Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Kejujuran


__ADS_3

GU YIHAO sama sekali tidak terganggu dengan kemarahan gadis itu. Dia menyimpan gulungan dekret di ruang penyimpanan cincin batu giok merah yang baru saja terbuka. Setelah itu mendekati Qing Mao.


Gadis itu sedikit linglung. Jelas keduanya sangat akrab di masa lalu dan bertengkar konyol karena hal kecil sudah menjadi hal kebiasaan.


"Mao'er," ujar pria itu.


Qing Mao menatapnya. "Apa?" Dia masih agak linglung.


Pria itu menyentuh wajah gadis itu yang selama ini dia rindukan. Dia merindukannya selama beberapa kehidupan dan kini kesempatan itu kembali lagi padanya. Qing Mao masih bersamanya. Ia tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.


Gu Yihao menatapnya lekat-lekat. "Menikahlah denganku. Aku berjanji, kamu tidak akan menderita," katanya.


“...” Qing Mao membuka mulutnya, hendak berbicara tapi tidak tahu harus mengatakan apa?


Pada akhirnya, Qing Mao hanya menunduk. Haruskah dia memberi tahu Gu Yihao jika ingatannya sudah kembali?


Kira-kira bagaimana reaksinya?


Lagi pula, Hyou selalu licik dan pasti akan memberi tahu Gu Yihao agar semua rencana yang dibuat Hyou bisa selesai. Meski pun Qing Mao tidak tahu apa yang dilakukan Hyou hingga membuatnya tak bisa mati lagi oleh Gu Wei, dia memperkirakan jika laki-laki itu pasti memiliki ikatan dengan langit.


“Aku …” Qing Mao ingin mengatakan jika dirinya belum siap saat ini.


Masih ada Gu Wei yang harus dia urus terlebih dulu dan tidak ada waktu untuk menikmati pernikahan. Apa yang terjadi pada keduanya selama beberapa kehidupan di masa lalu, Qing Mao akhirnya hanya tersenyum pahit.


Dia melepaskan tangannya yang dipegang Gu Yihao dan menggelengkan kepala. Gu Yihao melihat reaksinya seperti itu, hatinya jatuh ke dasar dan kepalanya seperti disiram air es. Gadis itu menggelengkan kepala, tidak ingin menikah dengannya.


Mungkin dia begitu buruk baginya, menghancurkan reputasi dan juga membuat keluarga Qing dihukum mati. Apakah karena saat ini dia adalah anak kaisar?


Bahkan jika dia mati dan dilahirkan kembali, mungkin masih akan terlahir di keluarga kerajaan. Selalu seperti ini bukan?


“Aku … aku tidak bisa menikah denganmu sekarang. Gu Wei masih berkeliaran di luar sana dan menunggu kita untuk hidup bersama. Pada akhirnya, Gu Wei akan membunuh kita kembali bukan?” Qing Mao tiba-tiba memilih untuk mengatakannya agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan.


Gu Yihao yang baru saja kedinginan di hatinya langsung membeku di tempat. Dia merasa jika pendengarannya mengalami halusinasi. Apa yang baru saja dikatakan gadis itu?

__ADS_1


“Kamu katakan lagi.” Dia berbicara dengan nada yang dalam, menatap gadis yang hanya setinggi dadanya.


“Apa?” Qing Mao terlalu malas untuk mengatakannya lagi, dia menatap pria itu dengan ketidakpuasan. “Tunggu sampai Gu Wei dihancurkan, kita bisa menikah jika … mau?”


“Bukan kalimat yang itu, tapi yang terakhir.”


“Gu Wei akan membunuh kita kembali. Oleh karena itu aku tidak mau mati lagi, jadi pernikahan ini tak bisa dilaksanakan sampai Gu Wei dilenyapkan.” Qing Mao sedikit malu saat mengatakan ini dan ingin melarikan diri.


Entah kenapa, dia merasa malu saat berhadapan dengan Gu Yihao padahal dia dan pria itu sudah saling kenal sejak lama. Bukan setahun atau dua tahun namun beberapa kehidupan panjang.


Qing Mao terkejut saat melihat Gu Yihao menyentuh bahunya dengan sedikit kekuatan. Ada emosi di matanya, tatapan panas dan juga cahaya. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu sekarang.


"Gu Yihao?" tanyanya bingung.


Dia berniat untuk jujur padanya malam ini. Mungkin beberapa masalah bisa dihadapi bersama.


Gu Yihao masih menatapnya lekat-lekat. "Kamu ... Apakah kamu mengingat semuanya?"


"Apakah kamu mengingat kehidupan sebelumnya, tentang kita di masa lalu?" tanyanya lagi.


Qing Mao tidak berani menatapnya secara langsung. Di bawah cahaya lampu tidur, pipi gadis itu memerah.


"Kamu lepaskan aku dulu," katanya berusaha setenang mungkin. "Kehidupan masa lalu apa yang kamu katakan? Ini hanya tentang Gu Wei. Aku tahu itu dari kaisar malam ini. Dia menunjukkan semuanya padaku," jelasnya.


Menghadap ekspresi tenang Qing Mao, pria itu masih sedikit tidak percaya. Ada harapan samar di matanya. Tidak apa-apa jika Qing Mao tidak ingat, tapi dia berharap bahwa gadis itu akan baik-baik saja.


Akhirnya Gu Yihao melepaskan tangannya dari bahu gadis itu dan mengembuskan napas panjang. Dia mencoba menenangkan hatinya yang mulai berdebar. Sebagai seorang pria yang menghabiskan waktu di barak militer, Gu Yihao jarang menunjukkan emosinya.


Setelah pria itu tenang, Qing Mao juga menghela napas lega. Dia menatap Gu Yihao seperti sedang menyaksikan seorang pria mengungkapkan cintanya pada gadis pujaan hati.


Ada perasaan bersalah di hatinya. Qing Mao mundur beberapa langkah.


"Jadi bagaimana jika aku mengingat semuanya dan ingat bahwa kamu adalah penguasa benua Quentian?" Setelah berkata demikian dan mencibir, Qing Mao segera berlari ke arah pintu untuk melarikan diri.

__ADS_1


Sayangnya, Gu Yihao yang baru mendengar hal itu sudah melihat gerak-gerik mencurigakan Qing Mao. Pria itu segera bergerak satu langkah lebih cepat dari Qing Mao dan memeluk pinggangnya.


Qing Mao terkejut dan berteriak. Kepalanya pusing saat tiba-tiba dilempar ke tempat tidur. Sebelum dia bangun untuk melarikan diri kembali, Gu Yihao sudah menindihnya.


"Hao ... Hao Hao!" Qing Mao panik saat melihat tatapan matanya seperti sedang mengunci mangsa.


"Jadi Mao'er sudah ingat," kata Gu Yihao dengan senyum tenang yang mencurigakan.


Qing Mao sedikit tidak nyaman. Jika Gu Yihao sudah menunjukkan senyum seperti itu, di masa lalu, artinya adalah membuat perhitungan untuk membayar kerugian.


Benar saja, berapa kali Qing Mao memohon untuk melepaskannya kali ini, Gu Yihao terlihat tidak peduli. Malam ini begitu cocok untuk menghabiskan waktu bersama. Lagi pula ini bukan pertama kalinya bagi mereka.


Namun Qing Mao yang telah hidup di zaman modern sebelumnya, merasa jika perlakukan Gu Yihao saat ini hanyalah bajin*an.


Gu Yihao mencium bibir gadis itu dan masih menekan kedua pergelangan tangannya. Emosi yang dia sembunyikan di awal kini pecah. Dia merindukan gadis ini dan tidak sabar untuk mengenang masa lalu.


Sayangnya, momen dua orang itu harus berakhir di saat ketukan di pintu kamar Qing Mao memecahkan gelembung merah muda (keromantisan).


Tuk, tuk, tuk!


"Nona, makan malam sudah siap," kata Hyou di luar pintu kamar. Ada senyum samar di wajahnya seperti sengaja menggoda singa di dalam sangkar.


"..." Gu Yihao langsung berwajah hitam. Memandangi pakaian Qing Mao yang berantakan, hatinya gatal seperti dicakar anak kucing.


Qing Mao merasa tertekan dan wajahnya memerah kembali. Dia mendorong Gu Yihao ke samping dan segera membenarkan gaunnya.


"Aku segera turun," balasnya.


"Ya." Hyou di luar kamar pun mengangguk. "Yang Mulia juga jangan lupa untuk ikut turun." Setelah berkata demikian, dia pergi dengan cepat dan terbatuk kecil.


Gu Yihao mendengar kalimat terakhir ditunjukkan padanya, wajahnya bahkan lebih gelap. "Hyou!!" gumamnya penuh dengan kemarahan.


Laki-laki sialan itu merusak malam baiknya!

__ADS_1


__ADS_2