Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Bertemu Lagi Dengan Han Baimo


__ADS_3

PUTRI LAILAN tidak menyangka jika ibunya akan bertanya tentang masalah ini. An Daiyu memang menyelamatkannya tapi apakah harus bertanya sejauh ini juga.


Dia menggelengkan kepalanya dengan malu. "Ibu Ratu, kenapa kamu bertanya ini pada putrinya? Tuan An sangat baik dan putrinya telah berterima kasih padanya," jawab Putri Lailan.


"Lagi pula, dia menyelamatkanmu, ibu ratu juga tidak akan mengejar masalah ini. Tapi ibu ratu bisa melihat jika Tuan Muda An sangat baik," kata Permaisuri Xue.


"Meski dia sangat baik, tapi reputasinya sebagai pria yang suka bermain dengan wanita sangat terkenal," jelas Putri Lailan sedikit tidak bahagia.


"Apa yang kamu tahu? Ah, putriku. Kenapa kamu begitu bodoh?" Permaisuri Xue menggelengkan kepala dan tersenyum rahasia.


Semua orang juga tahu reputasi An Daiyu yang suka bermain wanita dan mengelola Gedung Lelang Persik. Tapi siapa yang tahu identitas sejatinya?


Putri Lailan tidak tahu tapi bukan berarti Permaisuri Xue juga tidak tahu.


"Ibu ..." Putri Lailan bingung dengan kata-kata ibunya yang mengira dia bodoh.


"Lupakan saja. Ibu ratu tidak akan membicarakan ini lagi. Namun ibu ratu hanya berpesan satu hal padamu, tuan muda An tidak seperti yang kamu pikirkan," jelasnya.


"..." Putri Lailan tidak percaya.


An Daiyu seorang playboy, apa yang salah dengan itu? Meski dia mengaguminya, namun itu hanya karena An Daiyu berteman dengan Gu Yihao. Tapi untuk hubungan lebih jauh lagi, Putri Lailan tidak berani memikirkannya.


Hari ini An Daiyu menyelamatkannya dari sungai dan bahkan tidak memedulikan reputasinya sebagai playboy. Mungkin An Daiyu juga akan menyelamatkan gadis lain jika jauh ke sungai juga bukan?


Putri Lailan kembali ke halamannya dengan linglung. Pelayannya yang sudah bersama Putri Lailan sejak masih kecil pun segera bertanya tentang perasaannya terhadap An Daiyu.


"Tapi Putri ... bukankah kamu juga ingat saat seorang gadis dari keluarga lain jatuh ke kolam halaman belakang gedung pelelangan beberapa bulan lalu ... Tuan An justru menyuruh bawahannya untuk turun tangan. Tuan An tidak menyelamatkannya secara pribadi," jelas pelayannya.


Putri Lailan juga mengingat ini. "Mungkin waktu itu dia sedang malas," katanya.


"Tapi Putri, tua  An waktu itu bilang jika pria dan wanita harus saling menghormati jadi tuan An tidak pergi untuk menyelamatkan gadis yang jatuh ke kolam hari itu," bisiknya.


Kali ini Putri Lailan memikirkannya dengan serius. Benar, An Daiyu tidak turun tangan sakti itu dan meminta bawahannya sendiri. Lalu menolak wanita itu dengan kejam.

__ADS_1


Terkadang Putri Lailan bingung dengan sikap pria itu di hari-hari biasa. Apakah semua itu hanya  pura-pura atau karena hal lain?


***


Ketika Qing Mao meninggalkan Istana Kekaisaran, dia bertemu dengan Han Baimo di perjalanan dan keduanya memilih untuk mengambil tempat berbicara.


Dua bawahan Qing Mao di di kegelapan saling memandang dan buru-buru memberi tahu penjaga gelap Gu Yihao jika Han Baimo kini mengambil langkah untuk berbicara empat mata dengan Qing Mao.


Segera, kabar itu sampai di telinga Gu Yihao yang kini berada di istananya sendiri.


"Mao'er bersama Han Baimo saat ini?" tanyanya pada penjaga gelap yang baru saja mendapatkan kabar.


"Ya. Itu ... Itu yang tertulis di surat." Xu Ren dan Xu Ran berlutut tak jauh dari keberadaan Gu Yihao.


"Kalau begitu beri tahu setiap pergerakan di sana." Gu Yihao masih terlihat tenang, hanya mengerutkan kening dan memikirkan masalah lain.


Han Baimo adalah pangeran besar negara Baicheng. Di kehidupan pertama, Han Baimo adalah kepercayaannya. Kali ini pria itu berinisiatif untuk berbicara dengan Qing Mao, seharusnya merupakan sesuatu yang penting.


"Ah? Yang Mulia tidak akan pergi?" tanya Xu Ran cukup terkejut. Bukankah raja mereka sangat peduli dengan nona Qing? Pikirnya.


Pria yang serba tahu ini memiliki semacam kemalasan. Kali ini membantunya untuk menangani cincin batu giok hitam saja sudah merupakan kesepakatan ringan.


"Perlukah kami menguping apa yang mereka bicarakan?"


"Tidak perlu." Gu Yihao menggelengkan kepala. "Kalian tak akan bisa mendengarkan apapun. Han Baimo bukan orang biasa. Amati saja. Jika gadis itu keluar dan pulang, beri tahu raja segera," jawabnya.


"Ya!"


Xu Ran dan Xu Ren kembali ke bayang-bayang dan mengirim surat balasan untuk Dong Mei dan Fan Chen.


Kemudian di sisi Dong Mei dan Fan Chen saat ini.


Keduanya mendapatkan surat balasan dan tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Han Baimo hanya membicarakan tentang bisnis dengan Qing Mao dan kemungkinan besar hanya mengenang sesuatu.

__ADS_1


Dong Mei dan Fan Chen tidak terlalu mengerti apa maksudnya namun jelas satu hal, Gu Yihao sudah mempercayai Han Baimo sejak awal.


“Sepertinya hubungan pangeran besar negara Baicheng dengan Raja Yi cukup dalam,” gumam Dong Mei.


“Ya.” Fan Chen juga mengangguk. “Nona juga bukan gadis yang mudah tergoda bahkan jika Pangeran Han sangat tampan,” imbuhnya.


Bekas luka di wajah Fan Chen kini telah memudar dan memperlihatkan penampilan aslinya yang tampan. Terkadang Dong Mei akan canggung saat melihat wajah pria ini. Namun sebagai penjaga gelap Qing Mao, dia tidak terlalu mencampur adukan perasaan pribadi dengan tugas.


Di dalam restoran saat ini.


Han Baimo memesan teh terbaik dan juga beberapa makanan ringan untuk menemani waktunya bersama Qing Mao. Ekspresinya cukup ceroboh dan pria itu bahkan memakai pakaian yang cukup longgar hingga dada bidangnya sedikit terlihat.


Rambut putih panjangnya menjuntai rapi dan secara keseluruhan tubuhnya memancarkan aura yang tidak biasa. Mungkin karena memiliki cincin batu giok putih, Qing selalu mengira jika Han Baimo ini tidak menyukai wanita ataupun pria.


Pria itu dilahirkan untuk menjadi suci!


“Ada kabar terbaru tentang Gu Wei?” tanya Qing Mao.


“Ya. Dia ada di sekitar istana saat ini dan tidak tahu ada di tubuh siapa,” jawab Han Baimo seraya memegang cangkir teh.


“Makhluk itu juga bisa memasuki tubuh manusia?” Qing Mao agak terkejut.


“Ya. Tapi … untuk memasuki tubuh manusia, Gu Wei tentu saja harus  memiliki manusia lain sebagai pengorbanan.” Han Baimo mengangguk.


“Bisakah itu merupakan orang terdekat?” Qing Mao bertanya dengan hati-hati dan memikirkan kasus bunuh diri Nu Qingge.


“Tepat!” Han Baimo tersenyum padanya. Dia suka bicara dengan orang pintar dan licik, apa lagi Qing Mao ini benar-benar menarik.


Kenapa Gu Yihao memiliki nasib yang begitu baik? Pikirnya.


Hanya saja, Han Baimo segera berkata lagi. “Bisakah kamu berpura-pura bodoh saja? Perbincangan ini akan menjadi singkat jika kamu menebak terlalu tepat,” keluhnya.


Qing Mao ingin tersedak sesuatu di tenggorokannya dan menatap Han Baimo dengan tatapan aneh.

__ADS_1


“Aku pikir pangeran besar negara Baicheng suka menjadi orang serius.” Qing Mao memulihkan suasana hatinya.


Han Baimo mengangguk. “Sepertinya hubunganmu dengan Yihao juga semakin intim. Bahkan tanda merah di lehermu tidak ditutupi dengan benar,” katanya sedikit main-main dan ekspresinya menjadi sedikit sembrono.


__ADS_2