
HATI? Apa pria itu mengajaknya bercanda? Qing Mao merasa agak geli ketika mendengar pertanyaan ini. Namun hatinya selalu mengkhianati apa yang dipikirkan. Wajahnya memerah, tapi bukan karena malu, melainkan sedikit marah.
Setelah pria itu gagal menjalin hubungan dengan Nu Qingge, kini ingin membuka kisah lama. Menurut ingatan yang diwariskan oleh cincin batu giok hijau, ia sudah cukup dipermalukan olehnya. Belum lagi citranya hancur di masyarakat. Pria itu hanya akan menghancurkannya.
"Kenapa aku harus menyimpan dirimu di hatiku? Itu sudah lama sekali, empat tahun. Apakah Yang Mulia Raja Yi berpikir jika aku akan tetap bodoh sepanjang waktu? Pria di dunia ini banyak, bukan hanya kamu." Qing Mao mencibir karena sudah tidak tahan lagi.
Dia mencoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tapi tanpa diduga, Gu Yihao justru merasa terbawa oleh perasaan. Pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa. Tapi yang jelas, semuanya tidak bisa diperbaiki begitu saja.
"Raja masih menyimpan semua barang yang kamu berikan empat tahun lalu. Raja ini tidak pernah membuangnya. Dulu Raja berpikir jika Nu Qingge adalah pemilik cincin batu giok hijau. Tapi ternyata Raja ini salah. Itu kamu ... Kamulah yang memilikinya," kata Gu Yihao seraya menjelaskan semua kesalahpahaman di masa lalu.
Nu Qingge selalu baik dan berturut kata lembut. Tingkah lakunya sopan dan juga terpelajar. Berbeda dengan Qing Mao yang masih memiliki pemikiran muda, hanya berpikir mungkin terobsesi padanya. Makanya Gu Yihao tidak pernah menduga jika cincin batu giok hijau ada pada gadis itu.
Tapi tampaknya Qing Mao sudah berubah total selama empat tahun terakhir sejak dia melihatnya. Gu Yihao tidak lagi memiliki ekspresi wajah kekanak-kanakannya yang dulu selalu terlihat setiap hari. Saat ini, Qing Mao seperti seorang wanita dewasa yang belajar untuk mengenal kehidupan luar.
Ini tidak sesuai dengan usianya. Pengaruhnya di masa lalu begitu besar. Qing Mao ingin mengatakan sesuatu namun terpotong oleh kata-kata Gu Yihao.
"Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Hyou berkata jika takdir cincin batu giok hijau dan merah tidak bisa berubah. Apakah kamu tidak bisa memberiku kesempatan ini?” Gu Yihao sedikit gugup saat ini.
Dalam hidupnya, dia jarang sekali untuk bertanya atau meminta kesempatan pada lawan bicaranya. Terutama jika itu seorang wanita. Baginya, wanita hanya bisa mengikuti kemauan pria. Atau seorang istri yang patuh pada suaminya.
Tapi saat ini dia berada dalam posisi di mana keegoisan harus dikesampingkan. Demi mendapatkan kepercayaan gadis itu, dia harus menundukkan kepala dan memohon. Sayangnya mungkin apa yang dikatakan Hyou benar, Qing Mao bukan gadis yang mudah untuk dibujuk.
Kali ini Gu Yihao mungkin gagal membujuknya. Qing Mao melepaskan cengkeraman tangan pria itu dan mendorongnya untuk menghindar. Dia tidak mau menghabiskan banyak waktu dengannya.
Ia sendiri seorang wanita dewasa. Walaupun kini tubuhnya telah menjadi usia lima belas tahun, tapi pikirannya tidak kecil. Dia mungkin belum pernah merasakan cinta sebelumnya sehingga perasaannya saat ini agak hambar pada Gu Yihao.
__ADS_1
Sayangnya saat Qing Mao hendak berjalan cepat, kedua kakinya mendadak sakit. Dia tertegun dan segera terhuyung ke depan. Gu Yihao langsung meraihnya dengan cepat hingga dia menabrak dada pria itu.
“Seharusnya kami istirahat dan tidak berjalan-jalan lebih dulu. Kakimu belum bisa dipakai untuk berdiri lama,” kata pria itu sedikit berbisik.
“Lepaskan! ”Qing Mao tidak mau menghabiskan waktu dengannya. Ia ingin melangkah kembali tapi kakinya benar-benar sakit. Jika seperti ini, bagaimana bisa dia menjaga Putri Lailan?
Gu Yihao merasa jika gadis itu tidak akan bisa berjalan dengan baik. Atau mungkin tidak bisa berjalan sama sekali. “Apa kamu yakin?” tanyanya.
Ekspresi gadis itu segera berubah dan mencoba menggerakkan kakinya, tapi ternyata sulit. Ia mungkin tidak bisa berjalan sendiri kali ini dan membutuhkan Gu Yihao untuk memapahnya. Tapi sebelum dia berbicara, pria itu sudah membopongnya.
“Hei!” Dia terkejut hingga hampir saja memeluk leher Gu Yihao.
“Aku akan membawamu kembali.” Pria itu segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke gua.
Sejak kapan hubungan keduanya begitu baik? Pikirnya.
Awalnya Putri Lailan terkejut saat bangun dan mendapati dirinya sendirian di gua. Lalu penjaga gelap datang dan berkata jika Gu Yihao pergi mencari Qing Mao yang berada di sungai. Menurut berita yang mereka dapatkan, Qing Mao marah pada An Daiyu hingga menghukumnya di sungai. Dong Mei dan Fan Chen juga tak lebih dari hukuman.
Kini melihat Qing Mao hanya ada bersama Gu Yihao, tampaknya semua itu benar.
“Kalian sudah kembali. Mao Mao … apakah kakimu sakit?” tanya Putri Lailan yang memiliki wajah agak bengkak akibat menangis semalam pun kini sedikit lebih baik. Dia mencoba untuk berpikir positif.
Sebelum gadis itu menjawab, Gu Yihao sudah mewakilinya bicara. “Terlalu lama berdiri hingga kakinya sakit. Apa kamu sudah sarapan?” tanya pria itu bersikap wajar.
“Belum. Kakak Kesebelas juga tahu, aku tidak bisa memasak.” Putri Lailan sedikit malu.
__ADS_1
Ia adalah seorang putri yang dibesarkan langsung oleh permaisuri. Tidak pernah menyentuh dapur apalagi alat-alat masak. Kesehariannya di istana hanyalah belajar menyulam, berpuisi serta yang lainnya. Dia tidak seperti Qing Mao yang bisa memasak.
Sayangnya gadis itu sendiri kini tidak bisa berjalan untuk sementara waktu sampai kakinya merasa baikan. Gu Yihao juga tidak bisa menyalahkannya. Jika dia bukan seorang jenderal di barak militer, mungkin hal memasak bukan bagiannya.
Namun saat di barak militer, semua pasukan harus bisa bertahan diri jika persediaan makanan menipis. Dapur militer tidak selamanya menyediakan makanan saat waktu menghemat mulai jatuh. Jadi mau tidak mau, mereka harus memburu sesuatu untuk dimakan. Atau jika ada, para prajurit bisa membawa ransum.
“Aku akan melakukannya.”
Gu Yihao segera menurunkan Qing Mao dan membiarkannya duduk di dekat api unggun seraya meluruskan kakinya. Setelah itu dia mengambil beberapa daging potong yang telah dibersihkan oleh penjaga gelap. Ini merupakan hari kedua bagi mereka di hutan perburuan. Tapi karena cedera kaki gadis itu, mungkin ia harus membantunya.
Lagi pula Qing Mao merupakan partner-nya saat ini. Tidak tahu apakah dia ingin memenangkan perburuan atau tidak, ia tidak peduli.
Pria itu mulai memanggang daging yang baru saja diburu oleh salah satu penjaga gelap. Sementara hasil buruan kemarin telah dikirim ke tempat kaisar berada untuk dinilai. Tak heran jika banyak warga yang berbondong-bondong untuk melihatnya.
Qing Mao tidak banyak bicara saat ini dan hanya sesekali menanggapi perkataan Putri Lailan. Tapi dia tidak melupakan dua bawahannya yang masih berendam di air sungai. Hanya saja dia akan meminta keduanya untuk naik setelah sarapan nanti.
Dong Mei dan Fan Chen tidak akan kelaparan. Tapi belum tentu dengan An Daiyu bukan? Pria itu mungkin terlahir dengan sendok perak sejak awal sehingga tidak akan terbiasa menahan lapar.
Oleh karena itu, Qing Mao ingin menanyakan ini pada Gu Yihao meskipun enggan. “Apakah pria bermulut bocor itu akan sakit jika telat sarapan?”
Gu Yihao mencibir saat mendengarkan ini dan menggelengkan kepala. “Jangan khawatir, dia sudah sering kubuat kelaparan. Hukuman yang kamu berikan padanya terlalu ringan.”
“Kalau begitu, apa yang sering kamu lakukan untuk menghukumnya?” tanya Putri Lailan seraya menggigit roti isi selai cokelat yang diberikan oleh Qing Mao. Dia sangat ingin tahu dari mana roti enak itu berasal, hanya saja Qing Mao menggelengkan kepala.
Tapi Gu Yihao mungkin bisa menebak jika cincin batu giok hijau memiliki ruang di dalamnya. Jika tidak, bagaimana Hyou bisa muncul dengan bebas di udara kosong?
__ADS_1