Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Dianggap Sebagai Kutukan?


__ADS_3

PENJAGA gelap yang hendak melapor pun segera menjawab, "Istana telah terbakar."


Mendengar jika rumahnya telah terbakar, ekspresi Gu Wenlian sedikit pucat. "Bagaimana mungkin?!"


Dia segera meminta kusir untuk segera membawanya pulang. Penjaga gelap hanya bisa mengikuti dari bayang-bayang. Ketika tiba di istananya sendiri, Gu Wenlian melihat cahaya jingga di kejauhan. Arah kebakaran berasal dari dapur istananya. Segera, dia pergi ke arah tersebut dan menyaksikan pelayan serta penjaga mencoba memadamkan api.


Kebakaran semakin meluas mengingat semua material bangunan hampir sepenuhnya terbuat dari bahan mudah terbakar. Gu Wenlian tidak bisa berpikir tentang masalah pribadinya dan berteriak pada penjaga untuk mengambil sumber air terdekat dan padamkan api sebelum menyebar lebih jauh.


Untungnya malam ini angin tidak bertiup kencang. Tapi Gu Wenlian sudah pergi untuk menyelamatkan beberapa barang pentingnya. Dia masih bisa lega karena posisi perpustakaan istana tidak dekat dengan sumber api.


"Bagaimana bisa terbakar? Apakah kalian semua tidak memiliki penjagaan yang ketat?!" tegurnya cukup keras.


Salah satu pelayan akhirnya menjawab dengan ekspresi takut-takut. "Ini ... Ini ... Kami sedang memanaskan air untuk Yang Mulia mandi. Tapi kami tidak tahu bahwa api ternyata mulai merambat ke dinding~"


Mendengarkan hal itu, Gu Wenlian semakin marah. "Tidak berguna!"


Dia tidak merasa curiga dengan apapun kali ini. Alasannya masuk akal. Hanya saja ...


Gu Wenlian dan orang-orangnya tidak tahu bahwa saat ini, dua sosok di kegelapan sedang menyaksikan kegembiraan. Ekspresi keduanya di balik masker pun menunjukkan kepuasan.


"Meski nona tidak meminta kita untuk mengganggu istana pangeran kesembilan, tapi ini juga prestasi," gumam Dong Mei seraya tersenyum di balik maskernya.


"..." Fan Chen melihat jika Dong Mei justru lebih kejam daripada yang dia kira.


Semua wanita ... apakah sekejam itu saat marah? Kadang dia berpikir jika kemarahan wanita mampu membuat matahari terbit dari barat.

__ADS_1


Setelah puas melihat sebagian bangunan di istana ini terbakar, keduanya meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah Qing Mao secara diam-diam. Tapi ketika kembali ke halaman, penjaga gelap lainnya menghentikan mereka dan menyampaikan pesan dari Hyou.


Qing Mao tidak bisa diganggu malam ini dan keduanya bisa melapor besok. Meski tidak tahu kenapa, Dong Mei dan Fan Chen tidak mau membuat masalah dan segera kembali menyatu dengan malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya.


Qing Mao yang tertidur pulas semalam pun perlahan membuka matanya dan mendapati seorang pria berbaring di sampingnya. Awalnya dia tidak terlalu peduli, namun karena kejadian semalam tiba-tiba melintas di benaknya, Qing Mao akhirnya memiliki kesadaran penuh dan bangun.


Dia sedikit berteriak karena terkejut. Tubuhnya terasa sakit dan terlihat beberapa memar kecil. Saat tubuhnya terasa dingin, Qing Mao tanpa sadar melihat dirinya sendiri. Seperti ada sebaskom air es mengguyur kepalanya, dia ternyata tidak memakai bajunya lagi.


Ternyata semalam itu bukan mimpi. Dia dan Gu Yihao melakukannya. Benar-benar berkumpul di tempat tidur. Tapi Qing Mao ingat jika semua itu bukan keinginannya, memainkan akibat cincin batu giok hijau.


Menyalahkan semua ini pada cincin batu giok hijau, Qing Mao bahkan linglung. Dia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini dan yakin jika Gu Yihao sudah bangun sejak awal.


Melihat Qing Mao yang kebingungan, Gu Yihao akhirnya mengambil langkah lain. "Raja ini akan bertanggung jawab untuk ini. Lagi pula cepat atau lambat kita akan menikah. Dan ... ini kecelakaan. Raja ini tidak sengaja bertindak kasar padamu semalam," jelasnya dengan ekspresi yang agak jelek.


Gu Yihao tidak berbohong. Karena obat musim semi yang terdapat pada cairan mandi obatnya, dia menjadi tidak terkendali. Sehingga malam tadi, dia benar-benar menekan gadis itu dan bertindak seperti binatang buas.


Tubuh gadis itu lembut dan harum sehingga menaikkan keinginan di tubuhnya. Jadi selama beberapa waktu, dia menyalurkan semuanya dengan kebahagiaan. Mengingat di kehidupan pertama, Gu Yihao yang memiliki identitas penguasa benua Quentian pun juga menikahi Qing Mao.


Tapi pada waktu itu, keduanya saling jatuh cinta dan melakukannya tanpa perlawanan satu sama lain. Kali ini berbeda. Meski Gu Yihao senang, ada kekhwatiran di hatinya. Dia khawatir gadis itu akan semakin menjauh darinya.


Qing Mao memegangi selimut dan menutupi tubuh atasnya. Rambutnya agak berantakan tapi terlihat cantik seperti biasanya. Dia bahkan menampar pria itu cukup keras hingga mengutuknya berulang kali.

__ADS_1


"Kamu pasti sengaja!! Kamu bahkan bisa menahannya lalu kenapa kamu tidak mempertahankannya?!" Dia menuduh Gu Yihao.


Qing Mao tidak sebodoh itu.


Gu Yihao terdiam cukup lama dan merasa jika tamparan di pipinya tidak sakit sama sekali. Jika gadis itu marah, maka marahlah. Dia menanggungnya. Dia tetap mengatakan kalimat yang sama yaitu akan menikahinya.


Di mana Qing Mao berpikir tentang pernikahan? Ia bahkan bingung kenapa cincin batu giok hijau ingin dirinya diperlakukan seperti itu oleh Gu Yihao.


Semalam setelah tertidur karena kelelahan, Qing Mao bermimpi panjang. Tapi mimpi itu tidak tahu apa. Ketika terbangun, dia lupa tentang mimpinya. Namun sakit kepala ringan masih ada hingga sekarang. Rasanya seperti ... dia telah mengenal Gu Yihao begitu lama.


Apa yang sebenarnya terjadi padanya di dalam mimpi itu. Qing Mao ingin mengingatnya tapi semakin dia berpikir, kepala menjadi lebih sakit.


Beberapa memar ringan menyiratkan betapa buasnya pria itu semalam. Mungkin bisa dikatakan jika Gu Yihao terlalu bersemangat untuk menyentuhnya. Pada akhirnya pria itu hanya bisa memeluk Qing Mao dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu.


Qing Mao secara alami menolak dan ingin menyingkirnya. Tapi kekuatan fisik Gu Yihao lebih besar daripada dirinya sehingga mau tidak mau, Qing Mao menyerah.


"Mao'er ... Raja ini akan menikahimu. Cepat atau lambat, kita akan menikah. Kamu tidak bisa menghindarinya," bisik pria itu.


Qing Mao terdiam dan memikirkannya lagi. Sepertinya apapun yang dia lakukan, cincin batu giok hijau akan membimbingnya untuk dekat dengan pria ini. Terkadang Qing Mao memiliki ingatan dari Qing Mao yang ada di zaman ini—menyukai Gu Yihao hingga gila-gilaan mengejarnya, berusaha untuk menyenangkannya.


Tapi pria berhati gunung es ini bukan menghargai apa yang dia lakukan, melainkan membuangnya dengan cepat. Berkata di depannya bahwa dirinya telah bertunangan dengan Nu Qingge. Betapa sakit hati gadis ini waktu itu.


Apakah Gu Yihao tidak merasakannya sama sekali?


Apakah begitu mudah untuk membuang dan mengambilnya kembali?

__ADS_1


Gu Yihao sama sekali tidak melonggarkan pelukannya. Tidak peduli jika keduanya sama-sama tidak memakai pakaian. Gu Yihao tidak memikirkan hal kotor saat ini, tapi hanya ingin mendapatkan pengakuannya.


"Gu Yihao ... Apakah kamu tahu seperti apa dirimu sekarang?" tanyanya agak enggan. Tubuhnya yang dipeluk agak kaku.


__ADS_2