Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Pangeran Besar Negara Baicheng


__ADS_3

QING MAO BARU saja menghabiskan makan siangnya pun tiba-tiba saja dihampiri oleh Dong Mei, penjaga rahasia pribadinya. Dong Mei melapor jika di halaman, Putri Lailan datang. Tampaknya, Putri Lailan terlihat antusias saat ini dan meminta Dong Mei untuk memanggil Qing Mao. Ini sangat penting.


Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dan kebingungan. "Terlihat antusias untuk melihatku? Apakah yakin dia tidak datang untuk menemukan Gu Yihao?" tanyanya curiga.


"Sepertinya ... tidak," jawab Dong Mei langsung menggelengkan kepala.


"Oke, biarkan dia masuk."


Dong Mei menghilang dari tempatnya dan tiba-tiba saja muncul di halaman, hampir mengagetkan Putri Lailan. Namun gadis bergaun biru langit itu tidak peduli dan segera masuk setelah dibukakan pintu.


Di saat pelayan di rumah membuka pintu rumah utama dan hendak mengucapkan beberapa patah kata 'Selamat datang' padanya, Putri Lailan setengah berlari, melewati mereka dan tidak peduli.


"Mao Mao! Mao Mao! Kamu harus ikut denganku sekarang. Ini penting!" Suara renyah Putri Lailan menggema di ruang utama.


"..." Para pelayan yang baru saja membuka pintu pun menutup mulutnya kembali.


Qing Mao yang kini berjalan ke ruang utama rumahnya pun melihat Putri Lailan dengan ekspresi heran. "Kenapa kamu datang dan memintaku pergi sekarang?"


"Apakah kamu tidak tahu? Saudara kesebelas sudah kembali dengan pangeran Kekaisaran Han. Kini mereka baru saja memasuki ibu kota," jelas Putri Lailan mencoba untuk merangkum semua yang ingin dikatakannya pada Qing Mao.


Melihat ekspresi antusiasnya, Qing Mao juga terkejut. Gu Yihao yang tidak terlihat selama belasan hari, kini kembali dengan membawa seorang pangeran dari negara Baicheng?


"Apakah kamu yakin itu dia?" tanyanya ragu.


"Tentu saja itu benar. An Daiyu sendiri ada di sana," jawab Putri Lailan tidak sabar untuk membawa orang pergi, namun masih menahan diri.


Jika itu benar, maka kepergian Gu Yihao selama ini ternyata ke negara Baicheng? Tapi apa yang dilakukannya di negara itu? Sayangnya Putri Lailan juga tidak tahu hal ini secara pasti jadi mau tidak mau, Qing Mao ikut dengannya untuk menyaksikan kereta pangeran negara Baicheng memasuki jalanan ibu kota.


Banyak warga yang penasaran dengan kereta mewah nan elegan melaju di jalanan. Tapi mereka tidak berani membuat masalah dan hanya diam-diam berbisik. Kereta asing itu tidak familiar di mata orang-orang dan jarang bagi orang-orang negara Baicheng datang.

__ADS_1


Tapi mereka mengenal kereta pangeran kesebelas, Gu Yihao. Tampaknya menjadi tamu yang dibawa oleh Gu Yihao. Si belakangnya ada juga kereta milik An Daiyu, rajanya pedang muda saat ini.


Qing Mao dan Putri Lailan menonton dari kejauhan. Memang benar jika itu kereta pangeran dari negara Baicheng. Ada logo naga putih di ukiran keretanya. Sangat elegan. Disusul oleh kereta Gu Yihao dan di belakangnya adalah kereta milik An Daiyu.


"Mao Mao ... Lihat, itu ... Itu." Putri Lailan begitu antusias.


"Yah, aku tahu." Menghadapi sikap antusiasnya, Qing Mao hanya menghela napas.


Ketiga kereta itu pergi menuju sebuah restoran ibu kota kekaisaran. Gu Yihao keluar kereta lebih dulu, disusul oleh An Daiyu. Setelah itu, seorang pria berjubah putih keperakan keluar dari kereta dari negara Baicheng. Pria itu memiliki rambut putih, wajah tampan dan jubah yang dikenakannya berwarna putih keperakan dengan sulaman naga perak yang senada.


Perawakannya tidak berbeda jauh dengan Gu Yihao. Ekspresinya juga tidak ramah atau dingin, terlihat enak dipandang pada penglihatan pertama.


Han Baimo, pangeran besar Kekaisaran Baicheng, tersenyum ramah pada Gu Yihao dan juga An Daiyu. "Negara ini ternyata begitu hidup. Berbeda dengan tempat kami yang begitu sunyi," katanya jujur.


Ketika datang, para warga di sekitar terlihat penasaran dan antusias. Ini sangat berbeda dengan orang-orang di negaranya yang relatif acuh tak acuh dan juga sedikit lebih kejam. Meski begitu, negara Baicheng tidak pernah memiliki banyak konflik dengan negara tetangga. Termasuk negara Quentian.


Han Baimo mengelus cincin dengan batu giok putih susu di jari telunjuk tangan kirinya. Walaupun santai, itu memiliki arti. Tapi tidak tahu apa artinya.


Di sisi lain ...


Qing Mao merasa tidak tenang. Ketika melihat seperti apa pangeran besar negara Baicheng, ada perasaan aneh di hatinya. Sepertinya ... wajah itu terlihat familiar. Tapi di mana dia pernah melihatnya?


Sayangnya, dia tidak bisa berpikir lebih baik dan melihat jika cincin batu giok hijau yang dipakainya bersinar sedikit sebelum akhirnya meredup. Mungkinkah ... Han Baimo adalah pemilik cincin batu giok putih? Apakah Gu Yihao membawanya dengan alasan lain?


"Mao Mao ... Ada apa denganmu?" tanya Putri Lailan sedikit bingung. Dia telah memanggil gadis ini berulang kali tapi Qing Mao tidak merespon.


Qing Mao yang sedikit linglung pun menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit lelah," jawabnya polos.


"..." Kita bahkan belum berjalan-jalan, pikirnya.

__ADS_1


"Ayo pergi ke tempat lain." Qing Mao berbalik dan hendak meninggalkan tempat tersebut.


Putri Lailan terkejut. "Tidakkah kamu ingin pergi dan melihat?"


"Tidak perlu. Tidak ada yang istimewa."


Tapi setelah berkata demikian, seorang pria berpakaian penjaga gelap pun tiba-tiba muncul di hadapan Qing Mao. Pria yang mengenakan masker itu berlutut dan menyapa Qing Mao dengan sopan.


Qing Mao terkejut dan hampir saja mundur selangkah. Bukanlah ini salah satu penjaga gelap terdekat Gu Yihao?


"Nona, raja meminta Anda untuk datang ke restoran sekarang. Pangeran dari negara Baicheng ingin bertemu Nona," jelas penjaga gelap itu seraya menunduk sedikit.


"..." Qing Mao yang awalnya ingin melarikan diri kini seperti tertangkap basah mengintip diam-diam.


Dia akhirnya pergi ke restoran ibu kota kekaisaran dan meninggalkan Putri Lailan yang tidak berniat untuk mengikuti. Sang putri itu hanya menatap penjaga gelap Gu Yihao yang berdiri dan siap untuk pergi.


"Tunggu, kamu ini ... Xu Ren atau Xu Ran?" tanyanya curiga. Putri Lailan tahu jika saudara ke sebelasnya punya dua penjaga gelap kembar.


"... Saya Xu Ren," jawab penjaga gelap itu ragu-ragu.


"Oh, ternyata kamu penjaga gelap saudaraku yang pendiam itu," kata Putri Lailan polos.


"..." Apakah begitu jelas bahwa dia sangat pendiam? Pikir Xu Ren.


Putri Lailan tidak berniat untuk mengobrol dengannya dan hendak pergi ke tempat lain sambil menunggu Qing Mao keluar. Namun belum sampai beberapa langkah, Xu Ren menghentikannya.


"Putri, tuan An menunggu Anda di restoran, lantai dua," katanya.


"..." Putri Lailan yang hampir bersenandung pun kini mengerutkan kening dan menatap Xu Ren dengan penuh curiga. "Lalu di lantai mana Mao Mao dan kakak kesebelasku berada?"

__ADS_1


"Itu lantai lima."


"..." Kenapa perbedaannya begitu jauh?


__ADS_2