
KETIKA Hyou kembali dengan seseorang, Qing Mao tidak terlalu terkejut. Gu Yihao memberi tahunya bahwa An Daiyu akan datang. Tapi dia tidak menyangka akan datang malam ini.
Qing Mao belum selesai makan jadi dia meminta An Daiyu untuk makan malam bersama. Meski dia mencibir dan tidak suka dengan pria yang penuh rayuan ini, setidaknya masih memberi wajah untuk Gu Yihao.
An Daiyu terbatuk kecil, merasa canggung tapi tidak sopan untuk meminta makanan. Jadi dia duduk di samping Han Baimo sebagai tamu kecil.
"Aku sungguh takut sampai mati! Para mayat itu benar-benar mengerikan. Aku bergegas karena khawatir menjadi mayat berjalan besok," kata An Daiyu yang penuh keluhan.
"Bagaimana situasi di luar?" tanya Qing Mao.
"Tidak buruk. Aku hanya diserang mayat hidup saat berada di jalan hutan. Mereka mengepung kami. Untung saja kami menggunakan obor untuk menghalau mereka," jelasnya.
"Sepertinya Gu Wei sudah siap untuk menyerang kita." Qing Mao sudah tidak berselera lagi untuk menyentuh makanan. Dia meminum segelas air.
"Kalau begitu, kita juga harus mempersiapkan segalanya," ujar Han Baimo. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.
Qing Mao melirik An Daiyu yang tengah makan. "Besok, kamu akan memperingatkan para warga agar tetap diam di rumah. Hyou dan Chou akan membuat array penghalang saat kami bertarung sehingga korban tidak akan berjatuhan."
Qing Mao telah membuat pengaturan. Mereka tidak bisa memiliki pendapat apa pun karena ini merupakan satu-satunya cara. Lagi pula, Qing Mao adalah mantan anggota resimen kuno dan telah menjalankan berbagai pelatihan di lapangan.
Gu Yihao secara alami mengikuti apa yang dikatakan Qing Mao. Baginya tidak masalah apakah pengaturannya tepat atau tidak, intinya Gu Wei harus dilenyapkan.
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka pergi ke ruang tamu untuk mendiskusikan rencana lain. Hyou membawa kucing putih kecil milik Han Baimo ke ruangan lain untuk membicarakan sesuatu yang penting.
Keesokan paginya.
Sesuai rencana, An Daiyu bergegas menunggangi kuda menuju istana untuk meminta izin Kaisar Gu terkait dengan rencana yang diberikan Qing Mao. Kaisar Gu tidak memiliki pendapat dan memberikan token perintah. Beberapa pangeran juga telah sibuk akhir-akhir ini terkait dengan masa depan negara Quentian.
Qing Mao dan Gu Yihao pergi ke istana penguasa benua Quentian untuk mengujj kekuatan. Dia yakin jika kemampuannya tidak akan lebih buruk dari pada milik Gu Yihao.
Adapun Han Baimo, pria itu tetap di rumah. Dia mengusap cincin batu giok putih yang tersemat di jarinya lalu memandang langit cerah.
Tidak tahu apakah kali ini akan berhasil atau tidak.
Han Baimo duduk di dekat jendela ruang tamu rumah Qing Mao, meminum secangkir teh dengan tenang. Kucing putih kecil ada di samping teko teh, menjilat punggung tangannya.
"Bagaimana jika itu gagal lagi?" tanya Han Baimo, tersenyum pada laki-laki berjubah putih itu.
"Kamu melihat segalanya. Masih bertanya tentang ini?"
"Nasib bisa diubah tapi takdir tidak bisa. Baik Gu Yihao maupun Qing Mao memiliki takdir cinta di zaman kuno ini. Bahkan jika mereka berpisah sekalipun di bagian dunia lain, mereka akan kembali lagi ke zaman ini. Lihatlah Qing Mao ... Kamu telah membawa dia ke zaman modern tapi pada akhirnya dia harus kembali lagi ke sini. Bukankah sejak awal kamu berniat untuk mengubah takdir mereka?"
Han Baimo berkata secara terus terang. Dia sudah lama ingin mengatakan ini. Awalnya dia tidak terlalu yakin karena penglihatan masa yang akan datang dan masa lalu tidak mungkin selalu akurat sepanjang waktu. Oleh karena itu, dia hanya bisa bertanya secara langsung.
__ADS_1
Melihat dari ekspresi Hyou saat ini, Han Baimo bisa menebak beberapa poin kebenaran. Tidak heran jika Hyou selalu mempertahankan rumah modern Qing Mao saat ini.
Ini bukanlah penampilan asli rumah Qing Mao di zaman kuno. Tapi Hyou sengaja memberikan ilusi terhadap penglihatan gadis itu.
Meski sedikit kejam, tapi ini juga satu-satunya cara agar gadis itu tetap merasakan suasana modern di zaman yang berbeda.
Hyou tidak menyembunyikannya lagi dari Han Baimo. Lagi pula Qing Mao juga tidak ada di rumah saat ini.
"Itu benar. Aku hanya ingin dia lepas dari bencana Gu Wei. Tapi seperti takdir tetap pada tempatnya. Aku dipanggil kembali dan membiarkan gadis itu kembali ke zaman ini. Lagi pula, hidupnya di zaman modern tidak buruk. Itu seharusnya nyaman. Namun siapa yang meminta dia mencuri cincin batu giok hijau dari Museum Nasional Tiongkok?" jelas Hyou penuh keluhan.
Seandainya Qing Mao tidak menyentuh cincin itu atau memakainya, tidak mungkin takdiinya kembali lagi ke sini.
Tapi mungkin para dewa punya rencana. Hati dan tujuan manusia sulit ditebak secara langsung. Tapi para dewa melihat segalanya dari langit.
"Qing Mao telah mati lagi dan lagi dengan berbagai cara menyedihkan karena Gu Wei. Kehidupan terakhirnya, dia mencoba bunuh diri karena cintanya ditolak oleh Gu Yihao. Di kehidupan kali ini, aku tidak ingin terjadi lagi. Tapi Gu Wei sudah dekat dengan kita, membuatku khawatir dengan akhir semua ini," jelasnya lagi penuh emosi.
Hyou hanyalah roh penjaga artefak sejak zaman kultivator. Dia juga tidak berdaya. Tapi untungnya Qing Mao kuat dan memiliki basis kultivasi, tidak seperti di beberapa kehidupan sebelumnya.
Hyou sedikit lebih tenang.
"Sekarang waktu kita tidak banyak ..." Dia melihat pemandangan dari jendela. Indah dan menyegarkan, sayangnya tidak bertahan lama.
__ADS_1