Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Tentang Keluarga Qing yang Misterius


__ADS_3

QING MAO melihat ekspresi Nyonya Pei yang sedikit tertekan pun akhirnya melunakkan hatinya dan mengangguk. Nyonya Pei membawa kedua tamu itu ke sebuah ruangan dalam yang jauh dari pelayan dan juga penjaga. Tapi ada beberapa pelayan kepercayaan yang selalu membersihkan tempat tersebut.


Nyonya Pei berusaha untuk membuat semuanya seolah-olah tak boleh didengar oleh orang lain. Qing Mao tak bisa menahan diri untuk bertanya padanya.


Hanya saja pertanyaan itu tertahan di tenggorokan dan ditelan kembali. Lupakan saja, pembicaraan ini memang penting.


Ketiganya berada di sebuah ruangan yang tenang. Duduk saling berhadapan sambil menyediakan tiga cangkir teh mahal yang sengaja disiapkan untuk menjamu tamu.


"Maafkan saya harus membawa Nona Qing dan Raja Yi ke tempat ini. Masalahnya terlalu rumit. Lagi pula masalah ini sudah terkubur bersama saya selama bertahun-tahun," jelas Nyonya Pei langsung menghela napas panjang.


Qing Mao secara alami tidak mengeluh tentang masalah ini dan menyesap tehnya dengan tenang. Tidak ada yang spesial dari teh tersebut namun dia tahu jika teh yang dikeluarkan Nyonya Pei masih yang paling mahal.


"Tidak apa-apa. Kami datang karena sangat penasaran kenapa Nyonya tahu tentang buku tersebut," kata Qing Mao juga tidak menunjukkan sikap kekanak-kanakannya.


"Ceritanya panjang."


Saat Nyonya Pei melihat Qing Mao, rasanya dia teringat dengan wanita yang selalu tersenyum ramah pada semua orang. Lalu memperlihatkan bayi perempuannya yang masih berusia kurang dari empat bulan.


Wanita yang selalu tersenyum itu sangat baik dan menyayangi orang-orang disekitarnya, tak terkecuali untuk Nyonya Pei.


"Aku dan ibumu adalah teman baik," kata Nyonya Pei mencoba untuk menekan rasa sedihnya di masa lalu.

__ADS_1


Qing Mao terdiam. Dia sebenarnya bukan Qing Mao dari zaman ini tapi kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Apakah ini karena reaksi alami terhadap Qing Mao yang asli sebelumnya?


"Ibumu sangat cantik, dia berbakat dan disukai banyak orang. Meski keluarga ibumu waktu itu tidak ada di negara ini, namun karena kecantikannya, kaisar juga tidak menunjukkan sikap yang keras, membiarkan ibumu menikah dengan keluarga Qing," tutur wanita itu lagi seraya memegang cangkir teh dengan gemetar kecil. Dia menyingkirkan formalitas sebelumnya.


"Ketika kamu lahir, keluarga Qing sangat gembira. Mereka memanjakanmu dengan baik. Mungkin kamu ingat?" Nyonya Pei menatap Qing Mao yang terdiam sejak awal. Lagi pula, Qing Mao dibesarkan hingga usia dua belas tahun sebelum keluarga Qing dijatuhi hukuman mati.


Gadis itu mengangguk kecil. Dia tahu, samar-samar ingat. Keluarganya memang sangat baik tapi tidak menemukan kelainan apapun. Dia hanya ingat dengan jelas jika kakeknya sangat memanjakan dirinya sendiri dengan penuh kasih sayang.


"Lalu di mana masalahnya tentang buku itu terkait denganku?" tanya Qing Mao tidak yakin.


"Itu diketahui setelah orang tuamu membawamu ke kuil dan bertemu seorang biksu. Pada saat itu kamu masih bayi merah. Datanglah ke kuil terdekat untuk meminta berkah para dewa. Ramalan itu disebutkan dan ..." Nyonya Pei sedikit tidak yakin. Apakah gadis itu akan percaya atau tidak, dia masih harus mengatakannya. "Dan biksu itu berkata bahwa kamu adalah reinkarnasi dari wanita kultivator yang sangat berbakat di masa lalu, bernama Qing Mao."


Pada saat itu, Nyonya Pei mendapatkan cerita tersebut dari keluarga Qing karena dia juga mengantar mereka ke kuil. Jadi dia tahu banyak. Mengetahui bahwa putri mereka adalah reinkarnasi dari wanita berbakat di masa lalu, akhirnya keluarga Qing menamai bayi perempuan itu dengan nama Qing Mao.


Mendengar cerita itu, Qing Mao tertegun. Yang membuatnya bingung adalah masalah reinkarnasi. Apa maksudnya? Dia adalah Qing Mao dari zaman modern, seorang mantan prajurit khusus yang secara tidak sengaja mengambil cincin batu giok hijau dari Museum Nasional Tiongkok.


Semakin dia mendengarkan, pikirannya kacau. Gu Yihao juga serius tentang masalah ini dan menyipitkan matanya.


"Keluarga Qing memiliki rahasia dan juga ibumu memiliki rahasia. Ketika mereka tahu bahwa kamu adalah reinkarnasi dari Qing Mao, seorang wanita berbakat pada zaman kultivator, kakekmu lah yang pertama kali merasa sangat gembira tapi juga khawatir," jelas Nyonya Pei tidak berani untuk menatap kedua orang yang duduk di seberangnya.


"Kenapa khawatir? Apakah itu tidak baik?" Qing Mao tanpa sadar ingin menggali lebih banyak. Dorongan di hatinya semakin kuat.

__ADS_1


"Tidak, bukan seperti itu. Aku mengetahuinya saat itu jikalau Qing Mao yang disebutkan oleh biksu itu adalah kata terakhir yang disebutkan oleh nenekmu."


"Nenekku?" Qing Mao merasa jika masalah ini semakin melebar.


"Ketika nenekmu meninggal, hanya nama itu yang disebutkan. Mereka bingung dan mencari orang bernama Qing Mao tapi tidak ada. Hingga saat kamu lahir, biksu itu mengatakan nama tersebut, akhirnya diketahui bahwa nenekmu baru saja meramal masa depan," jelasnya lagi semakin meyakinkan.


Tapi Nyonya Pei berkeringat dingin tanpa alasan. Ini adalah rahasia besar yang dia pendam selama ini, sulit untuk menyembunyikannya seumur hidup.


"Keluarga Qing sangat misterius bahkan jika itu bercampur dengan ibu kota. Tapi ada yang menyebut jika keluarga Qing telah berdiri sejak ratusan tahun dan kini menyisakan keturunan lama. Sayangnya ..." Nyonya Pei menggelengkan kepala. "Sejak keluarga Qing dijatuhi hukuman mati satu keluarga karena dituduh berkhianat, semuanya berubah. Kakekmu telah berjasa bagi negara dan meminta token bebas kematian pada kaisar untuk menyelamatkanmu."


Ada keheningan selama beberapa saat hingga akhirnya Qing Mao menyesap tehnya lagi. Di sampingnya, Gu Yihao tidak mengatakan apapun karena dia tahu tentang identitas Qing Mao. Hanya saja tidak menyangka jika keluarga Qing tahu tentang ini dan merahasiakannya sampai sekarang.


"Lalu buku itu, apakah mereka menyimpannya sejak lama?" Kali ini Gu Yihao yang bertanya.


"Oh, ya ..." Nyonya Pei mengangguk. "Lebih tepatnya, nenek Qing lah yang menyimpannya. Mungkin sudah ada sejak nenekmu masih muda. Dari manapun buku itu berasal, tapi memang ditunjukkan untukmu," katanya langsung tersenyum lembut.


Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari sebuah kotak kayu cendana yang telah disiapkan sejak awal. Lalu menyerahkannya pada Qing Mao.


"Apa ini?" Qing Mao mengambilnya dan membuka gulungan. Setelah membaca isinya, dia terkejut. "Ini ... mahar?"


Nyonya Pei mengangguk pelan. "Ini adalah daftar mahar yang dibedikan oleh seluruh keluarga Qing untukmu. Dibuat sebelum hari pemenggalan terjadi. Mereka hanya berharap bahwa kamu akan hidup dengan baik meski keluar Qing tidak lagi menemanimu. Mahar ini ada di tangan kaisar dan kamu bisa datang padanya untuk meminta mahar. Jangan khawatir, kaisar telah bersumpah sebelumnya jika mahar akan diberikan padamu saat menikah," tuturnya panjang lebar, khawatir Qing Mao akan lebih membenci kaisar karena ini.

__ADS_1


"Apa hubungannya ini dengan ayah kaisar?" Gu Yihao mencoba menenangkan emosi Qing Mao yang sedikit salah.


__ADS_2