
"TIDAKKAH kamu ingin mengucapkan terima kasih padaku karena telah mengubah beberapa jalan hidup? Ini tidak mudah. Para dewa mungkin akan menyalahkan ku di masa depan," keluh si laki-laki berjubah merah.
"Ini tugasmu." Gu Yihao tidak membeli keluhannya.
Laki-laki berjubah merah itu tercekik di hatinya. Tuan yang tidak berperasaan ini!
Dia jarang muncul dan bahkan baru terbangun di cincin batu giok merah sebagai roh penjaga. Saat itulah dia tahu, perannya bukan hanya untuk disegani orang tapi juga bisa mengubah situasi masa depan. Hanya saja hal ini hanya bisa dilakukan satu kali.
"Kalau begitu, aku tidak peduli lagi denganmu!" Laki-laki berjubah merah itu akhirnya menghilang, kembali ke ruang cincin batu giok merah.
Gu Yihao mengelus cincinnya dan tersenyum datar. Dia sama sekali tidak kesal dengan perkataan roh penjaga cincinnya.
Tak lama setelah itu, pintu ruang belajarnya dibuka cukup keras dari luar. Gu Yihao agak terkejut mendapati Qing Mao di sana.
Gadis itu sepertinya terlihat sangat bahagia.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Hao Hao, kenapa kamu bilang sebelumnya jika juru masak di istana ini adalah Hyou?!" Gadis itu kesal sekaligus senang saat bertemu dengan laki-laki yang dikenalnya.
Siapa lagi jika bukan Hyou, laki-laki berjubah putih yang kini memegang nampan berisi teko dan cangkir teh. Laki-laki itu tidak berdaya saat melihat Qing Mao. Dia masuk dan meletakkan teko serta cangkir teh di meja kerja Gu Yihao.
"Apakah Mao'er terkejut?" Gu Yihao tersenyum tidak berdaya.
Gadis itu akhirnya tahu tentang keberadaan Hyou yang selama ini ada di istananya. Dia juga terkejut pada awalnya karena Hyou menjadi juru masak di Istana Raja Yi tapi cincin batu giok hijau saat itu masih ada di tangan Han Baimo.
"Tentu saja." Qing Mao akhirnya menangis karena senang.
Dia mengatakan banyak hal pada Hyou saat ini dan menuduhnya karena kejam.
Hyou yang sejak awal juga tidak menyangka akan dilahirkan kembali sebagai roh penjaga berkat bantuan laki-laki berjubah merah—si roh penjaga cincin batu giok merah milik Gu Yihao. Jadi saat melihat Qing Mao lagi, dia tidak memiliki kesombongan seperti sebelumnya. Tampak seperti makhluk yang sejajar.
__ADS_1
"Tuan, senang melihatmu lagi. Hyou juga sangat merindukanmu. Jangan khawatir, semua barang yang ada pada ruang cincin masih sama seperti sebelumnya. Tuan hanya perlu meneteskan darah ke permukaan cincin untuk mengenali pemilik."
Qing Mao ingin memeluk Hyou tapi dicegah oleh Gu Yihao sambil menunjukkan ekspresi kesal.
"Tidak ada pelukan!" bisik pria itu pada istrinya. Sepertinya malam kemarin dia belum berusaha keras untuk membuat istrinya puas.
Pada akhirnya, suasana di Istana Raja Yi terlihat lebih hidup.
Sementara di sisi lain ....
Han Baimo duduk di gazebo halaman belakang istana kekaisaran yang diberikan oleh kaisar. Meski sudah memasuki waktu tengah malam, dia masih duduk santai sambil meminum secangkir teh. Dia tidak sendiri. Seekor kucing putih kecil ada di seberangnya sambil makan ikan goreng.
Chou juga dilahirkan kembali. Dia masih menjadi roh penjaga cincin batu giok putih. Hidup kembali, rasanya menyenangkan.
"Tuan, kenapa memutuskan untuk tinggal di sini?" tanyanya pada Han Baimo.
"Identitasku berubah pada saat bangun. Apa boleh buat." Han Baimo tampak tenang. "Ini juga takdir."
"Setidaknya Chou ku yang paling imut." Han Baimo menggodanya hingga wajah kucing putih itu agak merah.
Setelah itu, Han Baimo menatap langit berbintang. Bukan purnama tampak indah malam ini. Bahkan angin malam yang berembus juga sedikit lebih dingin.
Tak lama lagi, musim dingin akan tiba.
Han Baimo memiliki kemampuan memprediksi masa depan dan masa lalu. Dia juga tahu banyak hal tentang dunia ini.
"Setelah bencana berdarah berlalu, masa depan yang cerah ada di depan mata. Qing Mao dan Gu Yihao akan mengubah sejarah negara ini menjadi lebih baik lagi di masa depan."
Kata-katanya mungkin hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan kucing putih kecil yang sibuk makan ikan goreng.
Benar saja, apa yang dikatakan Han Baimo menjadi kenyataan ....
__ADS_1
Setelah tiga tahun berlalu, sekolah umum didirikan hingga baik laki-laki maupun perempuan bisa sekolah dan mendapatkan pendidikan yang sama. Lapangan pekerjaan banyak dibuka. Wanita dan pria mulai mengalami kesetaraan meskipun memiliki selir tidak dilarang.
Semua ini berkat ide Qing Mao.
Pada tahun ini juga, Qing Mao melahirkan anak pertama di usianya yang ke delapan belas tahun. Seorang anak laki-laki lahir ke dunia hingga Kaisar Gu memberi gelar raja yang akan mewarisi bakat Gu Yihao di medan perang sebagai dewa perang berikutnya.
Sayangnya, pada saat itu juga, Kaisar Gu turun takhta. Lalu Gu Huiling menjadi kaisar berikutnya. Anak pertama Qing Mao dan Gu Yihao justru diasuh oleh pensiunan kaisar.
An Daiyu dan Putri Lailan juga menikah satu tahun yang lalu dan kini tengah mempersiapkan kelahiran anak pertama mereka.
Permaisuri Xue yang kini telah menjadi Putri Xue sangat menantikan cucu yang akan lahir dari putri kesayangannya. Dia akan menjadi seorang nenek.
Negera Quentian menjadi makmur, rakyatnya juga hidup dengan baik bahkan negara lain enggan untuk berurusan dengan Negera Quentian sejak tahu bahwa Gu Yihao masih aktif di barak militer.
Hingga berharap bahwa kedamaian ini akan selalu bertahan selamanya, tanpa adanya pertumpahan darah di masa yang akan datang.
...TAMAT...
...----------------...
NB: Akhirnya selesai. Konfliknya tidak banyak sebenarnya dan tidak terlalu panjang juga. Mohon maaf bila ada kekurangan dan lain sebagainya. Terima kasih sudah setia membaca novel ini dari awal hingga akhir. Silakan membaca novel Author yang lain bila berkenan.
...****************...
...Jika takdir cintamu ada di zaman kuno, bisakah untuk menerimanya?...
...----------------...
^^^Salam hangat, Author^^^
^^^Risa Jey^^^
__ADS_1