
QING MAO tidak mau membahas tentang masalah Gu Yihao yang akan mendukungnya untuk apapun. Dia tidak akan luluh oleh kebaikan satu harinya. Lagi pula, kebencian empat tahun yang diberikan oleh cincin batu giok hijau ini membuatnya merasa terlihat telah menjalani banyak kehidupan.
Meski dia akui, ini bukanlah dunianya.
Gu Yihao membiarkan duduk di kursi dan meminta seseorang untuk mengantarkannya ke rumah Qing. Kakinya butuh perawatan sejak kecelakaan di hutan. Kaisar mengetahui ini dari penjaga rahasianya dan hanya bisa menghela napas. Putranya mungkin mencari alasan untuk membuat gadis itu nyaman.
Karena semua orang sudah kembali dengan aman tanpa ada korban, kaisar mengumumkan berakhirnya perburuan musim semi ini. Putri Lailan dan An Daiyu begitu percaya diri karena ada satu hewan buruan yang akan membuatnya menang. Qing Mao yang memberitahukan hal ini pada keduanya.
Di sisi lain ada Gu Huiling yang terlihat tanpa memiliki kesulitan selama perjalanan. Membuat putra mahkota dan Putri Yu Yang merasa ada yang aneh dengan semua ini. Keduanya sudah berusaha keras untuk bisa mendapatkan tempat pertama kali ini. Hewan buruan yang didapat juga banyak. Bisa dilihat jika itu yang terbanyak.
Tapi semua orang tidak kecewa walaupun hasil buruan tidak sebanyak putra mahkota.
"Baik, semua orang telah berkumpul. Penilaian perburuan musim semi kali ini ditentukan oleh negara terdekat kita. Kali ini mereka memiliki penilaian yang cukup unik," kata Kaisar Gu sedikit meninggikan nada bicaranya. "Seperti yang telah diberitahukan sebelumnya, para peserta harus memburu salah satu hewan atau atau binatang unik yang memiliki harga jual tinggi. Semakin tinggi harga jual, maka tinggi juga skor yang didapat."
"..." Semua orang berbisik tentang ini dan ingin tahu siapa yang akan memenangkan perburuan.
Gu Yihao terlihat santai dan tidak merasa harus memenangkan perburuan. Dia masih mempertahankan sikapnya yang tenang. Tapi mungkin ... Sebagian pangeran tidak setenang dia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah, Qing Mao mengompres kakinya dengan air hangat. Hyou membantunya untuk membuat obat agar sakit kakinya bisa sembuh lebih cepat. Laki-laki itu menggelengkan kepala dan sedikit tidak mengerti apa yang dipikirkan Gu Yihao sebenarnya.
Gadis itu duduk di dekat perapian dan melihat jam dinding. Sudah hampir malam. Seharusnya acara perburuan musim semi sudah berakhir. Dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Hyou saat ini dan memiliki rahasianya tersendiri. Gadis itu menyesap susu hangatnya, lalu melirik jam dinding lagi. Hyou yang melihatnya pun menjadi sedikit tidak sabar.
“Kamu ini menunggu kabar dari pangeran kesebelas atau pengumuman resmi perburuan musim semi?” tanyanya dengan tidak sabar.
__ADS_1
“Tentu saja pengumuman perburuan musim semi. Kenapa aku harus menunggu kabar dari pria itu?” cibir Qing mao seraya meletakkan kembali gelas kosong di meja di samping.
“Kalian sudah ditakdirkan. Aku sudah berkata, pasangan cincin batu giok hijau adalah cincin batu giok merah. Kalian tidak bisa dipisahkan hanya karena ketidaksukaan satu sama lain. Lagi pula menurut takdir yang ditulis untuk cincin batu giok itu sudah ada sejak dulu. Ibunya pangeran kesebelas mungkin tahu sesuatu.” Hyou menjelaskan seraya mengganti kompres air hangat di kaki gadis itu.
“Huh, bukankah kamu penjaga ruang cincin?”
“Aku mungkin penjaga, tapi tidak selalu tahu begitu saja.” Dia berkata jujur.
“Tapi ibu Gu Yihao sudah meninggal. Tidak mungkin aku bicara dengan arwah.”
“Kalau begitu kamu cukup menjalani kehidupan yang baik di sini. Cincin batu giok telah memberimu harapan. Lagi pula, kamu yang mencuri cincin ini dari meseum nasional. Ingat?” Hyou terkekeh dan merasa jika dia lebih pandai bicara saat ini.
“...” Qing Mao merasa dituduh dengan kebenaran yang tidak bisa disembunyikan.
Dia ingin menanyakannya pada Hyou, namun khawatir jika jawabannya tidak memuaskan sehingga memilih tutup mulut. Dia tidak mau memikirkan ini sekarang. Tak berapa lama, salah seorang pelayan datang sambil membawa gulungan surat.
“Nona, ini pengumuman resmi kekaisaran tentang acara perburuan musim semi hari ini.” Pelayan itu menyerahkannya pada Qing Mao, lalu pergi lagi untuk mengerjakan pekerjaannya.
Akhirnya apa yang ditunggu tiba juga. Gadis itu segera membuka gulungan lapaoran dan membacanya dengan seksama. Tulisan tangan ini sungguh indah. Sampai sekarang, Qing Mao tidak memiliki kemampuan untuk membuat tulisan tangan seindah itu. Yang menulisnya pasti salah satu kepercayaan kaisar.
Ada cap segel kekaisaran di akhir pengumuman. Seperti dalam rencananya, dia mendapati posisi ketiga. An Daiyu dan Putri Lailan berada di posisi pertama. Lalu Gu Huiling di posisi kedua.
Qing Mao terkekeh dan menggulung lagi surat tersebut dengan hati-hati. Putra mahkota seharusnya muntah darah jika tahu ada di posisi keempat dalam acara perburuan ini. Hyou mengerutkan keningnya lagi dan mengganti kompres air hangat. Gadis itu pasti melakukan sesuatu selama perburuan berlangsung.
“Apa kamu berbuat curang?” tuduhnya.
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Aku baru saja menyusun rencana yang baik agar putri Lailan berada di tempat pertama,” jawabnya.
“Apa yang kamu lakukan untuk itu?”
“Tentu saja tentang binatang buruan. Penilaian kali ini cukup berbeda dari tahun sebelumnya. Siapa yang mendapatkan binatang buruan yang memiliki nilai jual tinggi, maka itulah pemenangnya.” Dia menjelaskan.
“Kamu meminta putri Lailan untuk berburu sesuatu? Apakah rubah merah?”
“Bagaimana kamu tahu?” Gadis itu mengulum senyumnya.
“Rubah merah adalah yang paling mahal di hutan itu. Huh, Gadis. Bagaimana kamu membantunya mendapatkan rubah itu?” Hyou telah selesai mengompres kaki Qing Mao dan meminta pelayan membereskan semua yang tidak dibutuhkan lagi untuk perawatan.
“Hanya dengan menggunakan aroma yang disukainya.” Qing mao tidak terlalu peduli.
Sementara itu, di Istana Raja Yi cukup tenang ….
Gu Yihao duduk di ruang belajarnya sambil menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri. Ada An Daiyu yang tengah memikirkan cara agar tidak kalah dalam bermaian catur. Dia selalu tidak berdaya saat melawan pria itu. Bisakah sedikit lebih berbaik hati membiarkannya menang satu kali?
Lentera dan lilin membuat suasana di dalamnya menjadi lebih serius. An Daiyu membuka kipas lipatnya sambil memindahkan salah satu anak catur.
“Hao Hao, aku khawatir jika pangeran kesembilan akan melakukan sesuatu yang gila untuk menyerangmu. Tampaknya dia marah pada orang yang mengetahui segala tentang dirinya. Apakah kamu tahu siapa yang membantumu diam-diam?” tanyanya tanpa menatap Gu Yihao.
“Dia kehilangan posisinya saat ini dan biarkan Gu Huiling mengambillnya. Masalah tentang siapa yang membantu, aku rasa kamu tak perlu tahu,” jawabnya dengan ekspresi acuh tak acuh.
Akhirnya An Daiyu mengalihkan perhatian dan menatapnya dengan penuh kecurigaan. “Itu artinya kamu tahu siapa yang membantumu? Apakah itu musuh putra mahkota?” tebaknya.
__ADS_1