Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Berendam Di Sungai


__ADS_3

TENTU SAJA topik yang mereka bahas saat ini terlalu malu. Tentang hubungan suami istri. An Daiyu mengeluh tentang kekuatannya saat mendayung wanita simpanan. Atau mungkin wanita simpanan yang terlalu berlebihan. Siapa yang tahu?


Qing Mao tidak mungkin membahasnya meski dia tahu. Lagi pula saat ini tubuhnya berusia lima belas, bukan wanita dewasa tiga puluh tahun. Siapa yang akan percaya bahwa dia memiliki pemahaman tentang itu?


Namun An Daiyu tahu jika Qing Mao pasti bukan dokter obat biasa. "Nona Qing, tidak perlu malu. Kamu adalah ahli. Bahkan jika kamu mengetahui hal-hal tersebut sebelum waktunya, maka lebih baik. Dengan begitu kamu bisa menjaga dirimu di masa depan," katanya dengan senyuman.


Sangat jarang baginya untuk mengatakan beberapa hal baik pada orang lain. Lagi pula, dia juga tidak mau kena marah Gu Yihao.


Putri Lailan menatap An Daiyu dengan pandangan yang agak berbeda. "Tumben sekali mulutmu begitu baik?"


Pria berpakaian merah lembut itu segera menampar mulut saat Putri Lailan menyindirnya. Dia hanya terbatuk ringan, agak malu. Tidak ada yang tahu sifatnya seperti apa. Namun Gu Yihao hanya mencibir saat pria itu sedikit memuji Qing Mao. Dia berharap bahwa An Daiyu adalah seorang impoten.


Tapi tiba-tiba saja Qing Mao membuka suara. "Apakah kamu seorang pria impoten?" tanyanya.


An Daiyu tiba-tiba saja ingin tersandung sesuatu saat Qing Mao bertanya. Pria impoten? Apakah itu begitu cocok? Jelas tidak. Dia tidak mengalami impotensi. Bagaimana bisa seenaknya bicara? Namun menghadapi wajah datar gadis itu, dia tahu tidak bisa menyalahkannya.


Adapun Putri Lailan dan Gu Yihao, juga memikirkan ini. Mungkin saja pria berpakaian merah itu hanya menjual wajahnya yang agak cantik dan mempesona. Tapi sebenarnya seorang pria impoten.


Akhirnya pria yang merasa dituduh oleh tatapan mereka pun segera mengeluarkan kipas lipatnya dan menghela napas.


"Aku tidak seperti itu! Aku normal dan bisa menghamili wanita dalam semalam. Bagaimana bisa memiliki impotensi?" An Daiyu akhirnya menunjukkan ekspresi menyedihkannya. "Nona Qing, aku bisa membuat wanita memohon padaku untuk berhenti mendayung. Tapi kadang aku terlalu bersemangat karena tubuh mereka yang begitu montok!" Dia berkata lagi.


"..." Tiga garis hitam muncul di kepala ketiganya. Tak terkecuali pada penjaga gelap. Pria itu benar-benar berkata secara langsung tanpa adanya rasa malu.


Namun para penjaga gelap An Daiyu ingin menangis tanpa mengeluarkan air mata. Tuan, kamu terlalu tak tahu malu, pikir mereka.


Qing Mao sedikit memerah dan segera membayangkan seekor ayam yang telah dicabuti bulunya. Ayam yang montok juga memiliki daging lebih banyak. Sehingga alih-alih membayangkan wanita seksi di rumah hijau, gadis itu malah membayangkan ayam pedaging.

__ADS_1


Dia tidak mau membahas ini dan segera mengajak mereka melanjutkan perburuan. Qing Mao ingin Putri Lailan memenangkan perburuan kali ini. Tentang masalah Putri Yu Yang dan putra mahkota, Putri Lailan akan melakukan rencananya lain waktu.


Saat ini yang terpenting adalah mencari hewan buruan. Gu Yihao tdiak membunuh semua hewan yang menjadi sasaran. Dia bahkan menangkap seekor kelinci putih gemuk untuk Qing Mao. Gadis itu mungkin pencinta daging. Apapun jenisnya selama normal untuk dimakan. Tapi saat melihat seekor kelinci, dia cukup kasihan.


Kelinci itu tidak berdaya saat Qing Mao memeluknya. Manusia yang satu ini, apakah akan memakannya juga nanti? Pikir kelinci itu sedikit takut.


Mereka terus masuk ke wilayah yang lebih dalam hingga akhirnya menemukan sebuah sungai lagi. Tampaknya ini masih sungai yang sempat mereka temukan di lokasi menginap kemarin.


Mereka beristirahat dan berniat untuk membangun tenda di sekitar sungai. Lagi pula, hari sudah sore lagi. Qing Mao dibantu rutin dari kuda oleh pria itu dan duduk di atas batu yang cukup besar. Kelinci putih yang gemuk itu segera diberi tali pengekang. Dengan begitu, kelinci itu tidak akan lari ke manapun.


Makhluk berbulu putih itu tidak senang dan hanya pasrah berada di dekat Qing Mao. Dia mungkin seekor hewan pemakan rumput dan buah, tapi pikirannya cukup pintar. Belum lagi kelinci putih itu menatap Gu Yihao yang sedang mengasah pisau, jiwa kelincinya langsung merinding.


"Saudara kesebelas, aku ingin mandi," kata Putri Lailan merasa tubuhnya lengket oleh keringat dan debu.


Musim semi ini cukup menyenangkan jika berada di hutan. Beberapa bunga liar bermekaran sehingga mencuci mata mereka. An Daiyu merasa pikiran jahatnya mulai tumbuh ketika Putri Lailan berkata ingin mandi.


Ada sungai di depan mereka. Belum lagi beberapa tempat tersembunyi oleh bebatuan, pohon dan rumput yang tinggi. Jadi jika ingin mandi, tidak akan terlalu sulit.


Putri Lailan akhirnya pergi mandi bersama dengan Qing Mao. Kedua gadis itu pergi ke belakang batu besar yang terdapat genangan air sungai yang jernih dan cukup dalam. Untunglah kaki gadis itu sedikit membaik sehingga tidak ada masalah untuk berenang di tepiannya.


Kelinci putihnya segera dititipkan pada An Daiyu dan Gu Yihao.


"Mao Mao ... Bagaimana bisa punyamu lebih besar daripada punyaku? Buah persikku tidak seindah punyamu," bisik Putri Lailan agak malu. Dia menutupi dadanya dengan kedua tangan walaupun sudah berendam di sungai.


Qing Mao tidak terlalu memedulikan tubuhnya selama ini. Apa bedanya berisi atau tidak?


"Kudengar jika wanita yang memiliki tubuh berisi, pria menyukainya," ujar Putri Lailan lagi. Kali ini dia mendekati Qing Mao dan berbisik, "termasuk saudara kesebelas. Walaupun dia raja perang, tapi yakinlah, pikirannya normal untuk menyentuh wanita. Dia terlihat sedang mengejarmu."

__ADS_1


"Siapa yang ingin dengannya? Jangan membahas dia denganku!" Qing Mao mencibir tapi wajahnya merona.


Siapa yang tidak ingin memiliki tubuh bagus? Qing Mao mungkin tidak terlalu memikirkannya karena selama ini berada di resimen bayaran kuno. Sehingga beberapa hal tentang perkembangan tubuh tidak penting. Tugas resimenlah yang lebih penting di matanya.


"Kakak kesebelas ku tampan dan mulai berubah. Mao Mao ... Apakah kamu yakin tidak memiliki rasa suka padanya lagi?" Putri Lailan masih membujuknya meski dia enggan untuk membiarkan mereka bersama.


Namun semakin dia menentang, Gu Yihao mungkin tidak akan menganggapnya sebagai adik perempuan lagi. Lagi pula bagi Putri Lailan, pria itu merupakan satu-satunya yang cukup peduli padanya. Termasuk pada permaisuri.


Keduanya cukup asyik untuk bergosip hingga tanpa sadar jika di balik semak-semak, ada seekor harimau yang mengincar manusia. Hingga akhirnya, Qing Mao yang sensitif terhadap suara pun segera meminta Putri Lailan untuk diam lebih dulu.


"Mao Mao, apakah ada sesuatu? Pengintip?" Putri Lailan sedikit takut dan malu. Citranya sebagai seorang putri tidak bisa ternoda.


"Aku mendengar suara geraman binatang buas," jawab Qing Mao seraya memperhatikan semak-semak di sekitar tepi sungai.


"Mao Mao, jangan bercanda. Kenapa seekor binatang buas ingin mengintip kita mandi? Bukankah itu tidak normal?"


"..." Imajinasimu terlalu berlebihan, pikir Qing Mao dengan sudut mulut berkedut.


Keduanya berwaspada hingga akhirnya Qing Mao bisa melihat sepasang mata yang mengintip dari semak-semak yang cukup rimbun. Belum lagi tubuh belangnya yang khas.


"Itu harimau!" Qing Mao segera meminta Putri Lailan untuk mundur.


Pada akhirnya harimau yang telah lama mengintip menu makan malamnya itu pun segera melompat dan berdiri di tepian sungai untuk mencoba menangkap mangsanya. Dan Putri Lailan pun berteriak ketakutan.


Teriakannya berhasil membuat An Daiyu dan Gu Yihao waspada.


"Qing Mao!" gumam Gu Yihao langsung melemparkan kayu yang tengah dibersihkan untuk membuat tusuk daging. Lalu berlari ke sumber suara teriakan Putri Lailan.

__ADS_1


Sialnya lagi, tusuk daging itu mengenal wajahi An Daiyu yang tengah memegang tali pengekang kelinci putih. Pria sialan! An Daiyu mengumpat dalam hatinya seraya mengelus wajahnya yang sakit.


"Masalah apa lagi sekarang?" tanyanya pada diri sendiri.


__ADS_2