
GU YIHAO tidak memiliki masalah ginjal. Adapun alasan kenapa pria itu ingin mandi obat untuk memperkuat ginjal, Qing Mao tidak berani berpikir lebih jauh. Secara alami saat dilihat, Gu Yihao ini tidak memiliki masalah dengan tubuhnya. Juga, Gu Yihao tidak terlihat seperti pria yang lemah.
Dia memerah saat ditanya seperti itu dan tanpa diduga, Gu Yihao segera mencium bibirnya. Qing Mao merasa otaknya kosong untuk waktu yang lama dan hendak mendorong dadanya. Tapi Gu Yihao tidak memberinya ruang untuk melakukan itu hingga Qing Mao didorong ke dinding kamar mandi dan kembali mencium bibir merah mudanya yang lembut.
Karena Qing Mao tidak memiliki niatan untuk berciuman, dia sedikit kewalahan dengan serangan tiba-tiba Gu Yihao. Akibatnya saat Qing Mao hampir kehabisan napas, Gu Yihao melepaskan tautan bibir keduanya. Pria itu menyentuh bibir gadis itu yang sedikit bengkak.
“Ingatlah untuk bernafas lain kali. Bukankah aku selalu mengatakannya?” bisik pria itu.
“Kamu benar-benar berani! Apakah menyenangkan untuk bermain hooligan seperti ini?” Gadis itu marah dan malu. Gu Yihao belum mengubah posisi sehingga dia sedikit terjepit.
Gu Yihao memiliki tubuh yang bagus serta tinggi badan yang ideal untuk pria jangkung pada umumnya, rambut panjangnya juga tergerai dengan sedikit gaya bangsawan lain. Alisnya seperti pedang, bibir tipisnya sensual serta rahangnya terbentuk sempurna. Di mata wanita, Gu Yihao adalah pria langit yang penuh pesona,
Tapi Qing Mao tidak mau tergoda oleh hal tersebut dan memalingkan wajahnya yang memanas. Seberapa sempurnanya pria ini, dia tak mau peduli. Hanya saja ….
“Apakah kamu berpikir jika ginjalku lemah?” tanya Gu Yihao kembali.
“Tidak,” jawabnya cepat. Qing Mao tak berani untuk menatap wajah pria itu secara langsung.
“Benarkah? Lalu kenapa aku merasa jika kamu berpikir seperti itu?”
“Aku tidak memikirkannya. Kenapa kamu begitu bersikeras? Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikan jika ginjalmu sehat?”celetuk Qing Mao yang terlanjur kesal.
__ADS_1
Gu Yihao akhirnya terkekeh dan memikirkan sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Yah … Bagaimana jika aku membuktikannya sekarang? Yakinlah, aku masih bisa membuatmu tak bisa bangun dari tempat tidur besok,” katanya begitu arogan.
“Tidak. Jangan katakan itu. Aku tak mau tahu!” Qing Mao mencoba melepaskan diri namun Gu Yihao tidak mau membiarkannya pergi.
Pria itu masih senang untuk menggodanya hingga kembali mencium bibir gadis itu tapi kali ini lebih lembut dari sebelumnya. Tubuhnya memiliki reaksi alami dan semakin menginginkan lebih banyak dari ini. Tubuhnya ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi. Namun saat tangan Gu Yihao menyelinap ke dalam bajunya, Qing Mao secara alami menolak.
Gu Yihao merasa jika tubuh Qing Mao begitu hangat hingga telapak tangannya yang bersentuhan dengan kulit gadis itu terasa nyaman dan lembut. Dia tidak tahu jika ini begitu menyenangkan. Hanya saja saat Qing Mao merasakan sesuatu di bawah sana menegang, tubuhnya mendadak kaku.
Adapun Gu Yihao sendiri, tak berani bergerak lebih jauh.
“Gu Yihao … kamu …” Qing Mao memerah. Dia yakin jika bergerak untuk memprovokasi pria ini, mungkin pemerkosaan akan segera terjadi.
Pria itu membenamkan wajahnya di leher gadis itu dan memeluknya sebentar. “Biarkan aku tenang sebentar,” bisiknya,
“Aku akan mandi obat. Kamu tunggu di luar,” kata Gu Yihao segera menutup pintu kamar mandi setelah mendorong Qing Mao keluar.
“...”
Qing Mao yang masih tertegun pun segera menyadari jika pria berperilaku seenaknya di rumah ini. Dia ingin meledakkan kemarahan, namun masih mencoba menahan diri agar tidak memancing keinginan cabul pria itu.
Qing Mao hanya berdecak kesal dan segera pergi untuk melakukan sesuatu. Dia meminta bawahannya untuk mengumpulkan berita di ibu kota, dua penjaga gelap yang muncul di kusen jendela pun saling berpandangan dan tak tahu apa yang diinginkan Qing Mao.
__ADS_1
Gadis itu memberi keduanya sebuah serbuk putih dalam botol keramik halus. “Taburkan ini di sekitar halaman keluarga Nu. Bukan hanya itu, aku ingin kalian menyebarkan berita jika keluarga Nu telah dikutuk atas kesalahan di masa lalu,” jelas Qing Mao.
“Nona Muda, kenapa kita tidak membakar rumahnya saja dan mengirim seorang Tao untuk melakukan sesuatu?” tanya salah satu mereka seraya menyarankan.
“...” Kalian bawahan yang lebih buruk dari majikan sendiri, pikir Qing Mao dengan sudut mulut berkedut, “Lakukan saja jika kalian masih ingin mendapatkan gaji bulan penuh.”
“... Ya,” kata keduanya dengan cepat. Kehilangan gaji bulanan lebih menyedihkan daripada membakar rumah seorang perdana menteri keuangan Nu.
Setelah memberi perintah pada kedua penjaga gelap, Qing Mao meminta pelayan untuk membawakan segelas susu hangat. Dia masih sedikit kesal tentang Gu Yihao dan secara alami ingin menghilangkan dahaga. Dia minum dengan tenang seraya membaca buku usang yang diberikan oleh Nyonya pei sebelumnya.
Besok dia akan pergi ke kediaman keluarga Wakil Jenderal Pei untuk mencari alasan. Dia selalu merasa jika Nyonya Pei mungkin tahu sesuatu tentang dirinya atau mungkin keluarga Qing. Di saat Qing Mao sedang membaca buku, salah satu penjaga gelap lainnya tiba-tiba muncul.
“Ada apa?” Gadis itu melirik penjaga gelap yang berjongkok di kusen jendela.
Pria berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng itu pun segera mengeluarkan sebuah gulungan surat. “Nona Muda, ada surat dari pangeran kesepuluh.”
“Oh? Berikan padaku.”
Penjaga gelap itu menyerahkan surat kepadanya dan segera kembali ke posisi semula. Sementara itu, Fan Chen dan Dong Mei yang siaga di kegelapan pun ingin tahu apa yang disampaikan oleh pangeran kesepuluh, Gu Huiling.
Gadis itu memastikan jika gulungan surat itu baik-baik saja sebelum akhirnya membuka tali. Lalu sederetan kata-kata tertulis rapi di atas kertas yang cukup kasar tersebut. Dia tiba-tiba mengerutkan keningnya dan terlihat berpikir lebih lama. Gu Huiling sebenarnya ingin membuat gerakan besar dengan menyingkirkan putra mahkota dari posisinya lebih cepat? Tapi kenapa?
__ADS_1
Qing Mao ingin menemukan Hyou dan bertanya apa yang sedang terjadi di istana saat ini. Tapi mungkin Gu Yihao tahu lebih banyak. Hanya saja dia tak mau bertanya karena nanti pastinya Gu Yihao akan curiga. Jadi Qing Mao hanya bisa memanggil Fan Chen diam-diam dan meminta dia pergi ke kediaman Gu Huiling untuk mencari alasan.
“Ingat, jangan sampai menampakkan dirimu, jika bisa, samarkan suara. Apakah kamu mampu melakukannya?” tanya Qing Mao.