Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Menembak Mayat Hidup


__ADS_3

QING MAO awalnya tidak menyadari akan menghadapi serangan secara langsung. Dia segera menghindar secepat mungkin dan keluar dari air sepenuhnya. Ekspresinya berubah serius. Terdengar suara geraman rendah. Jelas dari sosok manusia berjubah hitam yang ternyata memenuhi ruangan tersebut.


Gadis itu mengeluarkan lentera. Hyou sudah berada di sampingnya, membuat pelindung spiritual sehingga sosok hitam itu tidak akan menyadari keduanya.


“Apa itu?” Qing Mao sempat terkejut dan segera pulih.


“Sepertinya itu yang membuat kedua bawahanmu terluka.” Hyou menebak. “Mayat hidup.”


“Apa?! Mayat hidup? Apakah kamu yakin?”


“Ya. Perhatikan, bukankah mereka tidak memiliki napas?”  Hyou menyipitkan matanya.


Qing Mao mencoba untuk tenang. Dia memperhatikan para pria berjubah hitam itu secara hati-hati. Memang benar, di ruang bawah tanah tersebut, dia sama sekali tidak merasakan napas siapapun kecuali miliknya sendiri dan juga Hyou.


Para pria berjubah hitam itu seperti tubuh yang hanya dikendalikan oleh kekuatan tertentu. Jika ada pihak lain yang dianggap musuh, mereka akan langsung menyerangnya.


Keduanya juga melihat sebuah pintu batu yang tertutup rapat. Mungkin masih ada ruangan lainnya. Meski ingin mencari tahu, baik Qing  Mao maupun Hyou harus mengurus para pria berjubah hitam itu lebih dulu.


Wajah mereka tidak bisa terlihat karena terhalang oleh tudung besar. Qing Mao keluar dari lapisan pelindung dan dibuat Hyou dan mengeluarkan pistol. Dia mencoba menembak kepala mereka.


Dor!


Dor!


Beberapa tembakan yang dilepaskan mengenai kepala beberapa pria berjubah hitam. Mereka hanya menggeram dan jatuh begitu saja. Tak lama, tubuh mereka terbakar dan berubah menjadi abu.

__ADS_1


Hal tersebut membuat beberapa pria berjubah hitam lainnya waspada terhadap Qing Mao.


“Apakah mereka bisa dibakar dengan api?” tanya Qing Mao. Dia tercengang.


Awalnya dia hanya sedang mengetes saja, apakah dengan ditembak, kepala mereka akan hancur. Siapa yang menduga jika hasilnya di luar harapannya sendiri.


Hyou yang telah menonton sejak awal pun menggelengkan kepala. “Bukan api yang memicu mereka, namun logam pada peluru.”


“Logam?”


“Logam mungkin belum diketahui orang zaman kuno saat ini. Mereka tidak tahu jika logam mampu membuat mayat hidup kehilangan fungsi spiritual,” jelas Hyou. “Intinya, Gu Wei tidak tahu jika kamu memiliki benda-benda seperti ini. Dia bahkan tidak tahu jika kamu berasal dari zaman modern.”


“Jadi, Gu Wei masih menggunakan cara lama?”


“Ya.”


Mayat hidup yang telah tumbang berubah menjadi abu dan hanya menyisakan jubah hitam saja. Keduanya memeriksa ruang bawah tanah lainnya untuk melihat apakah makhluk-makhluk tersebut masih ada. Ternyata benar saja, masih banyak. Bahkan dua kali lipat dari sebelumnya.


Tapi kali ini Qing Mao tidak menggunakan pistol lagi, melainkan senjata peledak lainnya.


“Apakah kamu bermaksud untuk meledakkan tempat ini?” Hyou yang melihat gadis itu memegang granat pun terkejut.


Sudut mulut laki-laki itu berkedut dan hampir lupa jika Qing Mao awalnya berasal dari resimen tentara bayaran kuno. Caranya benar-benar ekstrem.


“Tidak ada salahnya.” Qing Mao mendengus.

__ADS_1


“...” Hyou berpikir jika gadis itu sedang memprovokasi Gu Wei.


Benar saja, tak lama setelah mereka berdiskusi, suara ledakan di hutan bambu membuat beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu keheranan. Mereka berpikir jika bencana alam tiba, sebagian lagi berpikir jika musuh menyerang perbatasan.


Tapi tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut. Namun beritanya telah sampai ke istana kekaisaran.


Ketika para prajurit istana dikerahkan untuk melihat apa yang terjadi di hutan bambu, Qing Mao dan Hyou sudah meninggalkan tempat tersebut. Para prajurit menemukan beberapa hal mencurigakan. Mereka kembali ke istana untuk melaporkan kejadian tersebut.


Ketika malam hari tiba, Gu Yihao sudah kembali. Dia pergi ke rumah Qing Mao setelah mendengar kejadian yang membuat istana berisik sepanjang hari.


Ketika Gu Yihao datang, gadis itu sedang membaca buku.


“Apakah kamu berbuat nakal di luar sana?” tanyanya.


“Nakal apa? Aku hanya sedang bermain.” Qing Mao tersenyum. Dia sama sekali memedulikan kehadiran pria berjubah brokat hitam itu.


“Nakal!” Gu Yihao duduk di sampingnya dan mencubit hidung gadis itu. “Tahukah kamu konsekuensinya?  Untung saja Gu Wei tidak muncul untuk membalas dendam begitu cepat. Jika tidak, bagaimana aku bisa tenang?”


Gu Yihao mengantar An Daiyu yang baru saja menikah menuju kediaman keluarga An. Dia hampir meninggalkan bawahannya di belakang saat mengetahui jika Qing Mao pergi ke tempat yang berbahaya. Meskipun Hyou bersamanya, dia masih tidak tenang.


Untung saja Qing Mao masih aman dan sehat.


"Dia tidak akan berani muncul. Setidaknya untuk saat ini. Kecuali Gu Wei sudah tidak sabar menunggu gerhana matahari," kata Qing Mao dengan mata menyipit.


"Memang." Gu Yihao terkekeh.

__ADS_1


Keduanya memiliki rencana masing-masing tapi bekerja sama dengan baik. Han Baimo mungkin sedang melakukan perjalanan menuju negara ini. Namun Gu Yihao harus tetap memastikan jika pangeran besar negara Baicheng itu akan aman ketika tiba di negara Quentian.


"Dia akan datang? Apakah tidak terlalu cepat?" Qing Mao mengerutkan kening.


__ADS_2