
HYOU tidak ingin membahasnya. Namun saat melihat tatapan keingintahuan Qing Mao, tiba-tiba saja dia merasa tidak berdaya dan menggelengkan kepala. “Dia sudah tidak muncul lagi. Aku tidak tahu apakah itu masih ada penerusnya atau tidak,” jawabnya dengan jujur.
Terakhir kali pemilik cincin batu giok putih ini muncul, itu di kehidupan pertama Gu Yihao dan Qing Mao. Namun tidak banyak membantu urusan keduanya. Padahal cincin batu giok putih ini berfungsi untuk melawan kejahatan dan membawa banyak kesucian pada orang-orang di sekitarnya. Selain itu, Hyou ingat jika penampilan pemilik cincin batu giok putih itu selama tenang dan mencintai kebersihan.
Sayang sekali jika sosoknya benar-benar tidak suka terlibat dengan urusan dunia. Kali ini … sulit untuk mengatakan apakah pewarisnya hidup atau tidak.
“Aku baru tahu jika artefak cincin batu giok ini ada empat. Satu ada padaku dan satunya lagi ada pada Gu Yihao. Lalu dua nya lagi …” Gadis itu berpikir keras dan menundukkan kepala, membaca isi buku bertulisan kuno. “Disebutkan nama Gu Wei di sini sebagai penjaga cincin batu giok hitam. Tapi kenapa penjaga cincin batu giok merah dan putih tidak ada?” tanyanya.
Hyou tertegun sebentar dan merasa jika semua rahasia zaman dulu akan dibongkar gadis ini. Meski dia ingin melompat dari tempatnya berdiri sekarang dan berteriak padanya, tentu saja tidak mungkin. Jadi Hyou hanya bisa menanggungnya. Terutama jangan membahas tentang Gu Wei.
“Cincin batu giok merah tidak ada yang menjaganya karena sudah berpasangan dengan cincin batu giok hijau. Sedangkan cincin batu giok merah … ini aku tak bisa membahasnya.” Hyou menggelengkan kepala.
“Apakah ini ada hubungannya dengan rahasia langit yang tak bisa kamu bocorkan?” tebaknya.
“Ng … Bukan itu. Intinya kamu belum bisa mengetahuinya sekarang. Jangan khawatir, suatu hari nanti kamu juga akan tahu,” jelas laki-laki itu.
Tunggu sampai Gu Yihao mengurus dirinya sendiri maka Qing Mao juga tak akan terlalu menderita. Sebagai penguasa benua Quentian, Gu Yihao pasti bisa mengembalikan kejayaan di masa lalu. Sekarang, prosesnya memang penting.
“Dengan kata lain untuk saat ini, hanya kamu saja yang bertahan?” tanya Qing Mao.
“Ini tak bisa dipastikan. Namun untuk saat ini memang hanya aku dan …” Hyou tidak langsung melanjutkan ucapannya. Sebenarnya dia ingin berkata jika hanya dirinya dan Gu Wei yang tersisa. Sementara pemegang cincin batu giok putih, dia kurang tahu pasti.
Hanya saja Hyou segera menggelengkan kepala dan tidak mengatakannya. Lupakan saja. Ini belum waktunya untuk menceritakan segalanya. Dia memilih pergi untuk melakukan sesuatu dan meninggalkan Qing Mao sendiri.
__ADS_1
“Jangan tidur terlalu larut.” Hyou memberi nasihat sebelum dia benar-benar menutup pintu.
Gadis itu hanya mengiyakan dengan santai dan menguap beberapa kali. Tak lama kemudian, Hyou kembali lagi dan berkata jika Gu Yihao datang untuk menemuinya. Qing Mao merasa ada yang aneh tentang semua ini dan secara mencoba mengingat sesuatu. Tapi sangat sulit untuk mengingatnya dan hanya membuat dirinya sakit kepala.
Ia menutup buku dan pergi mengikuti Hyou. Tapi ternyata Gu Yihao sudah menaiki anak tangga dengan tenang. Penampilannya saat ini berbeda dengan sore tadi dan sedikit menguarkan aura yang lebih menekan.
“Kenapa datang malam-malam seperti ini?” tanya gadis itu mencoba untuk tenang.
“Tidak bisakah aku datang?” Gu Yihao sedikit tersenyum dan meminta Hyou untuk meninggalkan mereka berdua.
Hyou secara alami tidak bahagia dan ingin mengatakan sesuatu, namun Gu Yihao menatapnya dengan sedikit peringatan. Ini benar-benar masalah. Dia lebih suka jika Gu Yihao tidak memulihkan ingatan dari beberapa kehidupan masa lalunya. Hyou pun memilih untuk pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.
Kini tinggal Gu Yihao dan Qing Mao yang masih berada dalam keheningan. Pria itu memperhatikan Qing Mao yang kini berusia lima belas tahun, tubuhnya berkembang baik dan secara alami merupakan tahun yang baik bagi para gadis kamar kerja untuk tumbuh dewasa.
“Bantu aku untuk mandi obat,” kata pria itu kembali menaiki anak tangga dan melewati Qing Mao hingga pergi ke kamarnya.
Qing Mao terkejut dan segera mengikutinya. “Kenapa di rumahku? Ini kamarku. Kamu punya rumah sendiri, tidak bisakah kamu melakukannya sendiri?” Dia mengomel dengan ketidakpuasan. Apa yang sedang direncanakan pria itu sekarang?
Pria itu datang hanya untuk mandi obat? Hantu mana yang akan mempercayainya? Qing Mao tidak ingin pria ini selalu datang ke rumahnya sepanjang waktu seolah-olah keduanya telah dekat lama. Dia masih kesal dengan Gu Yihao dan tentu saja tidak puas dengan sikapnya.
Melihat jika Gu Yihao pergi ke kamar mandi dan menyalakan keran air untuk mengisi bak mandi, dia tak bisa menghentikannya. Pria itu juga menuangkan cairan aneh ke bak mandi. Aroma obat-obatan menguar di kamar mandi hingga membuat Qing Mao mengerutkan kening.
Ini aroma herbal yang baik untuk tubuh … terutama kesehatan ginjal. Apakah pria itu punya masalah ginjal?
__ADS_1
Qing Mao meraih pergelangan tangan kiri Gu Yihao dan memeriksa denyut nadinya. “Apakah kamu punya penyakit ginjal?” tanyanya.
“Penyakit ginjal?” Gu Yihao menaikkan sebelah alisnya, menatap Qing Mao dengan ekspresi yang tak terduga.
“Ya. Jika bukan penyakit ginjal, kenapa kamu harus mandi obat ini?”
“Maksudmu, ini obat untuk penyakit ginjal?” tebak pria itu segera berwajah gelap. Apakah Dokter Piao sengaja mengerjainya? Benar-benar memberinya obat ginjal?
Qing Mao tidak tahu apa yang salah dengan perkataannya, tapi masih jujur berkata, “Ya … lebih tepatnya memperkuat tubuh terutama ginjal yang lemah.” Wajahnya sedikit memerah.
Melihat jika ekspresi gadis itu sedikit malu, Gu Yihao meremas botol obat di tangannya. Dokter Piao itu benar-benar membuatnya tak berdaya. Ternyata benar jika seorang dokter bisa menyembuhkan dan membunuh orang. Dokter Piao ini terlahir untuk membunuhnya saat melihat Qing Mao.
Dia tak mengatakan apapun lagi dan memikirkan sesuatu. Gadis itu akhirnya berbalik dan hendak keluar kamar, namun Gu Yihao segera meraih lengannya. Dia menarik gadis itu ke dalam pelukan dan menghirup aroma buah dari shampo yang dipakainya.
“Apa yang kamu lakukan?” Qing Mao sedikit kaku dan segera terdiam, khawatir membuat Gu Yihao impulsif atas kata-katanya tadi.
“Apakah kamu berpikir jika ginjalku lemah?” tanya pria itu pelan seraya memejamkan mata.
“Eh? Apa katamu?” Qing Mao linglung.
“Yah, apakah kamu berpikir jika ginjalku lemah?” tanyanya sekali lagi.
“...” Sungguh, aku tidak berpikir begitu. Hanya saja … Qing Mao membatin dengan perasaan bersalah.
__ADS_1