
GU YIHAO mengerutkan kening. Hubungan Putri Yu Yang dan putra mahkota? Dia memikirkan ini cukup lama. Tapi tak ada yang istimewa. Gu Wenlian adalah anak kaisar yang kesembilan. Dia dipilih menjadi putra mahkota karena ia sendiri tidak menginginkan takhta.
Tapi sifat putra mahkota memang bertolak belakang dengannya sehingga beberapa permusuhan di belakang layar tidak pernah selesai.
“Kenapa kamu menanyakan ini?” tanya Gu Yihao sedikit penasaran.
“Tidak apa-apa.” Qing mao tidak ingin membahasnya. Dia hanya penasaran saja hingga mungkin harus bertanya pada Hyou.
Gadis itu hanya menatap Putri Yu Yang sekilas dan menundukkan kepalanya lagi. Ia memegang tali dengan hati-hati dan berusaha untuk membuat kudanya tidak makan rumput sembarangan.
Gu Yihao bisa menebak jika semua ini ada hubungannya dengan putra mahkota dan juga Putri Yu Yang. Mungkin tentang kecelakaan tahun lalu karena ulah mereka. Hanya saja dia tidak mau menanyakannya lagi. Jika Qing Mao menceritakannya, ia bersedia mendengarkan.
Para penjaga yang bertugas mengumpulkan hewan buruan pun datang dan menghitungnya, memberi cap khusus pada tubuh hewan buruan. Setelah itu pergi lagi untuk melaporkannya pada kaisar.
Mereka memasuki hutan lebih jauh dan menghindari semua tanda merah yang ada pada pohon. Bahkan tanpa sengaja bertemu dengan para pemburu dari negara lain. Karena tidak saling mengenal, maka tak ada perkenalan formal. Mereka hanya saling menyapa dan pergi ke tempat yang dituju.
Hingga saat bertemu dengan putra mahkota dan Putri Yu Yang, suasana menjadi sedikit aneh. Terutama putri Yu Yang. Ketika melihat Putri Lailan baik-baik saja, perasaan tidak nyaman datang.
Bukanmah seharusnya Putri Lailan jatuh ke tebing? Lalu bagaimana bisa sehat-sehat saja sekarang?
Namun saat mengalihkan pandangannya pada Qing Mao dan Gu Yihao di satu kuda, ia mengerutkan kening.
"Saudara kesebelas, kenapa tidak mengambil kuda sendiri?" tanyanya.
"Seseorang ingin mencelakai Putri Lailan di perjalanan dan Qing Mao menyelamatkannya hingga kedua kakinya cedera. Jadi Raja ini membantunya untuk berburu. Lagi pula, tidak ada salahnya jika partner berada di satu kuda," jelas Gu Yihao tanpa menunggu An Daiyu yang bicara.
Pria bermulut bocor itu cukup baik kali ini. Hanya menyimak saja dan sesekali berkata pada Putri Lailan.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan Gu Yihao, putra mahkota dan Putri Yu Yang sedikit tidak nyaman di hatinya. Tanpa diduga, Qing Mao lah yang menyelamatkannya. Ternyata benar, gadis itu menjadi lebih berbeda setelah empat tahun tidak terlihat. Apa yang sebenarnya dilakukan gadis itu selama ini?
Keduanya hanya mengucapkan beberapa kata yang prihatin dan baik. Masalah ini tidak bisa diberitahukan siapapun. Putra mahkota tidak ingin berlama-lama berada di dekat Gu Yihao. Setelah kasus tentang konspirasinya dicurigai kaisar, dia mulai menutup beberapa jejak di belakang punggungnya.
"Kalau begitu Saudara Kesebelas, sampai jumpa di akhir perburuan," katanya seraya tersenyum yang agak dipaksakan. Lalu mengajak Putri Yu Yang untuk pergi.
Sebelum mereka melangkah jauh, Putri Lailan sudah berkata, "Adik perempuan ... Berhati-hatilah di perjalanan. Banyak binatang buas di pedalaman hutan ini."
Mendengar itu, Putri Yu Yang segera pucat. Dia teringat dengan apa yang terjadi kemarin saat para binatang buas menyerangnya. Mungkinkah ini semua ada hubungannya dengan Putri Lailan?
Putri Yu Yang menoleh sebentar dan tersenyum padanya. "Terima kasih atas peringatannya, Kakak."
Setelah itu dia benar-benar menyusul putra mahkota dengan menggertakkan giginya. Rasa sakit di tubuhnya saat ini masih ada gara-gara masalah kemarin. Dia pasti tidak akan melepaskan mereka.
Kepergian mereka membuat Putri Lailan mencibir. Sudah terlihat jelas bahwa kedua tangannya terkejut saat melihatnya masih baik-baik saja. Ternyata Qing Mao benar, mereka yang mencelakainya di perburuan tahun lalu.
Keduanya adalah saudara perempuan, tapi dia tidak tahu jika Putri Yu Yang akan membencinya begitu dalam. Oleh karena itu, dia tidak akan berbaik hati pada musuh.
Qing Mao menyipitkan matanya. "Apakah kamu yakin?"
"Kenapa tidak yakin? Saat tadi aku melihatnya, rasanya aku ingin berteriak jika aku baik-baik saja dan masih berdiri dengan benar—" Sampai di sini, Putri Lailan teringat dengan kecelakaan Qing Mao. "Tapi kamu terluka ... gara-gara aku," katanya segera mengurus ekspresi.
"Aku baik-baik saja." Qing Mao tidak mau Putri Lailan menyalahkan dirinya sendiri sehingga ia hanya bisa tersenyum.
"Jadi, apakah kamu memiliki cara?" tanya An Daiyu sedikit penasaran.
"Ada. Tapi mungkin caraku cukup berlebihan. Oleh karena itu, aku bertanya pada Sang Putri, apakah yakin ingin melakukannya atau tidak? Karena bagaimanapun juga, kalian ada saudara seayah," jawab Qing Mao agak ragu.
__ADS_1
Dia tidak mau dicap sebagai gadis yang kejam hanya karena masalah ini. Putri Lailan yang tahu bahwa gadis itu memiliki cara, akhirnya segera senang. Tentu saja, semakin kasar maka hasilnya akan lebih baik.
Akhirnya Qing Mao memberikan sebuah botol kaca pada Putri Lailan. Botol kaca itu cukup kecil dan berisi cairan ekstrak bunga api. Putri Lailan menerima dengan kebingungan. Dia tidak tahu hal-hal seperti ini. Namun mungkin Gu Yihao mengenalinya.
"Sari bunga api? Apakah ada fungsi lain dari bunga tersebut?" tanya pria itu.
"Selain untuk menekan racun bunga es atau racun dingin pada tubuh seseorang, bunga api memiliki efek lain. Yaitu sebagai obat musim semi alami. Semakin tinggi ekstrak bunga api dilakukan, maka hasilnya lebih terasa. Aku sudah mengekstraknya dengan cara berbeda sehingga dari bunga api tidak ada yang tercampur dengan bahan lain yang merusah efeknya," jelas Qing Mao tidak keberatan untuk memberi tahu mereka.
"Ternyata seperti itu. Mao Mao, terima kasih. Tapi bagaimana caraku untuk bisa melakukan rencana ini pada Putri Yu Yang?"
"Biarkan penjaga gelap diam-diam meneteskan sari bunga api ke minuman atau makanannya. Setetes saja sudah bisa memengaruhi tubuh."
"Kalau begitu aku pasti tidak akan menyia-nyiakannya. Nah, Mao Mao ... Apakah kamu memberikan ini padaku atau meminjamkannya?"
"Berikan itu padamu," jawabnya.
"Oh! Ini bagus!" Putri Lailan menggenggam botol kaca itu dengan erat. Jangan sampai An Daiyu yang terlihat polos itu merebutnya.
"..." Apa salahku? Pikir An Daiyu agak terluka.
Pria berpakaian serba merah itu menatap Qing Mao dengan ekspresi menggoda. "Nona Qing ... Bagaimana jika kamu menjual sari bunga api di rumah pelelanganku? Pasti akan dibeli oleh beberapa istri atau kepala rumah tangga. Mereka akan membutuhkan ini saat menyenangkan hubungan suami dan istri. Nah, aku juga ingin mencobanya pada salah satu wanita simpananku. Akhir-akhir ini dia mengeluh tentang staminaku," katanya agak malu.
"..." Tiga garis hitam muncul di kepala Qing Mao dan Putri Lailan. Apakah pria itu begitu langsung untuk menyatakan apa masalah tubuhnya sendiri?
Adapun Gu Yihao yang ingin mencekik An Daiyu, sedikit canggung. Mulut bocor tetaplah mulut bocor. Citra An Daiyu sebagai pria cantik dan bersih itu langsung.
Playboy tetaplah playboy, pikir Qing Mao.
__ADS_1
Sudut mulut gadis itu berkedut ringan sebelum akhirnya berbicara. "Cih! Ternyata kamu hanya seperti itu saja? Terlalu lemah sebagai pria?" tanyanya agak malu.