
GU YIHAO tidak tahu kenapa Hyou ingin menanyakan ini. Tapi dia mengangguk agak ragu dan bertanya-tanya tentang Qing Mao. Kenapa rasanya begitu akrab? Setelah mendengarkan pengakuannya, Hyou tidak berdaya.
Apakah takdir cicin batu giok hijau berjalan terlalu cepat?
"Ada apa? Apakah ini serius?" Gu Yihao memperhatikan ekspresi Hyou yang agak tidak benar.
"Sebelum itu, aku ingin tahu tentang ... mendiang ibumu," kata Hyou tanpa menjawab pertanyaannya.
"Ibu selirku? Kenapa?"
Gu Yihao sendiri tidak tahu banyak tentang ibu selirnya ini. Tapi kaisar selalu mengunjungi tempat di mana ibunya dimakamkan. Kadang selalh melihat lukisannya diam-diam di ruang belajar. Oleh karena itu, dia berpikir jika ibunya cukup spesial di hati kaisar.
Tapi apa hubungannya dengan semua ini?
"Tentu saja tentang cincin batu giok hijau dan cincin batu giok merah. Aku ingin tahu sedikit." Hyou curiga jika mendiang ibunya Gu Yihao tahu sesuatu yang selama ini terkubur di masa kehidupan sebelumnya.
"..." Melihat Hyou begitu serius, Gu Yihao tidak tahu harus menceritakannya dari sudut mana dulu.
Ia tidak tahu banyak tentang ibunya ketika masih hidup. Tapi satu hal yang dia tahu, ibunya berkata jika cincin batu giok merah memiliki pasangan sejati, yaitu cincin batu giok hijau. Dia ditakdirkan untuk hidup bersama pemilik cincin batu giok hijau ...
Lalu ... Gu Yihao mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dikatakan ibunya saat itu. Tapi tampaknya tidak ada yang penting. Hanya memintanya untuk berhati-hati di masa depan. Setelah itu, keduanya jarang berkomunikasi lagi karena sang ibu tidak mau melihatnya. Tidak tahu kenapa, Gu Yihao mungkin mengira jika ibunya dihukum oleh permaisuri atau kaisar.
Sejak saat itu, tak ada komunikasi yang mendalam hingga ibunya meninggal dunia karena sakit. Sampai sekarang, Gu Yihao tidak tahu banyak tentang cincin batu giok hijau yang entah bagaimana bisa ada di tangan Qing Mao.
"Sepertinya, ibumu tahu keluarga Qing," kata Hyou.
"Tidak mungkin kan? Ibu selirku berasal dari negeri yang jauh. Kaisar dan ibuku bertemu di suatu tempat dan akhirnya bersama. Bagaimana mungkin dia tahu keluarga Qing?" tanya Gu Yihao segera membantahnya.
__ADS_1
Ibunya tidak mungkin tahu keluarga Qing. Tidak pernah ada komunikasi sama sekali. Keluarga Qing juga sama. Bahkan ketika Qing Mao selalu mengejarnya, keluarga Qing tidak pernah mengungkit tentang ibunya. Sehingga ....
"Dia pasti ada hubungannya karena cincin batu giok hijau ada pada gadis itu." Hyou berkata lagi.
"Apa maksudmu sebenarnya?"
"Ibumu sudah mengenal keluarga Qing jauh sebelum bertemu dengan kaisar. Tampaknya ada sesuatu di dalamnya yang tidak diketahui banyak orang. Aku menduga jika kakekmu sendiri tahu tentang ini."
"Mendiang pensiunan kaisar?" gumam Gu Yihao segera berpikir.
Sangat tidak masuk akal saat Hyou bersikeras jika ibunya tahu keluarga Qing. Oleh karena itu, dia ingin meminta kepastian dulu, bagaimana Hyou bisa tahu banyak. Gu Yihao mungkin sudah tahu jika Hyou adalah penjaga cincin batu giok hijau. Laki-laki itu pergi selama beberapa hari untuk mencari tahu dari mana asal mula asap kegelapan itu muncul.
Ada kemungkinan, semuanya saling berhubungan. Tentang cincin batu giok, asap kegelapan serta dari mana ibunya mendapatkan cincin batu giok yang dianggap sebagai warisan keluarga.
Sayangnya, baik pensiunan kaisar atau ibu selirnya sudah meninggal. Sehingga tidak ada bukti atau penyelidikan yang harus dilakukan. Namun Hyou tampaknya memiliki rencana. Kuncinya adalah mencari tahu tentang kejadian bertahun-tahun yang lalu. Sangat rumit. Dengan waktu yang sudah berjalan begitu lama, tidak mungkin ada jejak yang tertinggal.
"Kamu terkena dampak asap kegelapan. Tidak serius, tapi mungkin kamu akan merasa aneh saja saat tiba-tiba teringat sesuatu atau merasa jika sesuatu terlihat akrab. Mungkin ... sudah waktunya bagimu untuk tahu," jelas Hyou agak bingung.
"Masa lalu," jawabnya datar.
"Tentangku dan Qing Mao?"
"Ya."
"Tidak mungkin—"
"Kamu akan tahu dan merenungkannya sebelum menyangkal," tukas Hyou seraya menatapnya lagi cukup tajam. "Jangan membuatku kerepotan. Jika bukan karena takdir cincin batu giok hijau ... aku yakin jika masa lalu tidak akan terulang. Kamu dan Qing Mao ditakdirkan untuk bersama. Baik jika itu mati atau hidup, atau saat dilahirkan kembali, kamu hanya bisa bersamanya."
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Hyou meninggalkan kamar tamu dan memintanya untuk membersihkan residu tenaga dalam terlebih dahulu. Jika tidak, rasa sakit di jantung akan kembali muncul. Mau tidak mau, Gu Yihao hanya bisa bersila dan memejamkan mata untuk melakukan pembersihan jalur meridian tenaga dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian.
Qing Mao sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi dia masih tak mau pergi terlalu jauh dari rumah dan memilih berjemur di halaman belakang. Setiap kali melihat orang-orang, ia merasa tidak nyaman sendiri. Meski sebenarnya, orang-orang tidak lagi menuduhnya.
Kali ini gadis itu mendengar kabar tentang Nu Qingge keguguran. Lebih tepatnya, Nu Qingge menggugurkan kandungannya karena khawatir bukan anak putra mahkota. Hal ini memicu badai dan perselisihan antara kerabat kaisar serta kediaman perdana menteri keuangan Nu.
Putra mahkota—Gu Wenlian juga tidak lagi mengurus masalah Nu Qingge. Jika tidak bisa menjadi tunangan yang baik, bagaimana bisa menjadi ibu negara di masa depan. Nu Qingge ingin berada di posisi putri mahkota sehingga bertunangan dengan Gu Wenlian. Gadis itu menyumbangkan banyak ide agar putra mahkota bisa jatuh cinta padanya.
Sekarang, setelah semuanya hampir terwujud, rumor tentang keguguran menyebar cepat seperti wabah penyakit. Mau tidak mau, Nu Qingge mengalami banyak kerugian dan dilarang untuk keluar rumah, apapun alasannya.
Belum menikah ... tapi sudah seperti ini. Sungguh tidak bermoral. Apapun alasan yang diambil, Nu Qingge tidak bisa membersihkan noda yang jatuh pada reputasinya sendiri.
"Apakah Gu Yihao yang menyebarkan berita ini?" gumam Qing Mao seraya memegang buku bacaan tentang sejarah Negara Quentian.
"Dia membantumu membersihkan rumor yang mengakar sejak empat tahun lalu. Sekarang dia membalas dendam pada Nu Qingge karena membuatmu menderita di masa lalu," ujar Hyou seraya memegang sebuah vas bunga berisi beberapa mawar potong yang masih segar.
"..." Qing Mao tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya tidak perlu, pikirnya.
"Bukanlah kamu bilang ingin pergi ke pelelangan? Surat dari pria playboy itu belum dibaca?"
"Belum. Aku malas untuk pergi ke pelelangan," jawabnya seraya membaca kembali buku sejarah Negara Quentian.
"Oh, omong-omong aku hampir lupa sesuatu. Tunggu sebentar." Hyou pergi ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
Qing Mao meliriknya sejenak sebelum akhirnya tidak merespon apapun. Tak berapa lama, laki-laki berjubah putih itu kembali dengan sebuah kotak terbungkus kain yang cukup mahal. Kotak itu agak besar, setidaknya bisa menyimpan dua bola basket.
"Apa itu?" tanya gadis itu penasaran. Dia menutup buku dan memperhatikan Hyou saat menyimpan kotak di atas meja taman.