Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Gerhana Matahari


__ADS_3

SAAT HARI yang menjadi mimpi buruk tiba, tidak banyak kegiatan di luar rumah. Istana kekaisaran juga telah menutup pintu gerbang, memperketat penjagaan hingga menghitung banyak waktu.


Pada pagi hari, semuanya baik-baik saja. Matahari masih bersinar terang dan hangat.


Han Baimo telah menetapkan jika gerhana matahari seharusnya terjadi hari ini. Tunggu hingga siang. Matahari akan tepat di atas kepala. Pada saat itulah, gerhana matahari total akan muncul.


Menurut Qing Mao, gerhana matahari umumnya tidak berlangsung lama. Tapi kali ini kemungkinan besar akan tetap berada pada keadaan gelap gulita selama Gu Wei tidak dikalahkan.


Lagi pula, Gu Wei telah hidup alam selama beberapa kehidupan. Dia memiliki cara untuk memanggil kutukan sehingga gerhana matahari total ini akan bertahan selama beberapa waktu.


Pada saat kegelapan tiba, kegelapan Gu Wei juga bangkit.


Qing Mao serta yang lainnya tidak tinggal di rumah, namun pergi ke suatu tempat yang cocok untuk menunggu permainan.


Tapi tanpa diduga, saat pagi hari yang cerah diperkirakan akan bertahan lama, suasana tiba-tiba saja berubah.


Perlahan-lahan, kegelapan mulai muncul padahal tidak awan yang menutupi matahari. Saat ini terjadi, beberapa orang yang ada di luar segera berteriak masuk rumah.


Qing Mao baru saja tiba di lingkaran penyegelan yang dibuat sehari sebelumnya—dibantu oleh Gu Yihao. Lokasinya berada di reruntuhan aula pertemuan yang telah disegel kaisar sejak lama. Tempat itu jugalah yang menjadi saksi pensiunan kaisar dan Gu Wei bertarung di masa lalu.


Tanpa diduga, saat kegelapan tiba, Qing Mao terkejut.


"Apa ini? Begitu cepat?" tanyanya pada Fu Yihao.


Pria itu menyipitkan mata. Dia melirik Han Baimo yang kini mengerutkan kening, seperti sedang menghitung sesuatu di hatinya.

__ADS_1


"Ada apa?" Dia bertanya pada pria berjubah brokat putih itu.


Han Baimo menggelengkan kepala, wajah nya sedikit pucat. "Sepertinya para dewa bermain lagi," jawabnya.


"Jangan salahkan para dewa jika kamu tidak mampu menghitung," kata Gu Yihao.


"..." Han Baimo ingin tersedak sesuatu. Dia juga tahu itu. Ini hanyalah alasan untuk mengelak jika perkiraannya meleset.


"Lupakan saja. Karena gerhana sudah tiba, kita tidak bisa tinggal diam," kata Qing Mao.


Mereka juga melihat bahwa matahari perlahan mulai ditelan oleh bayangan. Saat itu juga, pemandangan di sekitar gelap seperti malam hari. Tidak ada satu pun hewan yang berani berkeliaran ketika itu terjadi.


Embusan angin muncul saat matahari benar-benar terhalang sepenuhnya. Pada saat itu, bunyi ranting-ranting dan daun kering yang dilewati mulai tertangkap oleh indera pendengaran mereka.


Kucing putih kecil di baru Han Baimo segera berubah menjadi laki-laki seusia Hyou. Dia pergi memeriksa sesuatu dan kembali melaporkan hasil pencariannya.


Para mayat hidup itu benar-benar merangkak dari dalam tanah menuju ke tempat di mana pemukim berada.


Untungnya sudah ada array pelindung yang menghalangi mereka agar tidak menyerang manusia. Pada saat itu lah, para mayat hidup yang telah dikendalikan oleh ilmu kegelapan pun menjadi sangat marah.


Lalu ada beberapa utusan mayat hidup menunggangi kuda hitam. Mereka semua menggunakan jubah hitam bertudung besar, wajah pucat yang agak mengerikan serta kuku panjang layaknya penyihir.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Ternyata mereka lebih mementingkan kehidupan manusia kecil?" Salah satu mayat hidup yang lebih kuat memiliki kesadaran penuh, mencibir dan mencoba untuk mematahkan array.


"Ini tidak berhasil. Tuanku tidak bisa datang untuk masalah kecil seperti seperti ini!" Yang lain juga berkata.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, mereka mendengar suara seseorang di belakang. "Siapa yang tahu bahwa mayat hidup juga sangat pintar?"


Para utusan mayat hidup yang memiliki kesadaran tersendiri itu langsung menoleh. Kegelapan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk buta di malam hari. Mereka dibekali dengan kemampuan melihat di malam hari.


Salah satu mayat hidup yang kuat itu mengioitimata. "Siapa kalian?"


Mereka melihat dua orang laki-laki berjubah putih, penampilan tampan dan terlihat sangat agung. Tapi jelas keduanya tidak memiliki aura manusia. Mereka tak bisa merasakan napasnya.


Bahkan suara saja tidak terdengar. Dua orang ini pasti tidak sederhana.


Hyou dan Chou datang untuk mengurus masalah mayat hidup di perbatasan array pelindung menuju kota. Tapi siapa tahu akan bertemu dengan beberapa mayat hidup yang memiliki kesadaran manusia.


Kultivasi mereka tidak kecil tapi juga tidak besar. Gu Wei masih mengendalikannya.


"Tidak penting siapa kami, tapi kami tidak akan mengizinkan kalian memasuki kota," jawab Chou lalu mengeong. Dua telinga kucing putih muncul di atas kepalanya.


Salah satu dari mayat hidup yang lebih kuat terkejut saat melihat hal ini. "Manusia kucing?" gumamnya bingung.


Apakah itu makhluk jadi-jadian sejenis dirinya yang dibangkitkan dari kematian juga? Pikirnya.


"..." Bukan manusia kucing, batin Chou dengan sudut mulut berkedut.


Hyou tidak terpengaruh oleh suasana yang sedikit menghibur. Dia mengeluarkan bensin dan juga korek api yang muncul begitu saja di tangannya.


"Bau apa ini? Kenapa begitu aneh?" tanya Chou bingung. Botol kaca di tangan Hyou memiliki warna yang sedikit berbeda.

__ADS_1


__ADS_2