Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Gejala Keracunan


__ADS_3

PRAJURIT itu sedikit berwajah pucat. Merasa tidak percaya. Dia jelas mengenali wanita yang mati dengan ekspresi ketakutan di wajahnya. Tapi tidak berani bicara, khawatir salah mengenali seseorang dan dicap sebagai orang yang mengutuk anggota Istana Kekaisaran.


Pada akhirnya, dia hanya meminta sang pangeran dan An Daiyu untuk melihatnya sendiri.


An Daiyu adalah orang pertama yang mengalami kejutan. "Ini ... Bukankah ibu selir pangeran kesembilan??!" tanyanya pada Gu Huiling untuk memastikan.


Gu Huiling mengangguk, sedikit bingung pada awalnya. "Benar. Bagaimana bisa dia ada di sini?" Setelah itu, dia segera mengirim penjaga bayangannya untuk memberikan laporan pada Kaisar Gu.


Setahunya, Selir Kehormatan Yi ada di istana dingin sejak lama setelah ketahuan bekerja sama dengan negara tetangga untuk meracuni Gu Yihao. Meski kediaman keluarga Yi ada di ibu kota tapi Selir Kehormatan Yi berasal dari negara tetangga tersebut. Keluarga besar keluarga Yi ada di negara itu.


Jika saat ini mereka tahu putrinya yang menjadi selir kekaisaran telah meninggal akibat dibunuh mayat hidup, sepertinya akan terjadi perselisihan dua negara yang cukup serius. Jadi dia harus melaporkan hal ini pada kaisar terlebih dahulu.


"Apakah ada orang lain di kereta? Mungkin pelayannya?" An Daiyu akhirnya teringat dengan kereta yang kini dalam posisi berguling ke samping.


"Aku akan memeriksa," kata Gu Huiling.


Dia segera menyingkapkan tirai kereta. Di dalam, ada satu orang lagi yang tergelar tak bernyawa. Dari pakaiannya, jelas seorang putri. Mereka sudah menebak siapa itu.


"Yu Yang," kata Gu Huiling tanpa emosi.


Putri Yu Yang atau memiliki nama lengkap Gu Yu Yang ini sebenarnya tidak banyak memiliki kejahatan di tangannya. Dia hanya sombong, sama seperti Gu Wenlian. Keduanya memiliki kemiripan sifat yang serakah dan selalu ingin menjadi yang paling menonjol.

__ADS_1


An Daiyu dan Gu Huiling menggelengkan kepala. Ibu dan anak bernasib sama. Membuat keduanya sedikit kasihan.


Putri Yu Yang meninggal dengan banyak luka cakaran dan perut berlubang. Darah menggenang begitu saja. Ekspresi wajahnya saat meninggal jelas merupakan ketidakpercayaan jika dirinya akan meninggal secepat itu.


Setelah memastikan jika ibu dan anak meninggal, An Daiyu dan Gu Huiling melanjutkan berkeliling sambil membunuh beberapa mayat hidup yang ditemukan.


Obor yang dipegang para prajurit menyinari jalanan sekitar sehingga para mayat hidup enggan untuk mendekati mereka.


Dengan cara ini juga, banyak obor di nyalakan di setiap sisi jalan untuk mencegah mayat hidup memasuki rumah warga atau bersembunyi untuk menunggu mangsa.


Tiba-tiba saja, Gu Huiling kehilangan keseimbangan. Kudanya meringkik kaget dan ketakutan, membuat para bawahannya juga terkejut.


An Daiyu langsung berpikir cepat. "Segera menghindar!" teriaknya pada Gu Huiling.


"Pangeran!"


Para bawahan langsung bergegas untuk melindungi Gu Huiling, mengayunkan obor ke arah sosok jangkung berjubah hitam yang tiba-tiba muncul dari samping Gu Huiling sebelumnya.


Tapi sosok berjubah hitam itu tertawa mengejek. "Manusia tidak berguna!"


"Kamu bahkan manusia yang sudah mati. Berarti kamu juga tidak berguna saat kamu masih hidup!" An Daiyu kembali mengejek makhluk itu.

__ADS_1


"..." Mayat hidup yang memiliki kesadaran itu ingin marah tapi tidak bisa menyangkalnya. Dia dulu juga manusia.


Penjaga bayangan segera menyerang sosok itu dengan menghunuskan pedas. Sosok itu menghindar tapi luka akibat sayatan pedang sama sekali tidak membuatnya kesakitan.


An Daiyu menggunakan obor untuk mengancam mayat hidup yang memiliki kesadaran itu. Belum lagi, ada beberapa mayat hidup saat ini namun tidak seperti yang bisa bicara sebelumnya.


"Pangeran, apakah kamu baik-baik saja?" tanya An Daiyu sedikit khawatir.


Gu Huiling adalah seorang putra mahkota saat ini. Jika keselamatannya terancamnya, dia bisa dihukum karena tidak bisa menjaga pangeran. Namun Gu Huiling menggelengkan kepala. Meski luka di lengannya sedikit menyakitkan, ini hanyalah luka yang tidak seberapa baginya.


"Jangan khawatir. Hanya perlu dibalut, tidak terlalu menyakitkan," kata pria itu sedikit meringis.


Namun wajah Gu Huiling sedikit pucat saat ini


Luka cakaran di lengannya agak menghitam. Sudah dipastikan jika ada gejala keracunan. Melihat hal ini, An Daiyu bahkan lebih terkejut. Cakaran dan serangan dari para mayat hidup itu sebenarnya memiliki racun.


"Aku akan segera mengirim pesan kepada Hyou untuk mengeluarkan racun," kata An Daiyu. Dia segera memerintahkan para prajurit dan oenajga bayangan untuk membakar para mayat hidup.


Sedangkan An Daiyu sendiri mengirim surat burung merpati untuk menyampaikan pesan pada Hyou yang kini juga sedang berpatroli di sekitar perbatasan.


Racun yang menyebar di tubuh Gu Huiling harus segera dikeluarkan.

__ADS_1


Di sisi lain, Hyou melihat seekor burung merpati pengantar pesan datang padanya. Ada gulungan surat kecil di kaki merpati itu.


Saat Hyou melihat isi surat, ekspresinya sedikit cemberut. "Benar-benar merepotkan," gumamnya.


__ADS_2