Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Reinkarnasi Penguasa Benua Quentian


__ADS_3

PRIA TUA itu agak canggung saat ditanyai nama. Jelas dia tidak tahu siapa namanya sehingga menggelengkan kepala. Sayangnya dia tidak memiliki nama sejak lahir dan selalu dipanggil Putih Tua. Ketika Gu Yihao mendengar penjelasannya, maka hanya bisa dipanggil Putih Tua.


Setelah itu, pria tua tersebut duduk tak jauh dari Gu Yihao dan mulai memperkenalkan dirinya kembali dengan sopan. Tapi tidak banyak. Pria tua itu berkata jika dirinya akan tahu setelah mendapatkan semua ingat dari beberapa kehidupan sebelumnya.


"Apakah kamu orang mati atau hidup?" Pertanyaan itu meluncur dari mulut Gu Yihao hingga membuat Putih Tua tersedak.


Jelas saja, Putih Tua sudah meninggal. Dia hidup di zaman kultivator dan itu sudah ribuan tahun kehidupan bukan? Dia bukan dewa sehingga tak memiliki umur yang begitu panjang. Setiap kultivator, hidup hanya bisa mencapai dua atau tiga ribu tahun. Kecuali orang-orang langit.


Lupakan ... Semuanya sudah berlalu. Ini bukan hal penting harus dibahas.


Karena Gu Yihao ingin mengetahui apa yang salah dengan dirinya dan Qing Mao serta mengetahui apa hubungannya dengan Gu Wei, maka dirinya setuju untuk membuka ingatan. Terlebih lagi, Hyou juga bersikap aneh akhir-akhir ini, menyembunyikan banyak kebenaran.


"Apa yang harus dilakukan untuk membuka ingatan?" tanya Gu Yihao mulai berkompromi.


"Mudah. Tapi ini mungkin akan merangsang perasaan dan pikiranmu. Aku harap kamu bisa menahan apapun yang kamu lihat. Apakah kamu sanggup?"


"Ya." Gu Yihao tidak akan ragu.


"Ulurkan tanganmu," perintah Putih Tua.


Gu Yihao mengeluarkan tangan kanannya dan Putih Tua langsung membaca sebuah mantra khusus seraya memegang tangan pria itu. Gu Yihao merasakan sedikit kesemutan pada tangannya yang dipegang, lalu kepalanya mendadak pusing. Tak berapa lama, pandangannya sedikit kabur hingga embusan angin seperti membelai tubuhnya.


Setelah pandangannya mulai jelas kembali, kini dirinya berada di tempat yang berbeda. Entah nyata atau tidak, dia benar-benar melihat pria yang mirip dengannya tengah mendayung di tubuh seorang wanita yang terlihat sangat cantik.


Gu Yihao berdegup. Dia merasa ini tidak nyata. Adegan pertama disuguhkan dengan hal-hal seperti ini, apakah pria tua itu begitu cabul? Tapi dia jelas melihat dirinya sendiri di sana, terlihat begitu menikmatinya. Dan ... wanita yang bersamanya saat itu adalah Qing Mao dewasa.

__ADS_1


Adegan terus silih berganti hingga dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Dirinya selalu bersama dengan sosok Qing Mao dewasa, hidup bersama, menikah, hamil dan keguguran. Setiap awal yang manis selalu berakhir tragis. Semua itu karena satu masalah yang selalu menghalangi keduanya untuk bersama, yaitu Gu Wei.


Gu Yihao di dalam gambaran itu memiliki kharisma lebih tajam daripada dirinya saat ini, melawan Gu Wei dan kalah dalam pertarungan hingga membuat Qing Mao terbunuh dan dirinya menjadi gila setiap kali kehilangan wanita yang dicintainya. Pada akhirnya dia juga mati lagi dan lagi.


Dalam fragmentasi ingatan semua kehidupan yang dilalui Gu Yihao, identitasnya jelas, dirinya adalah penguasa benua Quentian. Ia dihormati banyak orang dan begitu mulia, namun keberadaan Gu Wei sebagai penjaga cincin batu giok hitam selalu menjadi duri dalam kisah hidupnya.


Semua gambaran itu terus silih berganti. Bahkan pria tua yang dipanggil Putih Tua itu juga ada. Dia mengenalnya dan tampak sangat berteman baik.


Entah berapa lama Gu Yihao membuka semua ingatan kehidupan sebelumnya hingga dilahirkan kembali saat ini. Sementara Qing Mao ... Gambarannya kurang jelas dalam ingatannya. Mungkin berbeda lagi dan hanya Hyou yang mengetahuinya.


Setelah semua gambaran itu berakhir, Gu Yihao diterpa oleh angin yang cukup kencang, ada kabut yang menghalangi pemandangannya hingga kini dia telah kembali ke tubuh. Setelah berdiam diri dan linglung, Gu Yihao sudah berada di dalam ruangan tadi. Putih Tua melepaskan tangannya dan mengangguk dengan sedikit berharap.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah mengenalku sekarang?" tanyanya sedikit bersemangat.


"Soal itu ... Kenapa kamu selalu cerewet seperti wanita?" Gu Yihao bertanya tanpa sadar, tapi jelas tatapannya lebih serius kali ini, sama seperti dirinya dari tahun-tahun lalu di kehidupan lampau.


"Yang Mulia .... Meski aku sudah mati, tapi ... tolong beri aku bunga ketika kembali. Setidaknya, buatlah tugu dengan namaku lalu beri bunga. Aku akan senang ketika melihat kuburan kosongku sendiri," jelas Putih Tua sedikit emosional.


"Apakah itu begitu penting?" cibir Gu Yihao.


"Tidak, hanya saja aku juga ingin punya makamku sendiri. Dulu aku tidak punya kuburanku sendiri. Sangat sedih," keluhnya dengan tubuh yang semakin transparan.


"..." Orang yang sudah mati lebih baik tidak memikirkan dunia, pikir Gu Yihao.


Gu Yihao masih sedikit linglung saat memikirkan semua bayangan dari beberapa kehidupan sebelumnya. Semua itu bersangkutan dengan Qing Mao yang sebenarnya merupakan reinkarnasi juga. Tapi ... Di tahun ini, Qing Mao memiliki keanehan. Dia tidak terlihat empat tahun lalu dan tidak ada dalam ingatan sebelumnya.

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi dengan Qing Mao sebelumnya?" tanya Gu Yihao seraya menatap Putih Tua.


"Aku tidak tahu. Tapi yang jelas ada sesuatu yang terjadi empat tahun lalu yang memungkinkan Hyou melakukan sesuatu pada dirinya. Kamu harus menanyakan ini padanya." Putih Tua menjelaskan dengan helaan napas tidak berdaya. Tubuhnya semakin transparan.


"Kamu ...." Gu Yihao tertegun saat melihat jika sosok Putih Tua itu perlahan mulai transparan. "Sepertinya waktumu terbatas."


"Ya. Yang Mulia, karena ingatanmu tentang beberapa kehidupan telah kembali, aku harap kecelakaan karena Gu Wei tidak lagi terjadi. Waktuku sangat singkat dan mungkin aku akan menemui Yang Mulia lagi suatu hari nanti." Putih Tua tidak bisa menjelaskan banyak hal dan segera tubuhnya menghilang.


Bersamaan dengan itu semua, ruangan tersebut segera bergetar dan semua obor yang terpasang di dinding bergoyang tertiup angin, sampai akhirnya padam dan kegelapan menelan mereka.


Ketika Gu Yihao keluar dari ruang rahasia lingkaran totem reruntuhan, para penjaga gelap sudah turun dan memanggilnya berulang kali. Gu Yihao langsung terbangun dan merasa jika kepalanya cukup pusing. Lalu sosok Qing Mao yang tidak sadarkan diri pun berada di sampingnya.


"Yang Mulia, apakah semuanya baik-baik saja?" tanya salah satu penjaga gelap yang jelas sangat khawatir.


"Yang Mulia, tempat ini tidak aman. Sebaiknya kita kembali," kata yang lain segera menyarankan.


Gu Yihao mengerutkan kening. "Apa yang terjadi padaku dan Mao'er?" tanyanya alih-alih menanggapi perkataan mereka.


Salah satu penjaga gelap segera menjelaskan, "Yang Mulia dan Nona Qing pingsan begitu saja saat melihat-lihat totem. Lalu kami segera turun. Tak berapa lama, Yang Mulia sadarkan diri. Tapi ... Nona Qing ...."


"Aku mengerti. Aku akan membawanya kembali. Beri tahu penjaga reruntuhan untuk menyegel informasi ini," tukas Gu Yihao tidak sabar.


"Ya." Semua penjaga gelap yang turun segera kembali ke bayang-bayang.


Gu Yihao membopong Qing Mao yang masih pingsan dan segera kembali ke kediaman Qing secara diam-diam. Ketika kembali, dia sudah mendapati sosok Hyou yang sedikit pucat berada di kamar gadis itu. Gu Yihao sedikit tertegun sebelum akhirnya menyesuaikan suasana hati. Karena dirinya telah mendapatkan ingatan dari beberapa kehidupan sebelumnya, ia tak lagi bertanya-tanya tentang siapa Hyou.

__ADS_1


"Kenapa kamu membawanya ke sana?" tanya Hyou dengan nada khawatir. Tahukah pria itu jika reruntuhan sangat rentan untuk dilacak oleh asap kegelapan?


__ADS_2