditidurinya malam itu adalah agar Adeeva tidak dapat menemukan pria yang telah mengambil kehormatannya malam itu.


Ainun masih dapat mengingat apa yang dilakukannya malam itu.


"Ai, gue mau kasih pekerjaan sama lu," ujar Dion pada Ainun.


Dion adalah teman lama Ainun yang sudah lama tinggal di Bali. Dia bekerja di salah satu perusahaan besar yang ada di Bali.


"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Ainun.


"Lu harus Carikan cewek yang bisa ditiduri bos gue, tapi cewek itu jangan sampai tahu kalau dia sudah ditiduri oleh bos gue itu," ujar Dion merencanakan sesuatu.


"Bagaimana caranya?" tanya Ainun.


Dion pun memberi petunjuk yang harus dilakukan oleh Ainun.


Ainun pun mengangguk paham.


"Tapi, siapa yang harus gue korbankan?" gumam Ainun.


"Gue lihat lu datang ke sini bareng teman cewek," ujar Dion menunjuk Adeeva sebagai korban yang akan mereka tumbalkan.


"Itu sahabat gue, mana mungkin gue korbankan sahabat gue sendiri," bantah Ainun .


Saat itu Ainun tidak tega menjadikan Adeeva korbannya.


"Alah, Ai. Kamu lebih memilih sahabatmu dari pada pekerjaan yang menjanjikan ini?" tanya Dion.


Dion terus membujuk Ainun, hingga akhirnya Ainun pun setuju.

__ADS_1


Dia menghilangkan hati nuraninya saat melakukan hal itu, Ainun memasukkan obat tidur yang berdosis tinggi agar Adeeva tak dapat menyadari saat dia disentuh oleh Daffa yang juga dijebak oleh Dion.


Dion melakukan ini demi sebuah jabatan tinggi di perusahaannya.


Adeeva menatap Ainun dalam, dia tak percaya Ainun bisa mengetahui hal itu.


“Ma maksud ka kamu apa, Ai?” lirih Adeeva.


“Deev, aku ini tidak bodoh. Aku tahu kamu sudah menikah dengan Axel, jadi, anak yang kamu kandung itu anak Axel, kan?” ujar Ainun lagi.


Ainun tetap mencari tahu informasi tentang Adeeva meskipun dia telah pindah dan menetap di Bali.


“Astaghfirullah, dari mana dia tahu semua ini?” gumam Adeeva di dalam hati.


“Kamu pasti heran, kenapa aku bisa tahu semua ini, aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Ainun lagi.


Adeeva mengernyitkan dahinya, dia berusaha mencerna ucapan Ainun.


“Apakah Ainun mengetahui bahwa aku bukanlah istri Daffa?” gumam Adeeva lagi di dalam hati.


“Deev, aku hanya memberi saran padamu, lebih baik kamu tinggalkan Daffa atau aku akan memberitahu Axel bahwa kamu ada di sini,” ancam ainun lagi.


“Apa?” lirih Adeeva tak percaya dengan ucapan Ainun.


"Ya Allah, kenapa kamu bisa Setega ini padaku, Ai?" gumam Adeeva di dalam hati.


“Ya, aku ingin kamu enyah dari kehidupan Daffa, karena Daffa hanya milikku seorang,” ujar Ainun lagi.


Adeeva menggelengkan kepalanya tak percaya.


“Ai, aku ini sahabatmu. Kenapa kamu tega padaku,” lirih Adeeva.


Adeeva tidak tahu harus berkata apa.


“Jika kamu memang sahabatku, maka pergilah dari kehidupan Daffa dan kembalilah pada suamimu,” ujar Ainun tak berperasaan.


Selain Ainun ingin mendapatkan kehidupan layak, dia juga sudah dijanjikan seseorang akan mendapatkan jabatan yang menjanjikan di perusahaan tempat dia bekerja saat ini.


Dia memang dikirim oleh seseorang untuk merusak reputasi Daffa, agar perusahaan Daffa tergoncang dan tidak lagi bersaing dengan perusahaannya.


"Tidak mungkin, Ai. Daffa tidak akan bahagia hidup denganmu," lirih Adeeva.


"Lalu, dia akan bahagia hidup bersamamu?" ujar Ainun kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2