
PUTRI LAILAN tahu jika An Daiyu memiliki mulut beracun yang sulit dijaga sehingga hanya memukulnya dengan tusuk daging. Mengejek saudara kesebelasnya lagi, dia tak akan segan-segan untuk memanggang pria playboy ini di masa depan.
Di tenda, tentu saja Qing Mao mendengarnya. Ekspresinya kembali berubah malu. Dia tidak tahu kenapa, sebagai mantan resimen bayaran kuno, seharusnya sudah terlatih untuk melawan tindakan pelecehan seperti itu. Tapi tidak tahu kenapa, tubuhnya menjadi lemas seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya untuk tunduk pada pria itu.
Dia curiga jika semua ini ada hubungannya dengan cincin batu giok hijau yang dipakainya. Bisakah cincin ini begitu di mengatur semua kehidupan yang dijalani? Jika itu benar, dia merasa ngeri.
Setelah Qing Mao berpakaian, kedua kakinya masih agak sakit. Tapi dia keluar dengan ekspresi yang agak malu. An Daiyu akhirnya tutup mulut setelah tahu jika gadis itu menatapnya dengan sedikit kesal. Jika pria itu menambah kesal lagi, ada kemungkinan Gu Yihao akan melemparkannya ke perbatasan demi kedamaian negara.
"Mao Mao ... Apakah kakimu baik saja?" tanya Putri Lailan seraya memintanya duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa. Sudah merasa baik," jawabnya seraya duduk.
"Sebentar lagi malam. Aku khawatir binatang buas akan mengintip kita seperti tadi. Mao Mao ... Apakah kamu masih punya obat untuk menangkal para binatang buas?" Putri Lailan memeluk tubuhnya sendiri dan sedikit merinding.
Qing Mao mengerutkan kening. "Sepertinya masih ada. Tidak masalah."
"Kalau begitu biarkan Tuan Muda An yang melakukannya," kata Putri Lailan memerintah.
"Kenapa aku?" Pria itu menatapnya dengan enggan. Dia adalah tuan muda yang dihormati, banyak uang dan wanita di luar sana. Kenapa harus menuruti perintah seorang gadis kekaisaran?
Putri Lailan memelototinya. "Karena aku seorang putri! Beranikah kamu melanggar perintah putri hanya karena berteman dengan Saudara Kesebelas?"
"..." Bisakah dia mengelak? An Daiyu tidak berdaya dan menerima bubuk penangkal binatang buas itu, lalu menaburkannya di sekitar tempat mereka membuat tenda.
__ADS_1
Saat malam tiba, angin musim semi tidak terlalu dingin. Api unggun menyala terang hingga memantulkan cahaya mereka. Putri Lailan menikmati daging panggangnya dengan tenang, masih menggunakan gaya seorang bangsawan.
Adapun An Daiyu yang tidak berhenti bercerita, membuat suasana malam ini tidak terlalu sepi. Gu Yihao sudah duduk di samping Qing Mao karena membantunya memanggang daging, meniupnya serta memberikan potongan. Perlakuannya yang tiba-tiba menjadi perhatian membuat hati An Daiyu berdarah. Bisakah sahabatnya itu menjadi lembut?
Qing Mao tidak berdaya dan menerima perawatan Gu Yihao. Jika tidak, dia akan kelaparan. Kedua kakinya masih agak sakit bahkan meninggalkan jejak memar. Tampaknya setelah acara perburuan selesai dia harus meminta Hyou untuk memberinya obat khusus.
“Tidurlah lebih awal malam ini. Besok adalah perburuan terakhir. Kita harus kembali ke tempat awal sebelum menjelang sore.” Gu Yihao memberi tahu mereka semua, terutama tentang Putri Lailan. Karena Qing Mao ingin Putri Lailan menang, maka dia akan membiarkan mereka untuk menang. Sementara dia bisa berada di posisi ke tiga dalam perburuan.
“Mao Mao, kamu serius ingin berada di posisi ketiga? Kenapa tidak yang kedua saja?” tanya Putri Lailan merasa aneh.
Jika ingin, Qing Mao bisa menjadi yang pertama, namun kakinya yang cedera bisa menjadi alasan.Adapun Putri Lailan dengan pendampingnya, An Daiyu, tidak akan dicurigai kaisar. Hal itu dikarenakan An Daiyu sendiri memiliki bakat yang bagus di mata kaisar. Apalagi jika Gu Yihao menang, tidak lagi mengherankan. Tapi pria itu tidak akan mendapatkan kecurigaan karena sebelumnya hanya bergabung untuk mendekati Qing Mao.
“Posisi kedua, biarkan Gu Huiling mendapatkannya,” kata Qing Mao.
Jadi Gu Yihao tidak memiliki kecemburuan pada saudara kesepuluhnya. Hanya saja dia tidak mengertilah kenapa Qing Mao ingin membiarkan Gu Huiling untuk menang? Mungkinlah untuk menggantikan Gu Wenlian yang berada di posisi putra mahkota?
Gadis itu tidak memiliki permusuhan dengan Gu Wenlian. Satu-satunya yang menjadi alasan kenapa Qing Mao melakukan ini tentu saja hanyalah Gu Yihao. Tanpa sadar, gadis itu sebenarnya peduli.
Di bayang-bayang, Dong Mei dan Fan Chen saling melirik dan menggelengkan kepala. Ini bukan masalah keduanya. Qing Mao memiliki banyak pemikiran aneh dan ide-ide lainnya. Tentang Fu Huiling, keduanya tidak tahu banyak. Hanya penjaga gelap lain yang mengetahuinya.
Pada saat itu, Fan Chen dan Dong Mei baru saja tiba di rumah Qing Mao dan berlatih di bawah bimbingan Hyou. Sehingga tidak tahu banyak mengenai masalah ini. Tapi menurut para penjaga gelap, Qing Mao memiliki banyak rahasia.
"Bisakah itu dilakukan? Bagaimana jika putra mahkota justru lebih unggul daripada pangeran kesepuluh?" An Daiyu penasaran dengan rencana gadis itu.
__ADS_1
"Itu hal mudah." Qing Mao mencibir. Lalu dia memanggil Fan Chen.
Bawahan itu segera turun dan siap menerima perintah. "Berikan ini pada Gu Huiling secara diam-diam. Pastikan tidak ada yang mengetahuinya."
"Bawahan mematuhi perintah," kata Fan Chen segera menghilang dari keberadaan mereka.
Putri Lailan, An Daiyu dan Gu Yihao menatap Qing Mao dengan kebingungan. Apa yang diberikan Gadis itu pada penjaga rahasianya? Mungkinkah sudah mempersiapkannya sejak lama? Gu Yihao sendiri mengulum senyum diam-diam. Gadis ini peduli padanya bukan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di hari ketiga perburuan musim semi, banyak peserta yang gagal dan bahkan harus kembali lebih awal untuk menyatakan kekalahannya. Mereka diserang oleh binatang buas yang tiba-tiba saja muncul. Bahkan beberapa pangeran dan putri juga sama.
Ada peserta yang terluka parah dan mengalami memar. Kadang kuda mengamuk dan melarikan diri hingga para penjaga gelap yang disediakan langsung membawa mereka.
Kaisar hanya menunggu sambil menikmati teh musim semi. Ada permaisuri dan beberapa selirnya yang menghadiri acara perburuan ini. Bahkan perwakilan dari beberapa negara tetangga juga hadir dan mengobrol dengan kaisar.
Hingga sore tiba, para peserta yang bertahan akhirnya kembali. Qing Mao dan Gu Yihao kembali paling akhir untuk menghindari kecurigaan. Gadis itu juga setuju untuk memanfaatkan kakinya yang sakit sehingga kaisar tidak akan berprasangka buruk padanya. Dia hanya memeluk kelinci putih yang sebelumnya diberikan Gu Yihao sebagai peliharaan.
Walaupun Qing Mao tidak membutuhkan perhatian ini, dia masih ingin hidup tenang. Sementara itu, Putri Lailan dan An Daiyu sudah turun dari kuda dan pergi menuju tempat penilaian. Qing Mao dibantu turun oleh Gu Yihao. Jujur saja, kakinya sudah sembuh hari ini, tapi pria itu memintanya untuk menggunakan obat pelumpuh otot sehingga kakinya masih terasa sakit.
"Kamu bahkan lebih licik daripada aku," gumam gadis itu saat Gu Yihao membantunya turun.
Pria itu tersenyum padanya. "Bukankah kita cocok? Raja ini akan mendukungmu di masa depan. Bahkan jika itu membunuh ayah kaisar," bisiknya.
__ADS_1
Qing Mao segera berwajah pucat. Dia menatap Gu Yihao dengan ketidakpercayaan. Apakah pria ini tidak menyayangi ayahnya sendiri?